Longsor di lubang raksasa di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah semakin meluas. Tower jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dikhawatirkan akan terdampak.
Manager Komunikasi & TJSL PLN UID Aceh Lukman Hakim mengatakan, PLN bergerak cepat melakukan penyambungan tower darurat pada ruas SUTT 150 kV Bireuen-Takengon Line #2. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi potensi dampak longsor yang semakin hari makin meluas.
"Langkah pengamanan ini dilakukan dengan merelokasi jaringan Tower SUTT No. 76 sejauh sekitar 150 meter ke titik yang lebih aman menjauhi area lubang longsor," kata Lukman kepada wartawan, Jumat (30/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, seiring pelaksanaan pekerjaan tersebut, PLN akan menerapkan manajemen beban pada sistem kelistrikan di wilayah Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah. Pemadaman listrik di wilayah itu direncanakan dilakukan pada Sabtu 31 Januari atau Minggu 1 Februari mulai pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB.
"Langkah ini merupakan bagian dari upaya PLN menjaga keandalan pasokan listrik bagi masyarakat khususnya di wilayah potensi terdampak bencana," ujarnya.
Longsor yang membentuk lubang raksasa saat ini sudah memutuskan jalan lintas Simpang Balik di Bener Meriah dengan Blang Mancung di Aceh Tengah. Tidak jauh dari lokasi longsoran, terdapat satu tiang SUTT milik PLN.
Lubang raksasa itu diperkirakan mulai terbentuk sejak tahun 2000an.
"Tidak ada literasi pasti yang menjelaskan awal mula terbentuknya lubang. Beberapa sumber menjelaskan bahwa lubang kecil sudah mulai terbentuk sejak awal tahun 2000-an. Dimana pergerakan tanah terus terjadi secara bertahap sejak tahun 2004," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah Andalika saat dimintai konfirmasi detikSumut, Kamis (15/1).
Berdasarkan laporan masyarakat, katanya, longsoran yang terjadi di lubang itu meluas sehingga memutuskan akses jalan Blang Mancung-Simpang Balik pada tahun 2006. Sejak beberapa tahun lalu, Dinas ESDM Aceh telah melakukan penelitian sehingga diketahui pergerakan tanah terus meningkat secara bertahap setiap tahun.
Menurutnya, data terbaru Dinas ESDM Aceh, luasan longsoran di lokasi telah mencapai 27.000 meter dan semakin dekat ke jalan lintas. Tim geologi dan survei geofisika ESDM Aceh juga disebut pernah melakukan kolaborasi kajian longsoran tanah tersebut bersama BPBD Aceh Tengah pada tahun 2022.
Hasil kajian yang dilakukan disebutkan longsoran tanah di Kampung Bah berada pada lapisan tanah permukaan dengan zona jenuh air dan didominasi material vulkanik yang mudah mengantarkan air. Pergerakan tanah di lokasi tersebut sangat aktif dan berkelanjutan.
"Wilayah longsoran tanah di Kampung Bah tersebut dikategorikan sebagai zona tinggi rawan pergerakan tanah, sehingga memerlukan penanganan struktural dan non struktural segera dan berkelanjutan," jelas Andalika.
Andalika mengatakan, longsoran tanah yang terjadi di desa tersebut bukan jenis amblesan tanah sinkhole klasik yang terbentuk karena adanya lubang runtuh secara tiba-tiba. Longsoran terjadi karena pergerakan material tanah yang terjadi secara perlahan.
"Berdasarkan data dari ESDM Aceh, pergerakan tanah terus meningkat secara bertahap setiap tahun. Sejak tahun 2011 sudah dimulai pengukuran pertambahan luasan skala longsoran tanah oleh ESDM Aceh," ungkapnya.
