Kota Palembang dikenal sebagai kota tertua di Indonesia dan menyimpan banyak adat dan budaya. Bagi detikers yang suka berwisata, sangat disarankan untuk berkunjung ke Kota Palembang. Inilah panduan 24 jam wisata dan kuliner di Palembang yang wajib disimak!
Palembang menawarkan banyak sejarah dari Melayu Islam, Tionghoa hingga kolonial Belanda. Ada banyak destinasi wisata yang bisa dikunjungi di sini. Namun,bagi pelancong yang baru saja mendarat di Tanah Sriwijaya mungkin akan kebingungan harus mengunjungi apa saja.
Selain destinasi, banyak juga kuliner yang harus dicoba di Palembang, rasa gurih, pedas dan asamnya dijamin akan membuat detikers tidak akan melupakan sensasinya.
Sejarah dan Asal Usul Kota Palembang
Sebelum menjelajahi Kota Palembang, ada baiknya detikers memahami terlebih dahulu sejarah dan asal-usul kota ini.
Mengutip melalui Buku Pempek Sebagai Identitas Palembang karya Farida R Wargadalem, bahwa Kota Palembang berasal dari kata 'Palimbang' yang berarti tanah yang senantiasa digenangi air. Hal ini disebabkan karena Palembang secara geografis berada di kawasan dataran rendah yang banyak endapan lumpur.
Lebih lanjut, jika dikaji secara bahasa kata Palembang terdiri atas dua suku kata yaitu 'Pe' yang berarti tempat atau lokasi dan 'Lembang' yang bermakna air yang merembes, sebab Kota Palembang dikelilingi oleh aliran sungai yang kita kenal sebagai Sungai Musi.
Mengenai sejarahnya, Palembang mulai dikenal sejak abad ke 7 Masehi sebagai Ibukota Kerajaan Sriwijaya, sebab Palembang memiliki kekuatan politik serta ekonomi yang terkenal sejak zaman klasik pada wilayah Asia Tenggara. Hal ini menjadikan Palembang dulunya sebagai kota yang cukup disegani di wilayah nusantara.
Sejarah Kota Palembang tercatat di Prasasti Kedudukan Bukit yang ditemukan oleh Orang Belanda yang bernama C.J Batenburg pada 29 November 1920. Di dalamnya terkandung makna yang menceritakan pembentukan suatu wilayah yang ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai Palembang pada 16 Juni 683 Masehi.
Akses Menuju Tempat Wisata di Palembang
Setelah memahami sejarah Kota Palembang, berikutnya detikers juga harus memperhatikan akses yang ada di Kota Palembang. Jika detikers berangkat dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, kurang lebih waktu tempuh perjalanan hingga ke pusat kota itu 30 sampai 45 menit. Sedangkan, jika detikers turun dari stasiun kereta Api Kertapati, jarak tempuh dari stasiun cukup memakan waktu 20 hingga 30 menit perjalanan.
Apabila telah sampai ke pusat kota, pilihan transportasi akan lebih beragam, mulai dari yang gratis hingga berbayar. Rekomendasi pertama ada Feeder atau layanan tumpangan bebas biaya yang bisa detikers tumpangi kapan saja, kedua ada LRT atau Kereta api ringan yang disediakan pemerintah untuk memudahkan perjalanan seseorang, ketiga ada Transmusi atau bus raya terpadu yang ada di Kota Palembang, dan yang terakhir ada taksi atau ojek online.
Sebelum menggunakan beberapa transportasi umum di atas, detikers juga harus memahami jam operasional serta tiket atau biayanya. Untuk menggunakan LRT, detikers cukup merogoh kocek Rp 5.000 hingga Rp 10.000. Untuk jam operasionalnya mulai dari pagi hari hingga sore. Sedangkan Transmusi dan Feeder jam operasionalnya mulai dari 05.00 hingga 21.00 WIB, untuk tarif biayanya gratis.
Panduan 24 Jam Berwisata dan Kuliner di Kota Palembang
Ikuti Rekomendasi Ini, maka detikers tidak akan melewatkan setiap jengkal destinasi yang wajib dikunjungi jika ke Palembang. Berikut rinciannya.
1. Pasar Cinde
Untuk rekomendasi pertama ada pasar cinde,detikers bisa datang di jam 03.00 hingga 07.00 WIB untuk berburu aneka jajanan pasar dengan harga murah. Setelah berburu jajanan untuk mengisi perut, detikers bisa melanjutkan perjalanan ke pasar antik cinde yang menjual banyak barang antik dan barang-barang lawas. Jika beruntung detikers bisa menemukan benda-benda peninggalan sejarah yang ditemukan warga saat memancing di Sungai Musi.
2. Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo
Usai berkeliling dan mencari sarapan di Pasar Cinde, detikers bisa naik transportasi umum ke Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo untuk beristirahat dan beribadah sholat dhuhur sebentar.
Tidak ada tiket masuk ke sini, hanya saja beberapa pengurus akan meminta sumbangsih dan itu boleh diisi sesuai dengan kemampuan.
Biasanya di sekitaran masjid banyak penjual kaki lima yang menjajakan makanan dan olahan kerupuk khas Kota Palembang. Jika detikers pergi di hari Jumat, maka akan menjumpai penjual yang menjajakan gulo puan, makanan langkah khas bangsawan di Kota Palembang.
3. Monpera
Berjalan sedikit dari Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo, detikers akan menemui Museum Monpera, Monpera memiliki luas tanah seluas 23.565 meter persegi, dengan luas bangunan 3.926,4 meter persegi. Beberapa arsitektur bangunan ini memiliki filosofi sendiri. Dimulai dari bentuk bangunan yang menyerupai melati sebagai lambang kesucian dan ketulusan pahlawan perjuangan.
Untuk masuk ke Monpera tidak ada tiket khusus, tapi bagi detikers yang mau berkunjung akan dianjurkan membayar atau memberikan sumbangsih sesuai dengan kemampuan.
Monpera memiliki berbagai koleksi dan sarana edukasi, terdiri dari foto-foto zaman dahulu, senjata, uang lama, patung dan baju dinas pahlawan. Tersedia juga beberapa sarana peninggalan sejarah yang meliputi:
- Ruang Pamer Tetap
- Ruang Auditorium
- Ruang Perpustakaan
- Ruang Laboratorium/Konservasi
- Ruang Penyimpanan Koleksi
- Ruang Bengkel
- Ruang Administrasi
- Ruang Audio Visual
- Selain itu ada juga beberapa fasilitas yang bisa digunakan disini, di antaranya:
- Taman bermain
- Air mancur menari
- Lighting
- Taman bermain anak-anak
- Toilet
- Spot foto instagramable