Sumatera Selatan

Sektor Perbankan Siap Serap Obligasi Daerah: Risiko Setara SUN

Ani Safitri - detikSumbagsel
Selasa, 19 Mei 2026 21:40 WIB
Direktur Keuangan & Treasury Bank NTT Heru Helbianto. (Foto: Ani Safitri)
Palembang -

Pelaku industri perbankan menyatakan kesiapannya untuk menyerap instrumen obligasi daerah (municipal bonds) yang direncanakan terbit di masa mendatang. Langkah ini dinilai sebagai inovasi baru bagi sektor keuangan yang membutuhkan diversifikasi portofolio investasi aman, sekaligus berkontribusi langsung pada pembangunan daerah.

Direktur Keuangan & Treasury Bank NTT Heru Helbianto mengungkapkan bahwa dari sudut pandang investor dan pelaku pasar, instrumen obligasi daerah memiliki daya tarik yang sangat besar. Sektor perbankan, khususnya tim treasury, melihat adanya peluang kolaborasi yang kuat untuk menjaga keberlanjutan proyek-proyek strategis pemerintah.

"Kami di industri keuangan, khususnya perbankan, sangat mengharapkan adanya alternatif dan diversifikasi untuk investasi kita. Kami sebagai perwakilan dari bank sangat menantikan penerbitan municipal bonds ini dan dipastikan akan sangat mendukung sesuai dengan kemampuan kami," ujar Heru Helbianto saat memaparkan materi dalam diskusi kegiatan Sarasehan Nasional di Aston Palembang Hotel & Conference Centre, Selasa (19/5/2026).

Menurut Heru, salah satu alasan utama perbankan sangat meminati obligasi daerah adalah faktor keamanan likuiditasnya. Ia menilai bahwa mekanisme dan perlakuan pasar terhadap instrumen utang milik pemerintah daerah ini akan sama amannya dengan surat utang negara (SUN) yang diterbitkan pemerintah pusat.

"Pengalaman saya di bidang treasury, hal pertama yang selalu kami lihat adalah risiko. Untuk obligasi daerah ini, kami melihat risiko likuiditasnya akan sangat baik dan terjaga karena jaminannya adalah negara atau pemerintahan, sehingga selama negara tidak bangkrut investor akan sangat yakin," kata Heru.

Selain faktor keamanan investasi, Heru menambahkan bahwa obligasi daerah juga memberikan keuntungan dari sisi pemenuhan regulasi perbankan. Instrumen utang milik pemerintah ini dikenal memiliki bobot risiko yang sangat rendah dalam perhitungan aset tertimbang menurut risiko (ATMR).

"Secara aturan atau regulasi, obligasi pemerintah itu risiko bobotnya sangat rendah dalam perhitungan untuk ATMR di perbankan. Sehingga, rasio-rasio kesehatan keuangan yang harus dijaga oleh bank akan menjadi lebih manageable dalam operasional sehari-hari," tutur Heru.

Terkait dengan jangka waktu investasi, Heru memproyeksikan bahwa minat pasar akan mengerucut pada durasi menengah. Berdasarkan analisis tren pasar terkini, durasi tersebut merupakan opsi yang paling ideal bagi perbankan maupun masyarakat luas dalam mengelola likuiditas.

"Sebagai gambaran untuk strategi ke depan, saat ini tenor obligasi yang paling favorit dan menjadi incaran di masyarakat maupun institusi adalah 3 dan 5 tahun," ungkapnya.

Melalui penerbitan obligasi ini, Bank NTT berharap pembiayaan infrastruktur daerah tidak lagi mengalami kendala likuiditas di tengah fluktuasi pendapatan daerah. Sinergi antara pemda selaku emiten dan perbankan sebagai pelaku pasar diharapkan dapat mempercepat laju pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Artikel ini ditulis oleh Ani Safitri peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.



Simak Video "Video DPD AMPI Sumsel Apresiasi MPR Gelar Sarasehan Nasional Obligasi Daerah"

(rep/rep)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork