ISPA di Lampung Melonjak, 40% Kasus Dialami Anak Usia 0-15 Tahun

Lampung

ISPA di Lampung Melonjak, 40% Kasus Dialami Anak Usia 0-15 Tahun

Tommy Saputra - detikSumbagsel
Selasa, 20 Okt 2026 12:00 WIB
Petugas kesehatan melakukan pemeriksaan kepada pasien di Puskesmas Mekar Sari, Karang Jati, Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (16/10/2026). Dinas Kesehatan Kota Balikpapan mencatat kasus infeksi saluran pernapasan (ISPA) di awal Oktober 2026 mencapai 3.100 kasus atau setengahnya dari September yakni sebanyak 6.100 kasus dan di prediksi akan meningkat jika indeks kualitas udara tetap menunjukan di angka 100-180. ANTARA FOTO/Angga Palguna/sgd
Foto: Ilustrasi ISPA (ANTARA FOTO/Angga Palguna)
Bandar Lampung -

Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Provinsi Lampung meningkat 36,2 persen hingga 19 Oktober 2026. Meski kenaikan ini terjadi saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) berlangsung, belum ada bukti yang memastikan keduanya menjadi penyebab peningkatan kasus tersebut.

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengatakan, kenaikan kasus ISPA sebenarnya telah terpantau sejak Maret 2026. Menurutnya, diperlukan kajian lebih lanjut untuk mengetahui faktor yang memengaruhi peningkatan penyakit tersebut.

"Belum ada bukti epidemiologis yang cukup untuk menyimpulkan bahwa kenaikan kasus ISPA ini berkaitan langsung dengan karhutla maupun aktivitas Gunung Anak Krakatau," kata Jihan, Senin (19/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jihan menjelaskan, penentuan penyebab kenaikan kasus penyakit tidak bisa hanya berdasarkan kejadian karhutla atau aktivitas vulkanik yang berlangsung pada periode bersamaan. Analisis harus mempertimbangkan waktu paparan, persebaran kasus, kondisi lingkungan, serta faktor lain yang berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat.

Berdasarkan data yang dihimpun, influenza dan ISPA mendominasi dengan kontribusi mencapai 80,6 persen dari total kasus penyakit menular di Lampung. Sekitar 40 persen kasus juga ditemukan pada kelompok usia 0-15 tahun.

ADVERTISEMENT

Dari sisi persebaran wilayah, Kota Bandar Lampung mencatat proporsi kasus sebesar 28,61 persen. Sementara itu, Kabupaten Lampung Timur menyumbang 7,19 persen.

Menurut Jihan, perbedaan jumlah kasus antardaerah tersebut perlu ditelaah lebih jauh untuk mengetahui pola penyebaran penyakit dan faktor yang berkontribusi terhadap peningkatannya.

"Data ini perlu dianalisis lebih lanjut sebelum kita menarik kesimpulan mengenai faktor yang menyebabkan peningkatan kasus," ujarnya.

Meski hubungan antara kenaikan ISPA dan karhutla maupun aktivitas GAK belum terbukti, Jihan menegaskan faktor lingkungan tetap perlu menjadi perhatian. Asap kebakaran berpotensi menurunkan kualitas udara akibat partikel halus, sedangkan aktivitas vulkanik dapat memicu paparan abu di wilayah tertentu.

Karena itu, evaluasi perlu dilakukan dengan membandingkan data kualitas udara, waktu paparan, persebaran kasus, serta perkembangan jumlah penderita di setiap wilayah.

Jihan juga menyoroti tingginya proporsi penderita ISPA pada kelompok anak-anak. Dengan sekitar 40 persen kasus terjadi pada usia 0-15 tahun, pemantauan dan langkah pencegahan dinilai perlu terus diperkuat.

"Yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana kita memastikan masyarakat tetap terlindungi, terutama anak-anak. Pemantauan kasus dan upaya pencegahan harus tetap menjadi perhatian, terlepas dari apakah peningkatan ini nantinya terbukti berkaitan dengan faktor lingkungan tertentu," pungkasnya.



(dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads