Brain rot kini bukan sekadar istilah viral, fenomena ini nyata dan mengancam. Penurunan fungsi kognitif akibat konsumsi konten digital berlebihan ini menjadi ancaman serius yang kian mengintai anak-anak dan remaja di era media sosial. Lantas, bagaimana cara efektif mengatasinya?
Nah detikers, berikut sejumlah cara mengatasi dan mencegah brain rot yang perlu diketahui oleh orang tua maupun pendidik. Simak penjelasan berikut ini!
Cara Efektif Atasi Brain Rot
1. Ubah Pola Konsumsi Konten dari Pasif Menjadi Aktif
Dilansir dari jurnal Preventing Brain Rot: Learning Using Youtube Video Media in Testing Students' Analytical Abilities yang diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Pendidikan IPA (JPPIPA) oleh Deni Nasir Ahmad dkk, akar masalah brain rot terletak pada kebiasaan mengonsumsi konten secara pasif tanpa proses berpikir, sehingga otak menjadi malas menganalisis dan berpikir kritis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Solusinya adalah beralih ke konsumsi konten yang aktif dan terarah misalnya menonton video YouTube sambil membuat rangkuman kritis, menganalisis isi konten, atau berdiskusi. Jurnal ini juga menegaskan bahwa guru dan orang tua memegang peran penting dalam mendorong penggunaan platform digital sebagai media belajar, bukan sekadar hiburan pasif.
2. Perkuat Literasi Digital
Masih dari jurnal yang sama, literasi digital disebut sebagai benteng pertahanan utama melawan brain rot. Dengan kemampuan literasi digital yang baik, seseorang dapat berinteraksi secara kritis dengan konten di media sosial, bukan sekadar menelannya mentah-mentah. Interaksi kognitif dan pelatihan berpikir kritis yang konsisten bahkan diklaim mampu meregenerasi kemampuan mental yang sempat tumpul akibat paparan konten berkualitas rendah secara terus-menerus.
3. Batasi Screen Time Sejak Dini
Dilansir dari laman RS Rapha Theresia, orang tua memegang peranan penting dalam melindungi anak dari dampak brain rot. Salah satu langkah paling mendasar adalah membatasi screen time. World Health Organization (WHO) menyarankan anak usia 2-4 tahun hanya boleh menatap layar maksimal satu jam per hari, bahkan lebih sedikit lebih baik.
Selain itu, orang tua disarankan menerapkan jadwal bebas gadget, terutama sebelum jam tidur, agar anak bisa beristirahat secara optimal dan terhindar dari kebiasaan scrolling tanpa tujuan.
4. Selektif dalam Memilih Konten
Masih dari laman RS Rapha Theresia, brain rot bukan semata soal durasi penggunaan gadget, melainkan juga kualitas konten yang dikonsumsi. Orang tua dianjurkan mengarahkan anak untuk mengakses konten edukatif, seperti video pembelajaran, cerita anak, atau tayangan yang mengandung nilai moral, bukan konten yang sekadar menghibur tanpa substansi.
5. Perbanyak Aktivitas di Luar Layar
Cara lain yang tak kalah penting adalah memperbanyak aktivitas fisik dan kreatif di luar layar. Mengajak anak bermain di luar rumah, membaca buku, menggambar, atau mengeksplorasi kegiatan kreatif lainnya dapat membantu otak beristirahat dari stimulasi digital sekaligus mengembangkan kemampuan kognitif secara alami.
Nah detikers, brain rot memang menjadi tantangan nyata di era digital, tetapi bukan berarti tidak bisa diatasi. Dengan kesadaran, pendampingan yang tepat, serta perubahan kebiasaan yang konsisten, otak tetap bisa tumbuh optimal di tengah gempuran konten digital saat ini!
Artikel ini ditulis oleh Widia Ardhana peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom
(dai/dai)











































