Sumatera Selatan

Tradisi Mandi Kasai, Upacara Adat Perkawinan Asli Daerah Lubuklinggau

M Rizky Pratama - detikSumbagsel
Selasa, 04 Nov 2025 14:00 WIB
Foto: Tradisi mandi kasai khas Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan (Dok. Istimewa)
Lubuklinggau -

Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan memiliki banyak tradisi unik yang patut dilestarikan. Salah satunya yakni tradisi mandi kasai untuk para pengantin baru yang mengadakan pernikahan.

Upacara adat ini dilaksanakan setelah acara persedekahan selesai diselenggarakan. Tradisi ini merupakan bagian akhir dari rangkaian upacara adat perkawinan daerah Lubuklinggau tempo dulu.

Tradisi mandi kasai di daerah Lubuklinggau ini telah berlangsung sejak abad ke-14, yakni sebelum pengaruh Kesultanan Palembang sampai ke daerah Uluan (Pedalaman Musi Ulu).

Pemandu Museum Subkoss Lubuklinggau Berlian Susetyo menjelaskan dalam tradisi ini, kedua mempelai nantinya akan dimandikan di sungai oleh sanak keluarga serta ketua adat.

"Jadi mandi kasai adalah mandi pengantin, dilaksanakan seusai acara persedekahan atau duduk pengantin para tamu undangan sebagian besar sudah pulang ke rumah masing-masing tepatnya di sore hari," katanya saat dikonfirmasi detikSumbagsel, Senin (3/11/2025).

"Jadi masyrakat baik itu golongan tua maupun muda-mudi ikut menyaksikan acara adat mandi kasai. Menjelang acara mandi kasai, mereka kembali menuju rumah pengantin. Mereka hanya mengenakan pakaian biasa dikarenakan dalam acara ini orang-orang yang menyaksikan akan ikut basah kuyup," sambungnya.

Berlin menjelaskan acara ini sendiri dimulai dengan membawa pasangan pengantin dengan cara diarak menggunakan tandu yang berbentuk angsa bernama Joli Jempano dan ditandu oleh kerabat serta teman-teman pasangan pengantin tersebut menuju ke sungai.

"Arak-arakan tersebut disertai juga dengan musik gong atau rebana serta sorak-sorakan dari sanak keluarga dan teman-teman pengantin. Sesekali tandu tersebut akan diputar beberapa kali sebelum akhirnya sampai di Sungai Kelingi," jelasnya.

Warga menyaksikan tradisi mandi dalam rangkaian pernikahan di Lubuklinggau. Foto: Dok. Istimewa

Setelah sampai di sungai, kata Berlian, nantinya akan berlangsung mandi simburan yaitu di antara yang hadir akan menyemburkan air ke arah masyarakat yang hadir seusai kedua pengantin mandi dan terjadilah simbur-menyimbur air.

Berlian mengungkapkan upacara adat mandi kasai ini mempunyai dua makna yakni kedua pengantin siap melepaskan masa remaja dalam arti kebebasan bergaul di antara bujang-dere (muda-mudi). Setelah menikah mereka ini harus sadar bahwa mereka telah memasuki kehidupan berumah tangga dengan segala aturan tak tertulisnya.

"Kedua, sebelum memasuki kehidupan berumah tangga, kedua pengantin harus bersih dan suci. Saat mandi kasai kedua pengantin diberi nasehat serta diperkenalkan dengan keluarga besar pengantin, Harapan dan orang tua kepada mereka pun diungkapkan. Tentunya harapan agar kedua pengantin akan menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah serta diberikan keturunan yang saleh dan saleha," ungkapnya.



Simak Video "Video Situasi Karhutla Terkini: Titik Api di Kalimantan Naik, Sumatera Turun"


(dai/dai)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork