Panduan 24 Jam Wisata dan Kuliner di Palembang

Sumatera Selatan

Panduan 24 Jam Wisata dan Kuliner di Palembang

Rhessya Maris - detikSumbagsel
Rabu, 21 Jan 2026 01:01 WIB
Panduan 24 Jam Wisata dan Kuliner di Palembang
Foto: Jembatan Ampera di Palembang (Kurnia/detikTravel)
Palembang -

Kota Palembang dikenal sebagai kota tertua di Indonesia dan menyimpan banyak adat dan budaya. Bagi detikers yang suka berwisata, sangat disarankan untuk berkunjung ke Kota Palembang. Inilah panduan 24 jam wisata dan kuliner di Palembang yang wajib disimak!

Palembang menawarkan banyak sejarah dari Melayu Islam, Tionghoa hingga kolonial Belanda. Ada banyak destinasi wisata yang bisa dikunjungi di sini. Namun,bagi pelancong yang baru saja mendarat di Tanah Sriwijaya mungkin akan kebingungan harus mengunjungi apa saja.

Selain destinasi, banyak juga kuliner yang harus dicoba di Palembang, rasa gurih, pedas dan asamnya dijamin akan membuat detikers tidak akan melupakan sensasinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejarah dan Asal Usul Kota Palembang

Sebelum menjelajahi Kota Palembang, ada baiknya detikers memahami terlebih dahulu sejarah dan asal-usul kota ini.

Mengutip melalui Buku Pempek Sebagai Identitas Palembang karya Farida R Wargadalem, bahwa Kota Palembang berasal dari kata 'Palimbang' yang berarti tanah yang senantiasa digenangi air. Hal ini disebabkan karena Palembang secara geografis berada di kawasan dataran rendah yang banyak endapan lumpur.

ADVERTISEMENT

Lebih lanjut, jika dikaji secara bahasa kata Palembang terdiri atas dua suku kata yaitu 'Pe' yang berarti tempat atau lokasi dan 'Lembang' yang bermakna air yang merembes, sebab Kota Palembang dikelilingi oleh aliran sungai yang kita kenal sebagai Sungai Musi.

Mengenai sejarahnya, Palembang mulai dikenal sejak abad ke 7 Masehi sebagai Ibukota Kerajaan Sriwijaya, sebab Palembang memiliki kekuatan politik serta ekonomi yang terkenal sejak zaman klasik pada wilayah Asia Tenggara. Hal ini menjadikan Palembang dulunya sebagai kota yang cukup disegani di wilayah nusantara.

Sejarah Kota Palembang tercatat di Prasasti Kedudukan Bukit yang ditemukan oleh Orang Belanda yang bernama C.J Batenburg pada 29 November 1920. Di dalamnya terkandung makna yang menceritakan pembentukan suatu wilayah yang ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai Palembang pada 16 Juni 683 Masehi.

Akses Menuju Tempat Wisata di Palembang

Setelah memahami sejarah Kota Palembang, berikutnya detikers juga harus memperhatikan akses yang ada di Kota Palembang. Jika detikers berangkat dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, kurang lebih waktu tempuh perjalanan hingga ke pusat kota itu 30 sampai 45 menit. Sedangkan, jika detikers turun dari stasiun kereta Api Kertapati, jarak tempuh dari stasiun cukup memakan waktu 20 hingga 30 menit perjalanan.

Apabila telah sampai ke pusat kota, pilihan transportasi akan lebih beragam, mulai dari yang gratis hingga berbayar. Rekomendasi pertama ada Feeder atau layanan tumpangan bebas biaya yang bisa detikers tumpangi kapan saja, kedua ada LRT atau Kereta api ringan yang disediakan pemerintah untuk memudahkan perjalanan seseorang, ketiga ada Transmusi atau bus raya terpadu yang ada di Kota Palembang, dan yang terakhir ada taksi atau ojek online.

Sebelum menggunakan beberapa transportasi umum di atas, detikers juga harus memahami jam operasional serta tiket atau biayanya. Untuk menggunakan LRT, detikers cukup merogoh kocek Rp 5.000 hingga Rp 10.000. Untuk jam operasionalnya mulai dari pagi hari hingga sore. Sedangkan Transmusi dan Feeder jam operasionalnya mulai dari 05.00 hingga 21.00 WIB, untuk tarif biayanya gratis.

Panduan 24 Jam Berwisata dan Kuliner di Kota Palembang

Ikuti Rekomendasi Ini, maka detikers tidak akan melewatkan setiap jengkal destinasi yang wajib dikunjungi jika ke Palembang. Berikut rinciannya.

1. Pasar Cinde

Untuk rekomendasi pertama ada pasar cinde,detikers bisa datang di jam 03.00 hingga 07.00 WIB untuk berburu aneka jajanan pasar dengan harga murah. Setelah berburu jajanan untuk mengisi perut, detikers bisa melanjutkan perjalanan ke pasar antik cinde yang menjual banyak barang antik dan barang-barang lawas. Jika beruntung detikers bisa menemukan benda-benda peninggalan sejarah yang ditemukan warga saat memancing di Sungai Musi.

2. Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo

Usai berkeliling dan mencari sarapan di Pasar Cinde, detikers bisa naik transportasi umum ke Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo untuk beristirahat dan beribadah sholat dhuhur sebentar.

Tidak ada tiket masuk ke sini, hanya saja beberapa pengurus akan meminta sumbangsih dan itu boleh diisi sesuai dengan kemampuan.

Biasanya di sekitaran masjid banyak penjual kaki lima yang menjajakan makanan dan olahan kerupuk khas Kota Palembang. Jika detikers pergi di hari Jumat, maka akan menjumpai penjual yang menjajakan gulo puan, makanan langkah khas bangsawan di Kota Palembang.

3. Monpera

Berjalan sedikit dari Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo, detikers akan menemui Museum Monpera, Monpera memiliki luas tanah seluas 23.565 meter persegi, dengan luas bangunan 3.926,4 meter persegi. Beberapa arsitektur bangunan ini memiliki filosofi sendiri. Dimulai dari bentuk bangunan yang menyerupai melati sebagai lambang kesucian dan ketulusan pahlawan perjuangan.

Untuk masuk ke Monpera tidak ada tiket khusus, tapi bagi detikers yang mau berkunjung akan dianjurkan membayar atau memberikan sumbangsih sesuai dengan kemampuan.

Monpera memiliki berbagai koleksi dan sarana edukasi, terdiri dari foto-foto zaman dahulu, senjata, uang lama, patung dan baju dinas pahlawan. Tersedia juga beberapa sarana peninggalan sejarah yang meliputi:

  • Ruang Pamer Tetap
  • Ruang Auditorium
  • Ruang Perpustakaan
  • Ruang Laboratorium/Konservasi
  • Ruang Penyimpanan Koleksi
  • Ruang Bengkel
  • Ruang Administrasi
  • Ruang Audio Visual
  • Selain itu ada juga beberapa fasilitas yang bisa digunakan disini, di antaranya:
  • Taman bermain
  • Air mancur menari
  • Lighting
  • Taman bermain anak-anak
  • Toilet
  • Spot foto instagramable

4. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Setelah mempelajari sejarah kolonial belanda di Monpera, berjalan sedikit ke belakang, detikers akan menjumpai Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Museum ini menyimpan 789 buah peninggalan sejarah.

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II dibuka Senin sampai Jumat mulai dari jam 07.30 hingga 16.00 WIB, sementara pada akhir pekan, museum beroperasi dari pukul 09.00 sampai 15.00 WIB. Harga tiketnya cukup beragam, mulai dari Rp 1.000 untuk pelajar, Rp 2.000 untuk mahasiswa, dan Rp 5.000 untuk masyarakat umum, serta Rp20.000 untuk wisatawan asing. Wisatawan yang berkunjung ke sini akan diajak menelusuri perjalanan sejarah Palembang, dari kejayaan Sriwijaya hingga masa kolonialisme.

5. Benteng Kuto Besak

Setelah berkeliling, detikers perlu mencari makan untuk mengisi perut. Tak jauh dari Museum Sultan Mahmud Badaruddin II ada Benteng Kuto Besak, biasanya di sini banyak warung-warung makan terapung yang menyediakan kuliner khas Sumatera Selatan seperti pindang, tempoyak dan lain-lain.

Selain menikmati makanannya, detikers juga sekalian dimanjakan dengan pemandangan sungai musi dan juga ikon Kota Palembang, yaitu Jembatan Ampera.

7. Jembatan Ampera

Dilansir melalui website resmi Pemerintahan Kota Palembang, Jembatan Ampera, yang telah menjadi lambang kota, terletak di tengah-tengah Kota Palembang, menghubungkan daerah Seberang Ulu dan seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Jembatan Ampera dibangun pada tahun 1962 dengan biaya pembangunan yang diambil dari rampasan perang Jepang.

Untuk ke sini, detikers cukup berjalan sebentar dari BKB, tidak perlu menggunakan transportasi umum, detikers bisa menikmati pemandangan Sungai Musi dari atas jembatan. Disediakan tempat duduk, jika detikers kelelahan dan jangan lupa mengabadikan momen saat ke sini.

6. Kampung Kapitan

Destinasi selanjutnya ada kampung kapitan, jika detikers ingin berjalan kaki dari Ampera memerlukan kurang lebih 20 menit perjalanan. Namun, jika detikers ingin menyimpan energi untuk menikmati wisata di Kampung kapitan, bisa menggunakan transportasi seperti ojek online.

Dilansir dari Jurnal The Placelessness of Kampung Kapitan Palembang, wisata ini telah resmi sebagai cagar budaya Kota Palembang sejak 2011, berdasarkan UU RI No.11 tahun 2011 tentang Cagar Budaya. Oleh sebab itu, kampung ini dapat menjadi destinasi wisata detikers saat berada di Palembang.

Pengunjung yang ingin masuk ke dalam Kampung Kapitan dikenakan biaya tiket masuk yang sangat terjangkau. Harga tiket masuk umumnya Rp 5 ribu dan tentunya harga ini dapat berubah sewaktu-waktu.

Setelah berkeliling di Kampung Kapitan, berhenti sejenak untuk menikmati berbagai olahan pempek disini, mulai dari pempek, model, lenggang hingga beragam jenis kuliner lainnya lengkap disini. Siap-siap mungkin saja detikers akan kalap, jangan lupa siapkan uang cash ya!

Selain itu, disini ada fasilitas masjid yang bisa detikers gunakan, jadi selama perjalanan atau menikmati kuliner, detikers tidak perlu khawatir perihal ibadah.

8. Menikmati Perahu Ketek di Sungai Musi

Untuk Menutup Sore, sebaiknya detikers menaiki ketek atau perahu nelayan khas Kota Palembang. Untuk sekali perjalanan detikers cukup merogoh kocek sebesar Rp 20.000 untuk satu putaran. Di sini, detikers cukup berjalan sedikit dari pusat kuliner sebelumnya menuju ke dermaga.

Di dermaga akan banyak nelayan yang menyediakan wisata berkeliling Sungai Musi, detikers bisa memilih perahu atau ketek mana yang ingin dinaiki, estimasi perjalanannya kurang lebih 10 hingga 20 menit.

8. Martabak HAR

Setelah menikmati sore di Komplek Kampung Kapitan, detikers bisa menutup perjalanan dengan memakan Martabak HAR. Kuliner ini merupakan makanan ikonik khas Kota Palembang. Berbeda dengan martabak pada umumnya, Martabak HAR memiliki rasa yang gurih dan asin dari kuah karinya.

Selain itu, dikutip dari website resmi Dinas Pariwisata Kota Palembang, keberadaan Martabak HAR Palembang turut berkontribusi dalam mengangkat pariwisata dan ekonomi kreatif di daerah. Oleh karena itu, menjaga kelestarian resep dan kualitas martabak ini penting agar warisan kuliner ini tetap hidup dan dikenal generasi mendatang.

Untuk detikers yang penasaran dengan rasanya bisa mengunjungi beberapa gerai. Salah satu lokasi utama yang sangat populer adalah di Jalan Jendral Sudirman, yang merupakan pusat keramaian dan perdagangan di Palembang. Lokasi ini mudah dijangkau oleh penduduk lokal maupun wisatawan.

Palembang, merupakan kota yang penuh dengan jejak sejarah mulai dari Kerajaan Sriwijaya, Melayu, Tionghoa, Islam hingga Kolonial Belanda. Selain beberapa destinasi di atas, ada banyak wisata lain yang bisa dieksplor di sini. Semua panduan di atas telah disesuaikan dengan jarak tempuhnya, hal ini bertujuan agar detikers tidak jauh-jauh untuk mengaksesnya dan cukup berjalan saja. Jika ada waktu, jangan lupa berkunjung ke Kota Pempek ya!

Itulah tadi panduan 24 jam berwisata di Kota Palembang, Semoga Bermanfaat dan Sampai jumpa di informasi berikutnya.

Artikel ini ditulis oleh Rhessya Putri Wulandari Tri Maris Mahasiswa magang Prima PTKI Kementerian Agama.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Cicipi Martabak Har Khas Palembang yang Menggugah Selera"
[Gambas:Video 20detik]
(dai/dai)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads