Kenali Raja Singa: Penyebab, Gejala Awal, dan Cara Pengobatannya

Kenali Raja Singa: Penyebab, Gejala Awal, dan Cara Pengobatannya

Mutiara Helia Praditha - detikSumbagsel
Minggu, 05 Apr 2026 06:00 WIB
ilustrasi penis
Ilustrasi raja singa atau sifilis (Foto: thinkstock)
Palembang -

Sifilis atau yang kerap disebut penyakit raja singa merupakan salah satu Infeksi Menular Seksual (IMS) yang perlu diwaspadai. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum dan dapat menyerang siapa saja yang aktif secara seksual.

Dilansir dari artikel di situs Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, sifilis biasanya diawali dengan munculnya luka yang tidak terasa nyeri di area kelamin, rektum, atau mulut. Meski tampak ringan, infeksi ini bisa berkembang menjadi kondisi serius jika tidak segera ditangani.

Bakteri penyebab sifilis dapat bertahan lama di dalam tubuh tanpa menimbulkan gejala, bahkan hingga bertahun-tahun. Jika tidak diobati, penyakit ini berisiko merusak organ vital seperti jantung dan otak, hingga mengancam nyawa. Selain itu, sifilis juga bisa menular dari ibu ke janin selama kehamilan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penyebab dan Cara Penularan

Sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum, yaitu bakteri berbentuk spiral yang dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka kecil, lecet, atau celah pada kulit maupun selaput lendir seperti di area mulut, anus, dan alat kelamin. Proses masuknya bakteri ini sering kali tidak disadari karena luka yang menjadi pintu masuk biasanya sangat kecil dan tidak menimbulkan rasa sakit.

Penularan sifilis paling sering terjadi melalui hubungan seksual, baik vaginal, anal, maupun oral, dengan seseorang yang telah terinfeksi. Kontak langsung dengan luka atau lesi sifilis menjadi jalur utama penyebaran bakteri ini.

ADVERTISEMENT

Dalam beberapa kasus, penularan juga dapat terjadi melalui kontak non-seksual, seperti berciuman jika terdapat luka aktif di area mulut, meskipun hal ini lebih jarang terjadi.

Selain itu, sifilis juga bisa ditularkan dari ibu hamil kepada janinnya, baik selama masa kehamilan maupun saat proses persalinan. Kondisi ini dikenal sebagai sifilis kongenital dan dapat menyebabkan komplikasi serius bagi bayi.

Risiko seseorang tertular sifilis akan meningkat jika memiliki perilaku seksual berisiko, seperti bergonta-ganti pasangan, tidak menggunakan kondom, atau memiliki pasangan yang sudah terinfeksi. Selain itu, individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, termasuk pengidap HIV, juga lebih rentan terhadap infeksi ini.

Tahapan Gejala Sifilis

Sifilis berkembang secara bertahap dan setiap tahap memiliki karakteristik gejala yang berbeda. Pada tahap awal, gejala sering kali tidak disadari sehingga penderita terlambat mendapatkan pengobatan.

1. Sifilis primer

Tahap ini biasanya muncul dalam waktu 10 hingga 90 hari setelah seseorang terpapar bakteri. Gejala utamanya adalah munculnya luka kecil yang disebut chancre di area masuknya bakteri, seperti kelamin, anus, atau mulut. Luka ini tidak terasa nyeri dan dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu 3-6 minggu. Namun, hilangnya luka bukan berarti infeksi telah sembuh, melainkan menandakan bahwa penyakit mulai berkembang ke tahap berikutnya.

2. Sifilis sekunder

Beberapa minggu setelah luka menghilang, penderita dapat mengalami ruam kulit yang bisa muncul di berbagai bagian tubuh, terutama telapak tangan dan kaki.

Ruam ini biasanya tidak gatal dan sering kali tampak samar. Selain itu, gejala lain seperti demam, kelelahan, nyeri otot, sakit tenggorokan, pembengkakan kelenjar getah bening, hingga rambut rontok juga dapat terjadi. Pada tahap ini, infeksi masih sangat mudah menular.

3. Sifilis laten

Pada tahap ini, bakteri tetap berada di dalam tubuh tetapi tidak menimbulkan gejala apa pun. Fase ini bisa berlangsung selama bertahun-tahun. Meski tanpa gejala, pada fase awal laten (kurang dari satu tahun), penderita masih dapat menularkan penyakit kepada orang lain.

4. Sifilis tersier

Jika tidak diobati, sifilis dapat berkembang menjadi tahap tersier yang sangat berbahaya. Tahap ini bisa muncul bertahun-tahun setelah infeksi awal dan menyebabkan kerusakan serius pada berbagai organ tubuh, seperti jantung, otak, pembuluh darah, tulang, dan hati. Dampaknya bisa berupa kebutaan, gangguan saraf, hingga kematian.

5. Sifilis kongenital

Jenis sifilis ini terjadi ketika ibu hamil menularkan infeksi kepada bayinya. Dampaknya bisa sangat serius, mulai dari keguguran, bayi lahir mati, hingga gangguan kesehatan berat pada bayi yang lahir hidup. Dalam beberapa kasus, bayi yang terinfeksi tidak langsung menunjukkan gejala, tetapi dapat mengalami gangguan perkembangan di kemudian hari.

Pengobatan Sifilis

Pengobatan sifilis paling efektif dilakukan sejak tahap awal. Terapi utama yang diberikan adalah antibiotik, terutama suntikan penisilin, untuk membunuh bakteri penyebab infeksi.

  • Selama masa pengobatan, pasien disarankan:
  • Tidak melakukan hubungan seksual sementara
  • Memberi tahu pasangan untuk ikut diperiksa
  • Rutin kontrol dan tes darah sesuai anjuran dokter

Penanganan yang tepat tidak hanya membantu penyembuhan, tetapi juga mencegah komplikasi dan penularan lebih lanjut. Menjaga kesehatan reproduksi menjadi langkah penting untuk mencegah berbagai penyakit menular seksual, termasuk sifilis.

Dengan memahami penyebab, tahapan gejala, serta cara penanganannya, kamu bisa lebih waspada sejak dini. Nah detikers, inilah dia penjelasan lengkap mengenai raja singa atau sifilis, semoga informasi ini bermanfaat dan bisa menambah wawasan kamu.

Artikel ini ditulis oleh Mutiara Helia Praditha peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.




(csb/csb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads