Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang mencatat lonjakan kasus campak yang menembus angka 649 kasus sepanjang Januari hingga Maret 2026. Tren harian terus merangkak naik dengan perbandingan signifikan antara Februari sebanyak 249 kasus menjadi 273 kasus per 25 Maret 2026.
Kenaikan ini menjadi peringatan keras bagi otoritas kesehatan di tengah tingginya interaksi sosial masyarakat. Data surveilans menunjukkan penyebaran virus masih aktif dan berpotensi terus meluas jika tidak segera diintervensi secara masif.
Kepala Bidang P2P Dinkes Palembang Yudhi Setiawan menegaskan kenaikan ini terpantau jelas dari akumulasi data bulanan. Angka 649 kasus tersebut merupakan hasil validasi dari seluruh fasilitas kesehatan yang tersebar di Palembang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berdasarkan data surveilans, total kasus campak dari Januari sampai Maret ada 649 kasus. Trennya memang menunjukkan peningkatan jika kita bandingkan Februari dengan data per 25 Maret ini," ujarnya kepada detikSumbagsel, Rabu (25/3/2026).
Lonjakan ini memicu kekhawatiran akan munculnya klaster-klaster baru di pemukiman padat. Dinkes menilai penguatan sistem pelacakan (tracing) di lapangan menjadi kunci utama untuk memutus rantai penularan yang sedang menanjak.
Terkait kesiagaan medis, Yudhi memastikan stok vaksin campak atau MR saat ini terus dipantau oleh tim Pencegahan Penyakit. Koordinasi dilakukan secara harian untuk memastikan distribusi vaksin ke setiap Puskesmas tetap aman dan tersedia bagi masyarakat.
Dinkes juga memperketat pengawasan terhadap laporan kasus dari Rumah Sakit (RS) yang masuk secara real-time. Langkah ini diambil agar deteksi dini bisa dilakukan sebelum pasien mengalami komplikasi berat yang membahayakan nyawa.
"Kami terus pastikan ketersediaan vaksin ada di tim Pencegahan Penyakit. Penanganan di tingkat Puskesmas menjadi garda terdepan untuk menekan angka kenaikan ini agar tidak terus melonjak," tegasnya.
Artikel ini ditulis oleh Nadiya, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.
(csb/csb)
