Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi hujan di Sumatera Selatan (Sumsel) semakin berkurang dalam sepekan ke depan. Kondisi tersebut diperkirakan berdampak pada meningkatnya jumlah titik panas (hotspot) dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang Siswanto mengatakan kondisi atmosfer di Sumsel pada periode 14-21 Juli 2026 masih didominasi angin timuran atau Monsun Australia. Hal itu membuat kondisi cuaca secara umum cerah hingga berawan.
"Pengaruh monsun Australia masih kuat. Secara keseluruhan, cuaca di wilayah Sumsel pada periode satu minggu ke depan diprakirakan cerah berawan dengan potensi hujan intensitas ringan di beberapa wilayah," ujar Siswanto, Senin (13/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, pada 12 Juli 2026 terdeteksi sebanyak 81 hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang dan 17 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di wilayah Sumsel.
Menurut Siswanto, dengan semakin minimnya curah hujan dalam beberapa hari ke depan, jumlah hotspot diperkirakan akan tetap tinggi, bahkan berpotensi bertambah.
"Diperkirakan dengan menurunnya potensi hujan akan menyebabkan jumlah hotspot cenderung konsisten dan bertambah," katanya.
"Sedangkan suhu udara di Sumsel selama periode tersebut berkisar antara 24-34 derajat Celsius," sambungnya.
Meski demikian, hujan ringan masih berpotensi terjadi di beberapa daerah. Pada 14-16 Juli 2026, hujan ringan diprakirakan turun di Lahat, Pagar Alam, Muara Enim, OKU Selatan, Musi Rawas Utara, dan Musi Rawas.
"Selanjutnya pada 17-21 Juli 2026, potensi hujan ringan diprakirakan terjadi di Muratara, Muba, Muara Enim, PALI, Prabumulih, dan Banyuasin," ungkapnya.
