Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumatera Selatan (Sumsel) mengeluarkan peringatan terkait prediksi musim kemarau tahun 2026. Awal musim kemarau tahun ini diprakirakan tiba lebih awal (maju) dibandingkan rata-rata normalnya dengan sifat hujan yang lebih kering.
Koordinator BMKG Provinsi Sumsel sekaligus Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Sumsel Wandayantolis mengungkapkan bahwa mayoritas wilayah Sumsel akan mulai memasuki masa transisi pada bulan Mei mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awal musim kemarau tahun 2026 di wilayah Sumsel terjadi lebih awal dibanding normalnya. Sebesar 64 persen wilayah zona musim di Sumsel diprediksi mengalami awal musim kemarau yang maju hingga dua dasarian dibanding normalnya," kata Wandayantolis pada detikSumbagsel, Senin (13/4/2026).
Wandayantolis menjelaskan, wilayah Sumsel akan memasuki musim kemarau secara bertahap. Wilayah yang paling awal masuk adalah Zona Musim (ZOM) 136 yang meliputi OKI bagian selatan pada permulaan Mei.
Selanjutnya, sebanyak 29 persen wilayah di bagian tengah Sumsel akan menyusul pada akhir Mei. Sementara itu, sisa 64 persen wilayah di sisi barat dan timur diperkirakan baru akan memasuki musim kemarau pada periode awal hingga pertengahan Juni 2026.
Selain datang lebih awal, Wandayantolis juga menyoroti sifat musim kemarau tahun ini. Secara umum, sifat kemarau di Sumsel diprediksi berada pada kategori Bawah Normal, yang berarti curah hujan akan lebih sedikit dibandingkan biasanya.
"Puncak musim kemarau tahun 2026 di wilayah Sumsel diprediksi terjadi pada bulan Juli untuk 2 ZOM dan Agustus untuk 12 ZOM lainnya," jelas Wandayantolis.
Ada catatan khusus untuk wilayah ZOM 125 (Palembang bagian barat, Muba selatan, Banyuasin barat, PALI timur, Muara Enim utara, dan Ogan Ilir utara) serta ZOM 135 (sebagian besar OKU Timur). Kedua wilayah ini berpotensi mengalami puncak kemarau lebih awal satu bulan dibandingkan kondisi normalnya.
Untuk durasi, musim kemarau di Bumi Sriwijaya tahun ini diprediksi berlangsung antara 7 hingga 15 dasarian. Wilayah Sumatera Selatan bagian tengah tercatat akan mengalami durasi kemarau terlama, mencapai 13 hingga 15 dasarian.
Wandayantolis mengimbau masyarakat dan pemangku kepentingan untuk mulai melakukan langkah mitigasi, terutama terkait pengelolaan sumber daya air dan kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengingat sifat musim yang cenderung lebih kering.
Artikel ini ditulis oleh Ani Safitri peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.
(csb/csb)











































