Awal Juni Hotspot Sumsel Terpantau 164 Titik, Muara Enim dan Lahat Tertinggi

Sumatera Selatan

Awal Juni Hotspot Sumsel Terpantau 164 Titik, Muara Enim dan Lahat Tertinggi

A Reiza Pahlevi - detikSumbagsel
Sabtu, 06 Jun 2026 18:31 WIB
Foto udara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan lahan gambut Desa Kayee Unou, Kecamatan Darul Makmur, Nagan Raya, Aceh, Kamis (4/6/2026). Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menyatakan karhutla yang terjadi sejak 29 Mei 2026 tersebut telah mencapai luas 90 hektare yang tersebar di Kecamatan Darul Makmur dan Kecamatan Tripa Makmur sehingga berdampak munculnya kabut asap tebal ke kawasan permukiman penduduk. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/sgd
Foto: Ilustrasi karhutla (ANTARA FOTO/SYIFA YULINNAS)
Palembang -

Hotspot atau titik panas di Sumatera Selatan pada Juni menunjukkan peningkatan. Sepanjang 1-5 Juni, hotspot terdeteksi sebanyak 164 titik. Muara Enim, Lahat, dan Musi Banyuasin (Muba), menjadi wilayah paling banyak terpantau hotspot.

"Sepanjang 5 hari di bulan Juni ini, hotspot terpantau sebanyak 164 titik. Dibandingkan awal Mei, angka awal Juni mengalami peningkatan yang tinggi. Tiga daerah yang terdeteksi tinggi, yakni di Muara Enim, Lahat, dan Muba," ujar Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman, Sabtu (6/6/2026).

Di tiga daerah itu, hotspot yang terpantau sebanyak 92 titik. Rinciannya, Muara Enim terdeteksi sebanyak 39 titik, Lahat 29 titik, dan Muba 24 titik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wilayah lain yang terpantau hotspot pada awal Mei ini yakni di Muratara 19 titik, Mura 15 titik, PALI 8 titik, OKU Timur 6 titik, dan OKU 5 titik. Kemudian OKI 4 titik, Ogan Ilir dan Banyuasin 3 titik, Empat Lawang 2 titik, dan Lubuklinggau 1 titik.

"Hanya di Pagar Alam, Palembang, dan OKU Selatan yang nihil hotspot," katanya.

ADVERTISEMENT

Sudirman mengungkapkan sepanjang 1 Januari-5 Juni 2026, jumlah hotspot di Sumsel telah mencapai 1.258 titik. Kenaikan paling tinggi terjadi pada Mei lalu yang mencapai 708 titik. Lonjakan itu bahkan menjadi yang tertinggi pada periode Mei sejak 2015.

Menurutnya, peningkatan hotspot ini seiring dengan masuknya musim kemarau di sejumlah wilayah Sumsel. Berdasarkan informasi BMKG Sumsel, puncak kemarau di wilayah ini akan terjadi pada Juli-Agustus nanti.

"Peningkatan hotspot ini seiring dengan masuknya Sumsel ke musim kemarau. Kita sudah melakukan berbagai antisipasi untuk mencegah kejadian karhutla. Tak hanya dengan peningkatan status, tapi juga kesiapsiagaan yang dilakukan satgas darat dan udara," jelasnya.



(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads