Semenjak maraknya penggunaan media sosial, semakin banyak dampak negatif yang ditimbulkan bagi penggunanya, salah satunya adalah fenomena FOMO. Kondisi ini banyak dialami orang, terutama generasi muda yang aktivitas kesehariannya tidak lepas dari media sosial.
Ketika seseorang mengalami FOMO, ia akan merasa tidak nyaman atau merasa kehilangan saat mengetahui aktivitas yang dilakukan orang lain, dan menganggap aktivitas tersebut jauh lebih menyenangkan dan berharga dibanding miliknya.
detikers, memahami apa itu FoMO, dampaknya, hingga cara mengatasinya menjadi langkah penting agar kita bisa lebih bijak bermedia sosial. Yuk, kenali lebih jauh!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu FOMO?
FOMO atau Fear of Missing Out adalah perasaan cemas yang muncul karena merasa tertinggal dari aktivitas, tren, atau informasi terbaru. Dilansir dari laman Kemenkes Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, rasa takut ini tumbuh dari persepsi bahwa orang lain sedang menjalani kehidupan yang lebih baik atau menyenangkan.
Istilah ini pertama kali diperkenalkan Dr. Andrew K. Przybylski pada 2013. Fenomena FOMO kian meluas seiring tingginya penggunaan media sosial, terutama di kalangan anak muda yang hampir tidak bisa lepas dari platform seperti Instagram dan TikTok.
Dilansir dari jurnal JAWARA: Jurnal Pendidikan Karakter oleh Taswiyah 2022, seseorang yang mengalami FOMO umumnya ditandai dengan kebiasaan terus-menerus memeriksa gadget, lebih mengutamakan media sosial dibanding interaksi nyata, selalu penasaran dengan kehidupan orang lain, hingga cenderung boros demi tidak dianggap ketinggalan zaman.
Dampak FOMO bagi Kesehatan dan Keuangan
Dilansir laman Kemenkes Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, FOMO dapat meningkatkan risiko gangguan psikologis seperti kecemasan dan depresi akibat kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial.
Selain itu, rasa percaya diri ikut menurun karena merasa kehidupan orang lain selalu terlihat lebih sempurna. Produktivitas pun terganggu karena perhatian terus tersita oleh gadget, sementara pekerjaan dan aktivitas penting lainnya terbengkalai. Kebiasaan tidur juga bisa terdampak, mulai dari sulit tidur hingga merasa kewalahan dan kurang motivasi.
Dari sisi finansial, penderita FOMO terdorong untuk berperilaku konsumtif demi tidak merasa tertinggal. Mereka cenderung membeli barang-barang yang sedang tren sebagai cara mendapat pengakuan di media sosial, bahkan rela berutang dengan bunga tinggi demi memenuhi keinginan tersebut. Akibatnya, kemampuan menabung pun ikut terganggu.
Adapun dampak terburuk FOMO mencakup overload informasi yang membuat otak kelelahan dan sulit membedakan fakta dari hoaks, gangguan kesehatan mental yang serius seperti depresi dan kebencian terhadap diri sendiri, hingga rasa takut berlebihan bila tidak mengikuti perkembangan informasi meski tidak relevan dengan kehidupannya.
Bagaimana Cara Mengatasi FOMO?
FOMO bisa diatasi dengan langkah-langkah yang konsisten. Masih dilansir dari sumber yang sama, berikut cara yang bisa diterapkan:
1. Fokus pada diri sendiri
Sadari bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Tidak perlu membandingkan pencapaian diri dengan orang lain karena kebahagiaan setiap orang tidak bisa diukur dengan standar yang sama.
2. Hargai diri sendiri
Bersyukur atas hal-hal baik yang sudah dimiliki dapat mengurangi rasa iri dan perasaan selalu kurang. Fokus pada apa yang sedang dikerjakan saat ini jauh lebih produktif daripada mencari pengakuan dari orang lain.
3. Batasi penggunaan media sosial dan gadget
Mengurangi waktu scrolling membantu pikiran tidak terus-menerus terpapar konten yang memicu kecemasan, sekaligus memberi ruang untuk melakukan hal-hal yang lebih bermakna.
4. Bangun koneksi nyata
Menjalin hubungan sosial secara langsung jauh lebih efektif dalam membangun rasa kepuasan dibanding interaksi di dunia maya. Bergaul secara nyata juga membantu seseorang memahami realita di balik tampilan sempurna orang lain di media sosial.
5. Ubah persepsi
FOMO pada dasarnya adalah bentuk pemikiran distorsi atau pola pikir irasional. Mengubah cara pandang menjadi lebih positif, termasuk sesekali melakukan "puasa" media sosial, dapat membantu memulihkan kondisi ini secara bertahap. Jika diperlukan, tidak ada salahnya mencari bantuan profesional.
Artikel ini ditulis oleh Widia Ardhana peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom
Simak Video "Video: FOMO Iktikaf, Kenapa Enggak?"
[Gambas:Video 20detik]
(mep/mep)











































