Program 100.000 Sultan Muda menjadi strategi utama Pemprov Sumarera Selatan memperluas akses keuangan sekaligus mencetak generasi muda tangguh, berdaya saing, dan mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan. Program yang digagas Gubernur Herman Deru itu sekaligus menjadi gerakan strategis yang selaras dengan Asta Cita dan RPJMN 2025-2029.
"Program 100.000 Sultan Muda menjadi unggulan TPKAD (Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah) Sumsel karena mampu mengintegrasikan pengembangan kewirausahaan muda dengan perluasan akses pembiayaan, hilirisasi, dan digitalisasi ekonomi," ujar Herman Deru.
Dia menjelaskan, percepatan pelaksanaan program dilakukan melalui kolaborasi bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan himbara, Bank Sumsel Babel, perbankan swasta, dan 17 TPKAD kabupaten/kota di Sumsel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai pusat pembinaan, Pemprov Sumsel bersama OJK Sumsel membentuk Sultan Muda Center yang menjadi wadah bagi para pelaku usaha muda untuk memperoleh pendampingan, coaching, serta fasilitasi akses keuangan.
Deru juga menyebut ada empat strategi utama Program Sultan Muda. Pertama, perluasan akses keuangan, berikutnya penyaluran kredit Sultan Muda, business matching, dan terakhir penguatan ekosistem kewirausahaan. Semangat para Sultan Muda juga tercermin dari nilai pembiayaan yang telah disalurkan mendekati Rp 1 triliun.
Program yang sudah berjalan sejak 1,5 tahun ini menjadikan Sumsel ini sebagai provinsi pertama di Indonesia yang mengukuhkan seluruh TPKAD kabupaten/kota secara nasional.
Menurutnya, Sumsel memiliki potensi ekonomi besar di sektor perkebunan, pertanian, pertambangan, hingga perikanan. Potensi itu diharapkan bisa diperkuat melalui akses pembiayaan produktif, hilirisasi, digitalisasi, serta kolaborasi lintas sektor sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat melalui Program Sultan Muda.
"Hingga saat ini, tercatat sebanyak 10.956 Sultan Muda telah bergabung dalam ekosistem tersebut. Mereka tidak hanya didata sebagai pelaku usaha, tetapi juga difasilitasi untuk memperoleh akses pembiayaan, pendampingan usaha, pengembangan kapasitas, hingga peluang ekspor," kata Deru.
Dampak dari terbentuknya Sultan Muda ini juga terhadap tingkat pengangguran terbuka (TPT). Dia menyebut jika 1 Sultan Muda mampu mengakomodir 5 pekerja, artinya sudah 50 ribuan tenaga kerja terserap.
"Lebih dari itu, bahkan ada Sultan Muda yang memiliki tenaga kerja 50-90 orang. Keberadaan Program Sultan Muda berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan daerah," katanya.
Saat ini, tingkat pengangguran terbuka (TPT) Sumsel tercatat sebesar 3,59 persen, lebih rendah dibandingkan angka nasional. Tingkat kemiskinan juga turun menjadi 9,85 persen dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Sumsel, berada pada level satu digit. Sementara itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 74,76, rasio gini sebesar 0,298, dan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,35 persen.
"TPT kita menurun. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap capaian tersebut adalah Program Sultan Muda. Dari sisi akses keuangan daerah, Sumsel merupakan provinsi yang luas dengan 17 kabupaten/kota, 241 kecamatan, serta 3.258 desa dan kelurahan. Karena itu, dibutuhkan pionir-pionir muda yang mampu mengakselerasi pembangunan. Kelebihan mereka adalah berasal dari generasi Z, milenial, dan generasi alfa yang tentu lebih maju dalam pemanfaatan informasi dan teknologi," ungkapnya.
Deru menegaskan bahwa Program Sultan Muda sangat efektif dalam memperluas akses keuangan sekaligus mengakselerasi perekonomian daerah melalui pembiayaan produktif bagi masyarakat. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah daerah, OJK, dan industri jasa keuangan mampu membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan.
Bahkan, melalui Program Sultan Muda XporA, pembiayaan dihubungkan dengan pengembangan komoditas unggulan daerah. Sementara itu, terbentuknya ekosistem ketertelusuran ekspor mampu memperkuat daya saing produk daerah sekaligus memperluas peluang pasar global.
Deru menjelaskan bahwa hilirisasi telah mulai menghasilkan berbagai produk bernilai tambah, seperti ekspor arang batok kelapa dan pengembangan bioavtur berbahan dasar kelapa yang dikembangkan oleh anak-anak muda di Banyuasin.
