Sekretariat DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) belum mau memberikan penjelasan terkait pengadaan meja biliar di rumah dinas (rumdin) pimpinan DPRD Sumsel yang disebut hilang dari Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP) Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP).
Saat dikonfirmasi, pihak Sekretariat DPRD Sumsel memilih bungkam dan enggan memberikan keterangan resmi mengenai pembatalan pengadaan tersebut.
Upaya konfirmasi kepada pihak Sekretariat DPRD Sumsel telah dilakukan detikSumbagsel baik kepada Sekwan dan Kabag Humas DPRD Sumsel, namun hingga kini belum ada penjelasan resmi terkait alasan hilangnya data pengadaan tersebut dari sistem SIRUP LKPP.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pimpinan DPRD Sumsel pun hingga saat ini belum menyampaikan pengumuman terbuka terkait pembatalan beberapa paket pengadaan. Hanya Ketua DPRD Sumsel Andie Dinialdie yang telah menyampaikan klarifikasi, itu pun tidak resmi soal pembatalan pengadaan meja biliar.
Dilihat dari data SIRUP LKPP per 12 Maret 2026, beberapa pengadaan untuk rumah dinas tak lagi terlihat. Di antaranya adalah meja biliar dan heat pump yang hilang dari pengadaan.
Meski membatalkan beberapa pengadaan, DPRD Sumsel masih merencanakan penganggaran fasilitas mewah untuk rumah dinasnya. Tak tanggung-tanggung, anggaran pengadaan dari data SIRUP LKPP mencapai Rp 8,68 miliar untuk 11 item. Tertinggi untuk pembelian perabot rumah tangga (meubelair) yang mencapai Rp 4,6 miliar.
Pengadaan meubelair hanya untuk dua rumah dinas pimpinan DPRD Sumsel. Yakni, untuk rumah dinas Wakil Ketua I Raden Gempita dari Partai Gerindra senilai Rp 2,29 miliar dan Wakil Ketua III Ilyas Panji Alam dari PDIP sebesar Rp 2,3 miliar.
Selain meubelair, pengadaan yang bernilai fantastis adalah pembangunan aula di rumah dinas Wakil Ketua II DPRD Sumsel Nopianto dari Partai NasDem yang mencapai Rp 1,87 miliar.
Sementara untuk pengadaan dua meja biliar yang sempat bikin heboh untuk Ketua DPRD Sumsel Andie Dinialdie dan Wakil Ketua III Ilyas senilai Rp 486,9 juta, tak lagi ada.
Sekretaris Dewan yang dikonfirmasi sebelumnya tak mau bicara banyak, meski meminta bagian humas untuk merespons.
"Nanti tunggu kabag humas (yang akan memberi penjelasan)," ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (10/3/2026).
Senada, Kabag Humas DPRD Sumsel Hadiyanto yang dikonfirmasi juga tak memberi jawaban.
Sebelumnya, Ketua DPRD Sumsel Andie Dinialdie sempat memberi penjelasan terkait pengadaan dua meja biliar di rumah dinasnya.
"Tadi saya sudah menghubungi Sekretaris Dewan (Sekwan) untuk mengklarifikasi terkait pengadaan barang tersebut. Namun, untuk diketahui bersama semua itu masih tahap perencanaan, belum ada pembelian," ujar Andie, Minggu (8/3/2026).
Andie yang juga Ketua Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (POBSI) Sumsel ini menyebut, meja biliar itu nantinya akan digunakan untuk tempat alternatif atlet biliar Sumsel berlatih.
"Jadi selain di tempat yang ada, bisa juga berlatih di rumah dinas," katanya.
Meski begitu, Legislator Partai Golkar ini mengaku tetap memahami perhatian masyarakat terhadap penggunaan anggaran daerah.
Karena itu, lanjutnya, setiap rencana pengadaan akan dievaluasi kembali dengan mempertimbangkan prinsip efisiensi dan prioritas kebutuhan
"Jika dinilai tidak mendesak atau tidak memberikan manfaat yang signifikan, maka pengadaan tersebut dapat ditinjau ulang bahkan dibatalkan," tukasnya.
(csb/csb)
