Jambi

Puluhan Mahasiswa Jambi Diajak Belajar Langsung Tangani Karhutla

Ferdi Almunanda - detikSumbagsel
Kamis, 17 Sep 2026 10:00 WIB
Foto: Pihak WKS saat berikan edukasi dan pelatihan soal karhutla di lahan gambut di Jambi (Dok. Istimewa)
Jambi -

PT Wirakarya Sakti (WKS) mengajak 20 mahasiswa dari tiga perguruan tinggi di Jambi belajar langsung mengenai pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pembekalan soal pencegahan karhutla ini di lakukan di kawasan Hutan Lindung Gambut (HLG) Londerang, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi.

"Ini tujuannya memberikan kesempatan kepada para mahasiswa untuk memahami secara langsung kompleksitas pencegahan dan penanganan karhutla, termasuk tantangan di lahan gambut," kata Kepala Humas PT WKS sekaligus Ketua APHI Komda Jambi, Taufik Qurochman dalam keterangan tertulis yang diterima detikSumbagsel, Rabu (16/9/2026).

Kegiatan yang diinisiasi PT WKS, unit usaha APP Group itu dilaksanakan bersama Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Komda Jambi. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa berasal dari Universitas Jambi (UNJA), Universitas Muhammadiyah Jambi, dan Universitas Islam Negeri (UIN) Jambi.

"Mahasiswa adalah bagian penting dari agen perubahan. Kami ingin memberikan kesempatan kepada mereka soal bagaimana mengatasi karhutla di lahan gambut ini," ujar Taufik.

Pembelajaran lapangan itu tidak hanya dilakukan melalui pemaparan materi. Para mahasiswa diajak pula melihat langsung kondisi kawasan gambut yang terbakar serta memahami karakteristik kebakaran yang berbeda dengan kebakaran di lahan mineral.

Di tengah kondisi itu, penanganan karhutla kata Taufik, juga tidak hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah membesar. Pencegahan, deteksi dini, kesiapsiagaan, pembasahan gambut dan edukasi menjadi bagian penting untuk menekan risiko kebakaran berulang.

"Pengendalian karhutla merupakan rangkaian yang saling berkaitan, mulai dari edukasi, pencegahan, pemantauan dan deteksi dini, kesiapsiagaan, hingga penanganan di lapangan," ujar Taufik.

Menurut Taufik, kolaborasi pemerintah, TNI, Polri, dunia usaha, masyarakat dan akademisi perlu terus diperkuat. Keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran lapangan diharapkan tidak berhenti pada pengalaman melihat kebakaran, tetapi menjadi pengetahuan yang dibawa kembali ke lingkungan kampus dan masyarakat.

"Harapannya, pengalaman tersebut dapat memperkaya pemahaman mahasiswa dan diteruskan kepada lingkungan kampus maupun masyarakat," terangnya.

Kegiatan edukasi karhutla ini turut didampingi oleh Regu Pemadam Kebakaran (RPK) PT WKS. Para mahasiswa juga diperkenalkan dengan sejumlah peralatan pemadaman seperti pompa, selang dan nozzle.

Mereka juga diberi kesempatan membantu proses pemadaman secara terbatas dengan tetap berada di bawah arahan personel RPK.

"Bagi kami, ini pengalaman yang luar biasa karena bisa melihat langsung kondisi kebakaran di lahan gambut dan ikut membantu proses pemadaman. Dari pengalaman ini kami semakin memahami bahwa pencegahan dan kesiapsiagaan sangat penting," kata Rahman, mahasiswa UIN Jambi.

Mahasiswa Jurusan Kehutanan UNJA, Fadly, mengatakan kondisi di lapangan membuatnya memahami bahwa kebakaran gambut tidak mudah ditangani. Dampaknya pun tidak berhenti di lokasi kebakaran karena asap dapat mengganggu jarak pandang hingga kesehatan masyarakat.

"Kebakaran di lahan gambut ternyata tidak mudah ditangani. Dampak asapnya juga terasa hingga ke kota, baik terhadap jarak pandang maupun pernapasan. Pengalaman ini membuat kami semakin memahami bahwa pencegahan sangat penting agar kebakaran tidak semakin meluas," ujar Fadly.

Hal senada disampaikan Septi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jambi. Menurutnya, turun langsung ke lapangan memberikan pengalaman yang tidak didapat hanya melalui pembelajaran di ruang kelas.

"Kami mendapatkan pengetahuan mengenai pencegahan sekaligus pengalaman melihat proses penanganan kebakaran di lahan gambut. Pengalaman seperti ini membuat kami lebih memahami pentingnya menjaga lingkungan dan mencegah terjadinya kebakaran," kata Septi.

Dalam kegiatan tersebut, Gubernur Jambi Al Haris bersama Danrem 042/Garuda Putih Brigjen TNI Nyamin juga berdialog dengan mahasiswa. Keduanya memberikan pemahaman mengenai pentingnya pencegahan, kesiapsiagaan, pemantauan hingga kolaborasi dalam menghadapi karhutla.

Al Haris juga melihat langsung kondisi HLG Londerang yang kembali terbakar. Kawasan tersebut sebelumnya telah dipadamkan oleh tim gabungan sekitar sepekan lalu, namun kembali muncul kebakaran di bagian lain.

"Seminggu lalu kita sudah lakukan pemadaman di sini. Ternyata hari ini kembali terbakar di sebelahnya," kata Al Haris.

Selain memantau pemadaman, Al Haris dan Danrem turut melihat pengujian dua jenis zat yang akan digunakan untuk membantu penanganan kebakaran gambut. Pengujian tersebut dilakukan untuk melihat efektivitas bahan dalam memadamkan api sekaligus membasahi lapisan gambut agar api tidak mudah kembali muncul.

Sejauh ini, karhutla Jambi nyaris tembus 3.000 hektare. Kondisi HLG Londerang menjadi bagian dari persoalan karhutla yang masih dihadapi Jambi.

Data Satgas Karhutla Provinsi Jambi mencatat luas lahan terbakar sejak 1 Januari hingga 14 September 2026 mencapai 2.998,02 hektare.
Dari luasan tersebut, 2.289,27 hektare merupakan lahan mineral dan 708,75 hektare lahan gambut.

Area terbakar ini tentunya tersebar di sejumlah kabupaten, dengan luasan terbesar berada di Batanghari, Muaro Jambi, Sarolangun, Tanjung Jabung Barat, dan Tebo.

Selain luasan lahan terbakar yang mendekati 3.000 hektare, pemantauan satelit juga menunjukkan tingginya aktivitas titik panas. Secara kumulatif, sejak 1 Januari hingga 14 September 2026 tercatat 7.682 titik hotspot di Provinsi Jambi. Pada 14 September saja terdapat 236 hotspot, dengan 234 titik berada pada tingkat kepercayaan sedang dan 2 titik tingkat kepercayaan tinggi.



Simak Video "Video Situasi Karhutla Terkini: Titik Api di Kalimantan Naik, Sumatera Turun"

(dai/dai)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork