Pemerintah Desa Masam Bulau, Tanjung Sakti telah memfasilitasi mediasi antara keluarga bocah yang kemaluan terpotong saat sunatan massal dengan Dinkes Lahat. Lantas apa hasilnya?
Kades Masam Bulau Joni Hartono mengatakan, setelah pihaknya memfasilitasi kedua belah pihak tersebut melakukan mediasi pada Senin (4/12/2023).
"Iya benar, kita telah memfasilitasi keluarga korban dengan panitia dan pihak Dinkes sudah datang ke tempat kita untuk memediasi masalah ini, dua hari yang lalu (4/12)," kata Joni dikonfirmasi detikSumbagsel, Rabu (6/12).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mediasi itu sendiri belum menemui titik terang. Sebab antara kedua belah pihak belum ada keputusan untuk mengambil langkah apa dalam menuntaskan kasus tersebut.
"Belum ada titik temunya, semuanya masih sama-sama berpikir untuk dapat menyelesaikan permasalahan dengan cara yang bagaimana," bebernya.
Menurutnya, keluarga sebenarnya kecewa karena sejak awal peristiwa itu terjadi pada Oktober 2023 lalu, pihak Dinkes seolah tak mau bertanggung jawab. Setelah kasus ini viral dan sampai ke ranah hukum, pihak Dinkes baru bersedia menempuh cara penyelesaian lewat mediasi.
"Kalau dari pihak keluarga, niatan mereka itu karena ini sudah terjadi dan sebenarnya ini tidak akan ke mana-mana (viral dan terendus polisi). Kalau memang setelah kejadian awal itu dari Dinkes sudah langsung respon, dalam artinya sudah ada pendekatan langsung ke pihak keluarga," katanya.
Sementara di sisi lain, lanjutnya, dari Dinkes sendiri saat mediasi itu mengakui akan bertanggung jawab secara medis atas apa yang dialami korban. "Memang kalau dari pihak medis mereka itu bertanggungjawab, secara medis kan," katanya.
Dia menyebutkan kedua pihak sama-sama menginginkan kasus ini diselesaikan dengan cara perdamaian. Akan tetapi, apakah perdamaian itu terkendala masalah nominal pemberian santunan terhadap korban, Joni sendiri enggan menyampaikannya secara gamblang.
"Kalau waktu pembicaraan dua hari yang lewat itu belum ada pihak keluarga menyampaikan soal itu (pemberian santunan). Tapi, dari bahasa mereka itu, baik dari pihak Dinkes juga dari pihak korban, yang istilahnya itu kalau ngomongnya itu 'kucing jangan malu tikus jangan mati'. Arahnya sih ya seperti itu (soal santunan)," bebernya.
Sementara, terkait pihak Dinkes dan panitia yang diduga terlibat dalam insiden itu telah dimintai keterangan di Polres Lahat. Oolisi sendiri tak menampik informasi tersebut.
Menurut Kasat Reskrim Polres Lahat AKP Sapta Eko Yanto proses klarifikasi terhadap pihak-pihak tersebut hingga kini masih berlangsung. "Iya, memang ada. Prosesnya juga masih berlangsung sampai saat ini," kata Sapta, terpisah.
(dai/dai)