Tradisi Bakuras Minangkabau, Bersolekkan Masjid Sambut Ramadan

Sumatera Barat

Tradisi Bakuras Minangkabau, Bersolekkan Masjid Sambut Ramadan

A. Fahri Perdana Lubis - detikSumut
Jumat, 13 Feb 2026 04:33 WIB
(Foto: ilustrasi Gemini ai membersihkan masjid)
Foto: (Foto: ilustrasi Gemini ai membersihkan masjid)
Padang -

Seiring matahari pagi yang mulai membiaskan cahaya di kaki Gunung Singgalang, geliat masyarakat di berbagai nagari di Sumatera Barat tampak lebih sibuk dari biasanya. Bukan di ladang atau pasar, konsentrasi warga kali ini terfokus di rumah-rumah ibadah, mulai dari masjid raya di pusat kabupaten hingga musala kecil di sudut kampung.

Inilah momen tradisi Bakuras, sebuah gerakan gotong royong massal untuk membersihkan dan mempercantik sarana ibadah demi menyambut jamaah tarawih perdana.

Tradisi Bakuras (yang secara harfiah berarti membersihkan secara total hingga ke sudut-sudut sulit) adalah manifestasi nyata dari semangat kolektif masyarakat Minang. Berdasarkan literatur klasik "Alam Takambang Jadi Guru" karya A.A. Navis, masyarakat Minangkabau memandang masjid bukan sekadar tempat sujud, melainkan pusat peradaban, tempat bermusyawarah, dan jati diri sebuah komunitas. Oleh karena itu, memastikan masjid dalam keadaan suci, wangi, dan bersih adalah bagian dari harga diri dan kehormatan sebuah kaum.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lebih dari Sekadar Kerja Bakti

Dalam praktiknya, tradisi yang berlangsung hari ini melibatkan pembagian tugas yang terstruktur secara alami. Kaum pria, mulai dari remaja hingga orang tua, berbagi tugas berat; ada yang membersihkan bak wudhu agar airnya jernih, mengecat ulang pagar yang kusam, mencuci karpet di aliran sungai terdekat, hingga memastikan sistem pengeras suara berfungsi dengan baik untuk kumandang azan dan tadarus sepanjang malam nanti.

Sementara itu, kaum ibu tidak tinggal diam. Mereka biasanya berkumpul di area dapur umum atau teras masjid untuk menyiapkan penganan khas dan minuman hangat bagi para pekerja. Suasana kekeluargaan yang kental ini menciptakan harmoni yang mengharukan, di mana tawa dan canda mengiringi setiap tetes keringat yang jatuh.

ADVERTISEMENT

Manifestasi Kohesi Sosial

Secara sosiologis, Jurnal Pengabdian Masyarakat Universitas Andalas (Unand) pernah mengulas bahwa Bakuras adalah instrumen penguat kohesi sosial yang sangat efektif. Melalui kerja bakti ini, setiap warga-tanpa memandang status sosial-merasa memiliki peran dan tanggung jawab yang sama dalam menyukseskan ibadah Ramadhan. Di sini, ego pribadi dileburkan dalam semangat pengabdian kepada Tuhan dan komunitas.

Kaitan spiritualnya pun sangat dalam. Bagi masyarakat setempat, membersihkan tempat sujud adalah bentuk persiapan batin. Ada keyakinan bahwa kekhusyukan ibadah dimulai dari kenyamanan tempat ibadah itu sendiri. Dengan masjid yang bersih dan harum, diharapkan setiap desah napas zikir dan lantunan ayat suci para jamaah pada malam pertama tarawih nanti dapat terasa lebih meresap ke dalam jiwa.

Kini, seiring hari merambat siang di Kabupaten Agam, masjid-masjid mulai tampak bersinar. Lantai-lantai yang mengkilap dan sajadah yang wangi menjadi saksi bisu kesiapan warga Ranah Minang. Tradisi Bakuras sekali lagi mengingatkan kita bahwa sebelum hati dibersihkan dengan puasa, rumah Tuhan harus terlebih dahulu dimuliakan dan disucikan.

Artikel ditulis A. Fahri Perdana Lubis, peserta maganghub Kemnaker di detikcom

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Wajib Banget Cobain Ini di Minangkabau Culinary Heritage Festival 2025!"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads