Perayaan Lebaran atau Idulfitri selalu identik dengan berbagai kudapan dan kue yang menggugah selera. Di Palembang, sejumlah kue tradisional juga kerap hadir sebagai sajian khas di meja Lebaran.
Beberapa diantaranya bahkan menjadi primadona, seperti maksuba dan kue delapan jam. dan sisanya meski pendamping merupakan pelengkap yang cocok. Sementara itu, ada pula kue pelengkap yang tak kalah lezat meski namanya belum begitu dikenal luas.
Jika detikers masih bingung menentukan kue apa saja yang hendak disajikan saat Lebaran. Berikut detikSumbagsel sajikan 10 kue khas Palembang dengan cita rasa manis hingga gurih. Yuk simak!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
10 Kue Khas Palembang untuk Lebaran
1. Kue Delapan Jam
Kue Delapan Jam (Foto: Facebook/Agen Pempek) Foto: Istimewa |
Dilansir dari buku Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia oleh Harun Nur Rasyid, kue delapan jam merupakan makanan yang memiliki nilai budaya. Hal ini tercermin dari fungsinya sebagai hidangan dalam upacara keagamaan dan perkawinan.
Kue delapan jam juga memiliki nilai sosial sebagai makanan antaran pada bulan Ramadan. Nama kue ini berasal dari proses pembuatan yang memakan waktu minimal delapan jam dengan cara dikukus.
Dikutip dari laman Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Kemdikbud, proses pembuatan yang lama tersebut melambangkan kesabaran, ketekunan, dan ketelitian. Dahulu, kue ini merupakan hidangan para bangsawan di lingkungan Kesultanan Palembang Darussalam.
Hal ini karena bahan yang digunakan cukup premium serta proses pembuatannya yang rumit. Oleh sebab itu, kue delapan jam biasanya disajikan kepada tamu kehormatan dan menjadi hidangan wajib saat hari raya besar seperti Idulfitri.
2. Bolu Kojo
Bolu kojo merupakan salah satu bolu tradisional yang terkenal di Palembang. Nama kojo berasal dari kata kemojo yang berarti bunga kamboja, karena bentuk loyang yang digunakan dahulu menyerupai kelopak bunga tersebut.
Warna hijau bolu kojo berasal dari perasan daun pandan dan daun suji. Sajian ini melambangkan keharuman dan keindahan alami serta menjadi simbol keramahan dalam budaya setempat.
Bolu kojo kerap disajikan sebagai hidangan jamuan sehari-hari maupun pada berbagai perayaan. Saat Lebaran, kue ini juga menjadi salah satu hidangan khas yang sering hadir di meja tamu.
3. Kue Maksuba
Mengacu laman kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, nama maksuba berasal dari sebuah ungkapan yang berarti pemberian terkasih. Hal tersebut menunjukkan jika kue ini dibuat dengan penuh cinta untuk orang tersayang.
Kue maksuba juga kerap kali disebut mirip dengan kue delapan jam sebab bahan utama pembuatan kue ini mirip. Perbedaannya, terletak di proses pembuatannya dimana maksuba dipanggang selapis demi selapis.
Seperti kue delapan jam, maksuba juga dikenal sebagai kue mewah yang kerap disajikan dalam perayaan besar seperti Idulfitri.
4. Bolu Suri
Bolu suri merupakan jajanan khas Palembang yang sering disebut mirip dengan bika ambon. Meski demikian, keduanya memiliki perbedaan dalam hal tekstur, bahan, dan cita rasa.
Kue ini terbuat dari bahan-bahan yang lebih sederhana dari bika ambon, sehingga cita rasanya lebih ringan. Meski tergolong jajanan tradisional, kue ini tetap dapat disajikan saat Lebaran sebagai pendamping dari kue khas Idulfitri lainnya.
5. Engkak Ketan
Engkak Ketan (Foto: Twitter/@quinnfarah) Foto: Engkak Ketan (Foto: Twitter/@quinnfarah) |
Engkak ketan merupakan kue yang terbuat dari tepung ketan dan santan. Lapisan-lapisan pada engkak ketan, melambangkan keeratan hubungan keluarga dan persaudaraan, sejalan dengan sifat lengket dari tepung ketan.
Sama seperti kue mewah lainnya, engkak ketan dipercaya berasal dari lingkungan keraton dan menjadi hidangan kaum bangsawan pada masanya. Hingga kini, kue ini masih sering disajikan sebagai hidangan khas saat Lebaran.
6. Kue Lepet
Meski lepet dikenal di berbagai daerah Melayu, lepet Palembang memiliki kekhasan tersendiri. Dalam filosofi masyarakat Melayu, Lepet melambangkan persatuan dan keeratan, yang disimbolkan oleh ketan yang lengket serta ikatan janur yang kuat.
Sebagai salah satu hidangan pelengkap saat Lebaran, lepet sering disajikan bersama makanan khas lain seperti rendang atau opor.
7. Lapis Legit
5 Lapis Legit Legendaris, Ada yang Eksis Sejak 75 Tahun Lalu Foto: Google Review |
Lapis legit telah dikenal luas di berbagai daerah, namun masyarakat Palembang juga menjadikannya sebagai hidangan khas saat Lebaran. Bahkan, kue ini sering masuk dalam jajaran kue basah elit bersama maksuba dan kue delapan jam sehingga kerap disebut sebagai "tiga serangkai" kue khas Palembang.
Lapis legit khas Palembang memiliki tekstur yang sangat lembap sehingga rasanya terasa kaya dan gurih. Bahkan, menyantap beberapa potong saja sudah cukup mengenyangkan.
8. Lapis Kojo
Lapis kojo kerap dianggap sebagai saudara kembar dari bolu kojo karena kesamaan wangi dan aroma pandannya. Tetapi, secara kasta, lapis kojo lebih tinggi sebab proses pembuatannya dipanggang selapis demi selapis, mirip maksuba dan lapis legit.
Keunikan lapis kojo terletak pada teksturnya yang lembut, lembab, dan lumer di mulut karena menggunakan telur dan mentega dengan jumlah yang tak sedikit.
9. Kue Srikaya
Sama seperti bolu suri, kue ini lebih cocok dijadikan sebagai kudapan ringan kue lebaran. Kue ini memiliki cita rasa legit dengan tekstur lembut seperti custard.
Penggunaan daun pandan membuat aromanya semakin harum dan menggugah selera.
10. Kue Mentu
Kue mentu merupakan salah satu kue basah khas Palembang yang memiliki cita rasa gurih namun belum banyak dikenal. Bentuknya menyerupai kue talam, tetapi memiliki isian daging cincang di bagian dalamnya.
Dikutip dari detikFood, kue ini mencerminkan akulturasi budaya di Palembang, yaitu perpaduan kuliner Melayu dengan pengaruh Tionghoa dan Arab melalui penggunaan isian daging yang gurih.
Kue mentu juga dapat dijadikan sebagai hidangan Lebaran karena memiliki perpaduan rasa gurih dari santan dan daging serta sedikit manis dari adonan tepung. Kombinasi tersebut membuatnya cocok untuk menyeimbangkan rasa manis dari berbagai kue Lebaran lainnya.
Demikian 10 kue Lebaran khas Palembang mulai dari yang terkenal hingga jarang terdengar. Semoga bermanfaat.
Artikel ini ditulis oleh Bagus Rahmat Nugroho, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.
(dai/dai)














































