Datangnya bulan Ramadhan selalu menjadi momen yang dinanti umat Islam di seluruh dunia. Bulan suci ini bukan hanya sekadar kewajiban menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari, tetapi juga ladang untuk memanen keberkahan.
Namun, tahukah detikers bahwa syariat berpuasa tidak turun secara instan? Sejarah mencatat bahwa perintah puasa mengalami proses bertahap (tadrij) agar umat Islam tidak merasa berat dalam menjalankannya.
Berikut penjelasan mengenai sejarah puasa Ramadhan, mulai dari kewajiban mengikuti umat terdahulu hingga kemudahan yang diberikan Allah SWT.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengapa Syariat Puasa Turun Secara Bertahap?
Dilansir dari laman NU Online, syariat Islam, termasuk puasa diturunkan secara berangsur-angsur. Tujuannya sangat bijaksana, agar umat Islam yang saat itu baru mengenal agama tidak terkejut (shock) dan tidak merasa keberatan dalam menjalankan perintah agama.
Proses bertahap ini merupakan bentuk kasih sayang Allah SWT, memastikan kesiapan mental dan fisik umat-Nya sebelum menerima kewajiban secara penuh.
Dalil dan Makna Sejarah Puasa Ramadhan
Secara historis, kewajiban puasa Ramadhan tidak terlepas dari peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Momen hijrah ini menjadi titik pijak penyempurnaan syariat Islam.
Perintah kewajiban puasa Ramadhan sendiri mulai turun pada bulan Syaban tahun ke-2 Hijriyah. Perintah ini termaktub dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 183. Berikut lafalnya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183).
Kesinambungan dengan Agama Samawi Terdahulu
Dalam bukunya 'Membumikan Al-Qur'an' (2000), Pakar Tafsir Muhammad Quraish Shihab menjelaskan bahwa puasa bukanlah syariat yang benar-benar baru. Para ulama sepakat bahwa agama-agama samawi memiliki prinsip pokok yang sama dalam akidah dan syariat.
Puasa menjadi metode pelatihan (riyadhah) untuk menahan hawa nafsu yang juga dilakukan oleh umat-umat terdahulu. Tujuannya satu: membentuk pribadi yang bertaqwa.
Peralihan dari Puasa Asyura ke Ramadhan
Sebelum turunnya wahyu yang mewajibkan puasa di bulan Ramadhan, umat Islam sudah mengenal ibadah puasa wajib, yaitu Puasa Asyura (10 Muharram).
Menurut buku 'Risalah Ramadhan' (2008) karya Affandi Mochtar dan Ibi Syatibi, puasa 10 Muharram awalnya dilakukan oleh kaum Yahudi sebagai bentuk rasa syukur karena Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dan kaumnya dari kejaran Raja Firaun.
Sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur yang sama, Nabi Musa berpuasa pada hari tersebut, yang kemudian diikuti oleh umat Islam di masa awal sebelum syariat Ramadhan turun sepenuhnya.
Kesulitan dan Tantangan Puasa di Masa Awal Islam
Salah satu fakta sejarah yang jarang diketahui adalah betapa beratnya aturan puasa pada masa permulaan Islam.
Pada awalnya, aturan berbuka puasa sangat ketat:
- Umat Islam hanya boleh makan, minum, dan berhubungan suami istri setelah berbuka hingga waktu Sholat Isya atau tidur.
- Jika seseorang sudah tidur atau waktu Isya telah masuk, maka mereka dilarang makan dan minum hingga waktu berbuka di keesokan harinya.
Aturan ini dirasa sangat berat. Banyak sahabat yang ketiduran sebelum makan malam, sehingga harus melanjutkan puasa tanpa sahur dan berbuka. Hal ini menyebabkan banyak pelanggaran karena ketidaksanggupan menahan kebutuhan biologis dan fisik.
Turunnya Keringanan (Rukhshah) dari Allah SWT
Melihat kesulitan hamba-Nya, Allah SWT kemudian menurunkan Surat Al-Baqarah ayat 187. Ayat ini merevisi aturan sebelumnya dan membawa kabar gembira:
Umat Islam diperbolehkan makan, minum, dan berhubungan suami istri dari waktu berbuka hingga terbit fajar (Subuh).
Turunnya ayat ini disambut dengan sukacita oleh kaum Muslimin. Ini menjadi bukti nyata kasih sayang Allah SWT yang tidak ingin memberatkan hamba-Nya dalam beribadah.
Semoga dengan memahami sejarah ini, ibadah puasa kita menjadi lebih bermakna dan penuh rasa syukur.
