Menjelang Ramadan ada satu tradisi masyarakat di Aceh yang terus dijaga hingga kini, yakni kenduri jeurat. Tradisi ini telah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat sebagai bagian dari persiapan menyambut bulan suci.
Kenduri jeurat biasanya dilakukan dengan mendatangi makam keluarga untuk berdoa bersama dan mengenang mereka yang telah meninggal dunia. Tak jarang, keluarga juga membawa hidangan sebagai bentuk kenduri atau perjamuan sederhana.
Lantas, bagaimana sebenarnya pelaksanaan dan makna yang terkandung dalam tradisi ini? Simak selengkapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari laman Perpustakaan IAIN Langsa, Kenduri jeurat telah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat Aceh dalam menyambut bulan Ramadan maupun menjelang Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, tetapi menjadi momen sakral yang sarat makna spiritual dan kebersamaan keluarga.
Secara bahasa, berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), "kenduri" berarti perjamuan makan untuk memperingati suatu peristiwa atau memohon berkah. Sementara "jeurat" dalam Bahasa Aceh berarti kuburan atau makam.
Dari pengertian tersebut, kenduri jeurat dapat dimaknai sebagai kegiatan makan bersama di area pemakaman yang disertai doa untuk sanak keluarga yang telah meninggal dunia.
Menjelang Ramadan, tradisi ini semakin terasa kuat. Banyak keluarga di Aceh berbondong-bondong mendatangi makam orang tua, kerabat, maupun leluhur mereka.
Di antara deretan nisan, lantunan doa dipanjatkan dengan khusyuk, memohon ampunan dan rahmat bagi mereka yang telah lebih dahulu berpulang.
Makna Tradisi Kenduri Jeurat
Tradisi ziarah kubur ini bukan hanya tentang mengenang yang telah tiada, tetapi juga menjadi pengingat akan kefanaan hidup. Suasana makam yang hening seakan mengajak setiap orang untuk merenung, memperbaiki diri, dan mempersiapkan hati menyambut bulan suci Ramadan dengan lebih bersih dan penuh keikhlasan.
Kenduri jeurat juga mencerminkan nilai-nilai Islam yang menekankan pentingnya mendoakan orang yang telah meninggal serta menjaga silaturahmi antaranggota keluarga. Momen berkumpul di makam menjadi ruang untuk mempererat kebersamaan, sekaligus memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.
Di Aceh, kenduri jeurat bukan sekadar tradisi, melainkan warisan budaya religius yang terus lestari. Di antara doa, kenangan, dan kebersamaan, masyarakat Aceh menyambut Ramadan dengan hati yang tertaut pada keluarga, baik yang masih bersama maupun yang telah lebih dulu berpulang.
Artikel ini ditulis Nanda M Marbun, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom
(mjy/mjy)











































