Hotspot di Sumsel Tercatat 1.742 Titik dalam Sehari

Sumatera Selatan

Hotspot di Sumsel Tercatat 1.742 Titik dalam Sehari

Rio Roma Dhoni - detikSumbagsel
Minggu, 23 Agu 2026 20:30 WIB
Sebaran hotspot di Sumsel berdasarkan data Sipongi.
Sebaran hotspot di Sumsel berdasarkan data Sipongi. (Foto: Sipongi/BPBD Sumsel)
Palembang -

Titik panas atau hotspot di Sumatera Selatan (Sumsel) kembali mengalami lonjakan. Berdasarkan data Sipongi, pada Sabtu, 22 Agustus 2026, terpantau sebanyak 1.742 titik hotspot atau naik hampir tiga kali lipat dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 600 titik.

Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman mengatakan peningkatan hotspot terjadi cukup signifikan dalam tiga hari terakhir. Kenaikan mulai terlihat dari 20 Agustus yang tercatat 449 titik, kemudian meningkat menjadi 600 titik pada 21 Agustus, dan melonjak menjadi 1.742 titik pada 22 Agustus.

"Dalam tiga hari terakhir terjadi kenaikan hotspot yang cukup tinggi dan mencatat angka tertinggi sepanjang 2026. Pada 20 Agustus ada 449 titik, kemudian 21 Agustus sebanyak 600 titik dan pada 22 Agustus meningkat menjadi 1.742 titik," katanya, Minggu (23/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hotspot terbanyak pada 22 Agustus terdeteksi di Ogan Komering Ilir (OKI), yakni mencapai 537 titik. Dari jumlah tersebut, sebanyak 149 titik terpantau berada di lahan gambut, sedangkan 388 titik berada di lahan mineral.

Selanjutnya, di Musi Banyuasin (Muba) mencatat 344 titik hotspot. Sebanyak 69 titik berada di lahan gambut dan 275 titik berada di lahan mineral. Muara Enim tercatat 237 titik hotspot, terdiri atas 32 titik di lahan gambut dan 205 titik di lahan mineral.

ADVERTISEMENT

Kemudian di Banyuasin 168 titik dengan 53 titik di lahan gambut dan 115 titik di lahan mineral. Sementara di OKU Timur terpantau 124 titik hotspot dan Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) mencatat 98 titik, terdiri atas 41 titik di lahan gambut dan 57 titik di lahan mineral.

Data tersebut menunjukkan lonjakan hotspot tidak hanya terjadi di wilayah dengan lahan gambut, tetapi juga cukup dominan di wilayah lahan mineral.

"Dari 1.742 titik itu, sebanyak 1.384 di antaranya terdeteksi di laha mineral dan 358 titik di lahan gambut," terangnya.

Pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan hotspot dan kondisi di lapangan. Kenaikan jumlah titik panas menjadi perhatian karena dapat meningkatkan potensi terjadinya karhutla.

Sudirman mengimbau seluruh pihak, khususnya masyarakat yang berada di wilayah rawan karhutla, untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran.

"Hotspot ini terus kita pantau dan menjadi perhatian. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama di daerah yang terpantau memiliki hotspot cukup tinggi," ujarnya.

"Terlebih saat ini air sudah sulit didapatkan oleh tim yang melakukan pemadaman di wilayah yang terjadi karhutla," ujarnya.



(csb/csb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads