Dinas Kesehatan (Dinkes) Lubuklinggau mencatat terjadi lonjakan kasus campak sepanjang Januari hingga April 2026. Kasus tersebut meningkat pesat dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Kabid P2P Dinkes Lubuklinggau Lena Agustina mengatakan terdata dari Januari hingga April 2026, ada sebanyak 68 kasus suspek dan sudah diambil sampel serta diperiksa. Ia mengatakan saat ini sudah 41 sampel yang hasilnya sudah keluar dimana ada 26 yang dinyatakan positif campak dan 15 negatif.
"Dari Januari sampai April 2026 ini sudah diambil sampel sebanyak 68 orang dan yang sudah ada hasilnya yakni 41 orang. Hasilnya 26 orang dinyatakan positif campak dan 15 orang lainnya negatif. Sementara sisanya yakni 27 orang belum keluar hasilnya," katanya saat dikonfirmasi detikSumbagsel, Minggu (12/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, kata Lena, sepanjang tahun 2025 diketahui ada 30 kasus suspek dan diambil sampel sebanyak 23 orang. Hasilnya ada 5 orang positif campak dan 18 orang lainnya dinyatakan negatif.
"Sampel diperiksa di BBLK (Balai Besar Laboratorium Kesehatan) Palembang. Untuk awal tahun ini kalau lihat data ada peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, namun itu masih sesuai target discarded Lubuklinggau sehingga kita belum masuk KLB (Kejadian Luar Biasa). Semoga saja sampai akhir tahun nanti tidak terjadi," jelasnya.
Lena mengungkapkan rata-tara orang yang positif campak dikarenakan imunisasi campak mereka yang tidak lengkap.
"Vaksin campak itu diberikan sebanyak 3 kali, rata-rata mereka yang tertular ini tidak lengkap vaksinnya, ada yang baru 2 kali dan ada yang cuman 1 kali," ungkapnya.
Demi menekan angka kasus campak tersebut, Lena mengatakan saat ini pihaknya menggencarkan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat terkait pentingnya vaksin campak.
"kita lakukan kejar imunisasi untuk anak yang vaksin campaknya belum lengkap diberikan. Dengan harapan kasus campak di Lubuklinggau kembali turun," ujarnya.
Tak hanya itu, Lena menambahkan semua yang dinyatakan positif campak sudah dilakukan kunjungan dan penyelidikan epidimologi (PE).
"Itu merupakan investigasi ilmiah untuk mencari penyebab, sumber, cara penularan, dan faktor risiko suatu penyakit atau masalah kesehatan guna mengendalikan penyebarannya," ujarnya.
(csb/csb)











































