Deflasi Sumsel 0,04 Persen, Dampak BBM Mulai Terasa

Sumatera Selatan

Deflasi Sumsel 0,04 Persen, Dampak BBM Mulai Terasa

Mutiara Helia Praditha - detikSumbagsel
Selasa, 05 Mei 2026 22:20 WIB
Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto
Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto (Foto: Mutiara Helia Praditha).
Palembang -

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan mencatat deflasi sebesar 0,04 persen pada Mei 2026, di tengah mulai munculnya dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) terhadap sejumlah komoditas.

Kondisi ini terjadi setelah tren inflasi selama tiga bulan berturut-turut sejak awal tahun, sekaligus mencerminkan dinamika penyesuaian harga di pasar.

Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, mengatakan deflasi tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,13 persen pada periode yang sama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau kita lihat trennya, sejak Januari sampai Maret itu inflasi terus. Biasanya setelah itu akan ada penyesuaian, karena harga tidak mungkin naik terus-menerus tanpa diikuti kemampuan beli masyarakat," ujarnya saat diwawancara detikSumbagsel, Senin (4/5/2026).

Ia menjelaskan, dari 11 kelompok pengeluaran yang menjadi komponen penyusun inflasi, beberapa kelompok masih mengalami kenaikan harga. Di antaranya kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, terutama emas dan perhiasan serta kelompok perumahan, perlengkapan rumah tangga, kesehatan, transportasi, dan pakaian jadi.

ADVERTISEMENT

Namun, tekanan inflasi tersebut berhasil diredam oleh penurunan harga pada sejumlah komoditas pangan yang memiliki bobot konsumsi besar di masyarakat. Komoditas seperti daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai rawit tercatat mengalami penurunan harga yang cukup signifikan.

Menurut Wahyu, kondisi ini tidak lepas dari faktor pasca-Lebaran, di mana pola konsumsi masyarakat mulai kembali normal dan pasokan barang relatif lebih stabil dibandingkan periode sebelumnya.

"Setelah momen Lebaran, biasanya permintaan mulai turun. Di sisi lain, pasokan sudah kembali normal, sehingga harga-harga ikut menyesuaikan," jelasnya.

Selain itu, strategi pedagang dalam menentukan harga juga turut memengaruhi pergerakan inflasi. Ia menilai pedagang kini lebih rasional dalam menetapkan margin keuntungan agar barang tetap terserap pasar.

"Kalau sebelumnya kenaikan bisa cukup tinggi karena ditambah margin besar, sekarang pedagang lebih menyesuaikan. Mereka tidak mau mengambil untung terlalu besar karena khawatir barang tidak laku," katanya.

Di sisi lain, Wahyu mengungkapkan bahwa kenaikan harga BBM mulai memberikan tekanan pada komoditas tertentu, khususnya barang-barang industri non-pangan.

Dari sekitar 425 komoditas yang dipantau, sambungnya, sebanyak 190 komoditas mengalami kenaikan harga, sebagian di antaranya dipengaruhi oleh biaya distribusi dan produksi yang meningkat.

"Kenaikan BBM itu pasti berdampak, terutama ke barang-barang industri seperti cat, makanan kemasan, sampai barang elektronik seperti laptop. Itu sudah mulai terlihat," ungkapnya.

Meski demikian, ia menekankan bahwa dampak kenaikan BBM terhadap inflasi secara umum masih tertahan oleh penurunan harga komoditas pangan. Hal ini karena konsumsi barang industri cenderung tidak merata di seluruh lapisan masyarakat.

"Kenaikan BBM, khususnya yang kualitas tinggi, itu lebih banyak dikonsumsi oleh kelompok tertentu. Berbeda dengan pangan, yang kalau naik sedikit saja langsung dirasakan semua masyarakat," jelasnya.

Ke depan, Wahyu mengingatkan agar kondisi ini tetap diwaspadai. Ia menilai potensi kenaikan harga BBM lanjutan dapat memberikan tekanan yang lebih luas terhadap inflasi, terutama jika terjadi bersamaan dengan kenaikan harga pangan.

"Kalau nanti BBM naik lagi, dampaknya bisa lebih besar. Yang harus dijaga itu jangan sampai pangan ikut naik bersamaan, karena itu akan sangat terasa bagi masyarakat," tegasnya.

Ia pun menekankan pentingnya peran Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dalam memantau pergerakan harga dan menjaga stabilitas pasokan, terutama pada komoditas strategis.

"Pasar itu sangat responsif. Setelah deflasi ini, pelaku usaha bisa saja kembali menyesuaikan harga. Nah ini yang harus diantisipasi agar inflasi tetap terkendali," tambahnya.

Dengan kondisi saat ini, BPS berharap stabilitas harga dapat terus terjaga, sehingga daya beli masyarakat tetap terlindungi di tengah dinamika ekonomi yang masih berlangsung.

Artikel ini ditulis oleh Mutiara Helia Praditha peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.




(csb/csb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads