Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS), Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, terus menjadi perhatian. Titik kebakaran kini berada sekitar 2-3 kilometer dari habitat harimau Sumatera.
Kepala Balai TNBS Yunaidi mengatakan api sejauh ini belum memasuki kawasan hutan primer yang menjadi habitat harimau dan satwa liar lainnya. Namun, jarak kebakaran yang semakin dekat membuat potensi ancaman terhadap habitat satwa dilindungi tersebut perlu diantisipasi.
"Tidak terlalu jauh, mungkin batas sekitar 2-3 kilometer dari jarak habitat harimau," kata Yunaidi, Selasa (29/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yunaidi berharap api tidak merembet hingga ke kawasan hutan primer. Sebab, kawasan tersebut merupakan habitat harimau Sumatera sekaligus menjadi ruang hidup bagi berbagai satwa lainnya.
"Ya, mudah-mudahan tidak menjangkau ke hutan," ujarnya.
Saat ini, area yang terbakar masih didominasi vegetasi berupa semak belukar, alang-alang dan tumbuhan paku-pakuan. Sementara kawasan hutan primer yang menjadi habitat harimau dan satwa mangsanya disebut belum terbakar.
Meski api belum mencapai habitat utama, asap dari karhutla juga berpotensi mengganggu satwa yang berada di sekitar kawasan terdampak.
"Ya, paling tidak sama, dia (hewan) butuh udara juga ya, sesak. Asap itu pengaruh juga itu," jelas Yunaidi.
Di tengah kepungan asap dan kebakaran yang masih berlangsung, keberadaan harimau di kawasan TNBS masih terdengar. Yunaidi mengatakan pihaknya menerima informasi dari operator di kawasan Sembilang yang mendengar suara harimau.
"Kemarin saya ke Sembilang, dari operator di sana, masih mendengar suara harimau," katanya.
Informasi tersebut telah dilaporkan kepada pihak Balai TNBS. Namun, hingga kini belum ada laporan mengenai harimau atau satwa lain yang terdampak langsung akibat kebakaran.
Berdasarkan data pemantauan pada 2022, terdapat sekitar 11 ekor harimau di kawasan Berbak. Keberadaan satwa tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya mencegah api masuk lebih jauh ke kawasan hutan primer.
"Mudah-mudahan api bisa dipadamkan secepatnya disana, dan kita berharap api tidak meluas dan tidak sampai masuk ke hutan primer," tutup Yunaidi.
