Ekspor Batu Bara Sumsel Melemah Imbas Permintaan Global Turun

Sumatera Selatan

Ekspor Batu Bara Sumsel Melemah Imbas Permintaan Global Turun

Welly Jasrial Tanjung - detikSumbagsel
Rabu, 11 Feb 2026 13:41 WIB
Ekspor Batu Bara Sumsel Melemah Imbas Permintaan Global Turun
Foto: Ilustrasi batu bara (Rengga Sancaya)
Palembang -

Kinerja ekspor Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) sepanjang 2025 tercatat melemah. Penurunan itu dipengaruhi turunnya nilai ekspor batu bara dan lignit yang selama ini menjadi komoditas andalan Sumsel.

Statistik Ahli Madya BPS Sumsel, Intan Yudistri Pebrina, mengatakan nilai ekspor Sumsel pada periode Januari-Desember 2025 mencapai US$ 6.334,31 miliar. Angka tersebut turun menjadi 5,78% dibandingkan capaian tahun sebelumnya.

Kendati demikian, Intan menjelaskan bahwa sejumlah komoditas nonmigas justru menunjukkan tren positif. Dari sepuluh komoditas nonmigas dengan nilai ekspor terbesar, mayoritas mengalami kenaikan dibandingkan periode yang sama tahun 2024.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kenaikan tertinggi tercatat pada komoditas karet dan barang dari karet, yang meningkat sebesar US$ 130,52 juta atau naik 9,67%," kata Intan, Selasa (10/2/2026).

Namun secara keseluruhan, pelemahan ekspor Sumsel dipicu oleh merosotnya kinerja batu bara dan lignit.

ADVERTISEMENT

"Sepanjang tahun lalu turun, terutama penyebab turunnya itu dari nonmigas yaitu yang terbesar batubara dan lignit," jelas Intan.

Berdasarkan data BPS, batu bara dan lignit masih menjadi penyumbang terbesar ekspor Sumsel, dengan kontribusi mencapai 40,86% atau senilai US$ 2.430,47 juta.

"Akan tetapi, nilai ekspor komoditas tersebut mengalami penurunan 16,46%, setara US$ 478,77 juta," tuturnya.

Intan menyebut turunnya ekspor batu bara dan lignit dipengaruhi faktor eksternal, terutama melemahnya permintaan di pasar global. Hal itu juga sejalan dengan tren transisi energi yang mulai mengarah pada pemanfaatan energi baru dan terbarukan.

"Kalau penurunan (batu bara) karena memang permintaan global. Jadi meskipun kita tetap ekspor, tapi dari permintaan global sendiri yang berkurang," ungkap Intan.

Intan juga menegaskan penurunan ekspor batu bara tersebut tidak berkaitan dengan kebijakan larangan angkutan batu bara melintas di jalan umum di Sumsel.

"Karena memang permintaan yang berkurang, bukan dari kita (Sumsel) yang membatasi angkutan batu bara," tegas Intan.

Sementara itu, berdasarkan data Dinas ESDM Sumsel mencatat produksi batu bara Sumsel selama Januari hingga November 2025 mencapai 104 juta ton.

Dari total produksi tersebut, sebanyak 53 juta ton dialokasikan untuk ekspor, sedangkan 51 juta ton lainnya diserap untuk kebutuhan dalam negeri melalui skema Domestic Market Obligation (DMO).




(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads