Warna-warni ikan hias menghiasi kolam dan waring milik warga di Jalan Yasin Salmah, Lorong A Somad, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang, Sumatera Selatan. Di kawasan yang dikenal sebagai Kampung Ikan Hias ini, warga berupaya mempertahankan usaha budidaya yang dirintis sejak 2017.
Di lahan sekitar satu hektare, warga membudidayakan beragam jenis ikan hias, mulai dari molly, koi, koki hingga golden. Namun, perjalanan usaha mereka tak selalu mulus. Harga pakan yang meningkat, cuaca tak menentu, hingga banjir yang membuat ikan hanyut menjadi tantangan bagi para pebudidaya.
Salah seorang pebudidaya, Sundarianah, mengatakan kawasan tersebut awalnya merupakan daerah rawa. Sebelum mengembangkan ikan hias, warga lebih dulu memelihara ikan konsumsi seperti ikan mas, mujair, patin, lele, dan gurami.
"Awalnya daerah rawa, masyarakat sudah memelihara ikan dulu. Ada ikan mas, mujair, patin, lele, dan gurami," kata Sundarianah.
Pengembangan budidaya ikan hias mulai dirintis pada 2017 melalui program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku), bersamaan dengan pengembangan kawasan Jembatan Pelangi. Warga kemudian melihat peluang untuk mengembangkan ikan hias sebagai sumber penghasilan.
Sebanyak enam kelompok budidaya dibentuk dengan masing-masing kelompok beranggotakan sekitar 10 orang. Pada 2018-2019, warga mendapat bantuan berupa waring, pakan, dan bibit ikan hias.
"Awalnya kami belum tahu pemasarannya ke mana. Setelah ada budidaya ikan hias, pembeli mulai datang, termasuk dari pasar burung," ujarnya.
Sebelum pandemi COVID-19, kawasan tersebut sempat ramai didatangi pembeli. Mereka bisa datang langsung untuk memilih ikan yang diinginkan. Pembeli dari luar daerah, seperti Lubuklinggau, Lampung, dan Musi Rawas Utara, juga pernah datang untuk mendapatkan ikan hias.
Namun, keramaian itu perlahan meredup. Sejumlah warga bahkan harus mencari penghasilan tambahan dengan bekerja sebagai tukang bangunan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Tantangan lain datang dari kenaikan harga pakan. Jika sebelumnya pakan ikan dijual sekitar Rp 8.000-Rp 10.000, kini harganya mencapai Rp 20.000. Kondisi tersebut membuat biaya pemeliharaan semakin membebani pebudidaya.
Belum lagi perubahan cuaca yang dapat memengaruhi kondisi ikan. Saat musim berganti dan kondisi air tidak stabil, ikan berisiko mati. Sementara ketika banjir melanda, ikan di kolam atau waring bisa hanyut terbawa arus.
Meski menghadapi berbagai kendala, warga berusaha membangkitkan kembali usaha mereka sejak 2024. Mereka berharap pemasaran ikan hias bisa kembali berkembang dan menarik lebih banyak pembeli.
Anto (40), anggota kelompok budidaya ikan hias, mengatakan ikan molly menjadi salah satu jenis yang banyak diminati. Selain molly, warga juga memelihara ikan koki dan berbagai jenis ikan hias lainnya.
"Harga molly sekitar Rp 1.000 sampai Rp 5.000, tergantung jenis dan ukurannya," kata Anto.
Pemasaran ikan dilakukan dengan melayani pembeli yang datang langsung maupun pesanan dari luar daerah. Ikan hias dari kawasan tersebut juga dipasarkan ke sejumlah wilayah, termasuk Pendopo dan Prabumulih.
Para pebudidaya berharap ada dukungan untuk memperluas pemasaran agar Kampung Ikan Hias kembali ramai seperti sebelum pandemi. Dengan begitu, budidaya ikan hias di kawasan tersebut bisa terus bertahan dan menjadi sumber penghasilan bagi warga.
"Harapan kami, pemasaran bisa dibantu dan kembali ramai seperti dulu. Jadi, usaha ikan hias ini bisa terus berjalan dan masyarakat juga bisa mendapatkan penghasilan," tutupnya.
Simak Video "Kemendagri Beri Apresiasi Pemerintah Daerah Wilayah Sumatera"
(dai/dai)