Gubernur Minta Warga Sumsel Gunakan BBM Subsidi Secara Bijak

Sumatera Selatan

Gubernur Minta Warga Sumsel Gunakan BBM Subsidi Secara Bijak

Muhammad Alyuda Tri Utama - detikSumbagsel
Kamis, 11 Jun 2026 08:30 WIB
Gubernur Sumsel Herman Deru
Foto: Gubernur Sumsel Herman Deru (Muhammad Alyuda Tri Utama)
Palembang -

Harga bahan bakar minyak non-subsidi mengalami penyesuaian. Salah satunya Pertamax, di mana untuk wilayah Sumsel mengalami perubahan dari Rp 12.600 menjadi Rp 16.650.

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menegaskan kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax merupakan konsekuensi dari fluktuasi harga minyak mentah dunia atau Indonesian Crude Price (ICP), sehingga penyesuaiannya mengikuti perkembangan pasar internasional.

"Pertamax itu kan non-subsidi. Jadi kalau harga internasional minyak naik, ya disesuaikan. Yang penting yang bersubsidi tidak naik. Pertalite tidak naik, solar juga tidak naik," kata Herman Deru, Rabu (10/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, pemerintah tetap menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi agar tidak membebani masyarakat. Sementara untuk BBM non-subsidi, penyesuaian harga merupakan mekanisme yang berlaku sesuai kondisi pasar global.

Melihat potensi peralihan pengguna Pertamax ke Pertalite akibat kenaikan harga, Gubernur mengajak masyarakat untuk menggunakan BBM subsidi secara bijak dan sesuai peruntukannya.

ADVERTISEMENT

"Kita ngajak kepada semua pemilik kendaraan, kalau yang merasa tidak layak mengisi minyak subsidi, ya tidak usah. Itu memang untuk masyarakat yang layak, termasuk kendaraan niaga dan lainnya," ujar Herman Deru.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur juga menyoroti kondisi perekonomian Sumatera Selatan yang dinilainya masih berada dalam tren positif. Berdasarkan data statistik, pertumbuhan ekonomi daerah tetap berada di atas 5 persen dengan angka kemiskinan yang terus menunjukkan penurunan.

Ia menjelaskan bahwa kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat memang memberikan tantangan bagi sebagian sektor, namun di sisi lain juga membawa dampak positif bagi sejumlah kelompok masyarakat, terutama petani komoditas ekspor seperti karet.

"Sebagian masyarakat juga merasakan dampak positifnya, seperti petani karet yang harganya naik. Tapi kita ingin secara umum tetap stabil, sehingga daya beli masyarakat tidak turun dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga," pungkasnya.




(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads