Sejarah Tari Tanggai dari Palembang, Busana hingga Gerakannya

Rhessya Maris - detikSumbagsel
Minggu, 11 Jan 2026 22:00 WIB
Foto: Tari Tanggai (YouTube Sanggar Rumah Elok Palembang)
Palembang -

Kota Palembang dikenal sebagai wilayah yang kaya akan peninggalan sejarah Kerajaan Sriwijaya. Salah satu warisan budaya yang masih terjaga keindahannya hingga saat ini adalah tari tanggai.

Jika detikers yang pernah menghadiri acara pernikahan khas masyarakat Palembang, mungkin tidak asing lagi dengan tarian ini. Namun, tari tanggai bukan sekadar gerakan gemulai di atas panggung. Di balik lentiknya jari-jemari para penari, tersimpan narasi sejarah yang panjang dan makna filosofis yang mendalam.

Tapi apa ya makna dibalik tari tanggai? Berikut, detikSumbagsel rangkum informasi lengkapnya. Yuk disimak!

Sejarah Tari Tanggai

Tari tanggai memiliki akar sejarah yang sangat kuat, yang sering dikaitkan dengan masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya. Pada masa itu, tarian serupa digunakan sebagai persembahan untuk dewa-dewa atau sebagai bentuk penghormatan kepada raja dan tamu agung kerajaan.

1. Pengaruh Kerajaan Sriwijaya

Secara historis, tari tanggai merupakan perkembangan dari tarian pemujaan di masa lalu. Gerakannya yang lambat dan penuh konsentrasi mencerminkan ketenangan dan keagungan masyarakat Sriwijaya.

Penggunaan tanggai atau kuku palsu yang terbuat dari tembaga atau emas diyakini sebagai simbol kemewahan dan status sosial yang tinggi pada masa itu.

2. Modernisasi oleh Elly Rudy

Meskipun akarnya kuno, bentuk tari tanggai yang kita kenal sekarang banyak dipengaruhi oleh upaya pelestarian pada abad ke-20. Salah satu tokoh yang berjasa adalah Elly Rudy, seorang seniman Palembang yang menggarap ulang tarian ini agar lebih sesuai dengan konteks zaman tanpa menghilangkan nilai sakralnya.

Dilansir dari Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB), tari tanggai dulunya memiliki durasi yang sangat panjang dan rumit. Namun, berkat Ely Rudy, tari tanggai kini bisa lebih sederhana, walau dipersingkat, makna yang terkandung dalam tari tanggai tetap sama.

Selain itu, tari tanggai sering disebut memiliki kesamaan dengan tari Gending Sriwijaya. Perbedaannya terletak pada jumlah penari dan konteks acara. Tari Gending Sriwijaya biasanya dibawakan dalam acara kenegaraan yang sangat besar dan sakral, sementara tari tanggai lebih fleksibel untuk acara pernikahan atau penyambutan tamu umum.

Makna Tari Tanggai

Mengutip dari jurnal yang bertajuk Makna Simbolik Tari Tanggai pada Upacara Pernikahan Adat Palembang karya Fitriana Dkk, tari tanggai adalah manifestasi dari rasa hormat masyarakat Palembang yang terbuka namun tetap menjunjung tinggi tata krama. Berikut adalah beberapa makna utama yang terkandung di dalamnya:

1. Simbol Penghormatan

Fungsi utama tarian ini adalah sebagai ucapan Selamat Datang. Gerakan tangan yang menyatu di depan merupakan simbol bahwa tuan rumah menyambut tamu dengan hati yang bersih dan tangan terbuka.

2. Makna Tepak dan Sekapur Sirih

Dalam pertunjukannya, salah satu penari akan membawa tepak atau kotak kayu berisi sirih, pinang, dan kapur. Prosesi penyerahan sekapur sirih kepada tamu kehormatan adalah puncak dari tarian ini. Jika tamu mencicipi atau sekadar menyentuh sirih tersebut, itu menandakan bahwa tamu menerima persahabatan dan keramahan dari tuan rumah.

3. Kelembutan dan Kelenturan

Gerakan tari tanggai yang sangat mengandalkan kelenturan jari-jemari menggambarkan bahwa perempuan Palembang memiliki kelembutan hati, kesabaran, dan keanggunan. Kecepatan musik yang lambat menuntut konsentrasi tinggi, yang melambangkan ketenangan dalam bertindak.



Simak Video "Kemendagri Beri Apresiasi Pemerintah Daerah Wilayah Sumatera"


(dai/dai)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork