Harga Pangan di Palembang Tercatat Stabil pada Pertengahan Ramadan

Sumatera Selatan

Harga Pangan di Palembang Tercatat Stabil pada Pertengahan Ramadan

Muhammad Alyuda Tri Utama - detikSumbagsel
Jumat, 06 Mar 2026 22:21 WIB
Pedagang daging sapi di pasar tradisional Palembang
Foto: Pedagang daging sapi di pasar tradisional Palembang (Muhammad Alyuda Tri Utama)
Palembang -

Hingga pertengahan Ramadan, harga sejumlah komoditas pangan di Palembang masih fluktuatif. Harga daging sapi dan cabai tergolong masih tinggi.

Dari pantauan detikSumbangsel, Jumat (6/3/2026) di Pasar Ariodillah dan Pasar KM 5, pedagang menyebutkan harga mulai stabil di pertengahan bulan suci Ramadan.

Salah satu pedagang cabai dan bawang di Pasar Ariodillah, Firmansyah mengatakan cabai merah keriting mulai stabil. Namun, cabai rawit hijau dan merah masih stabil dengan harga yang tergolong tinggi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cabai merah keriting sekarang di angka Rp 27.000 sebelumnya berada di kisaran Rp 30.000 per kilo, Sedangkan cabai rawit merah sebelumnya di angka Rp 60.000, sekarang masih di Rp 65.000 per kilo dan cabai rawit hijau, masih di harga Rp 48.000 per kilo yang sebelumnya di kisaran Rp 33.000 - Rp 35.000 per kilo," ungkapnya.

Pada pasar yang sama pedagang ayam ras, Hendra menyampaikan harga ayam potong ras masih tergolong stabil, walaupun sebelumnya sempat menyentuh Rp 40.000 per kilogram.

ADVERTISEMENT

"Harga sekarang Rp 38.000 per kilo, sebelumnya sempat Rp 40.000 per kilo," ujarnya.

Pedagang telur, Mei mengaku penjualan telur selama bulan Ramadan mengalami kenaikan. Namun, harga tergolong stabil di angka Rp 29.000 per kilogram, dan masih memungkinkan adanya kenaikan.

"Telur masih sama Rp 29.000 per kilo, masih stabil walaupun penjualan lagi meningkat. Namun, ada kemungkinan naik jika kebutuhan meningkat," katanya.

Di pasar yang berbeda, Pasar KM 5 pada komoditas yang sama, berada di harga yang relatif sama. Akan tetapi, harga daging sapi mulai mengalami kenaikan signifikan menjelang hari raya Idulfitri.

Salah satu pedagang daging sapi di Pasar KM 5, Lis mengaku kenaikan daya beli pada daging sapi selama bulan Ramadan, berdampak pada harga daging yang mulai naik.

"Sebelumnya Rp 130.000 per kilo, sekarang sudah di angka Rp 140.000 dan untuk kualitas daging tanpa lemak ada di angkat Rp 150.000 per kilo, dan pasti naik nanti mendekati hari raya," ujar Lis.

Selain itu, ada pun minyak goreng berada di Rp 17.500 per kilogram, gula pasir di Rp 18.000 per kilogram, dan tepung berada di Rp 10.000 per kilogram.

Kepala Bidang Stabilisasi Sarana dan Distribusi Perdagangan (SSDP), Elsa Noviani mencatat salah satu komoditas yang sempat mengalami kenaikan adalah ayam potong. Harga ayam yang sebelumnya berada di kisaran Rp 34.000 per kilogram meningkat menjelang Ramadan.

"Kenaikan harga bahan pokok ini dari awal Februari sebelum Ramadan, yang mengalami kenaikan itu ayam. Ayam ini dari kisaran Rp 34.000 sampai menjelang Ramadan menjadi Rp 38.000, bahkan hari pertama dan kedua Ramadan sempat Rp 40.000," ujarnya.

Namun setelah memasuki minggu kedua Ramadan, harga ayam mulai mengalami penurunan dan kembali mendekati harga normal di pasaran.

"Setelah minggu kedua ini menurun lagi menjadi sekitar Rp 34.000, bahkan ada yang Rp 32.000 di beberapa pasar," jelas Elsa.

Selain ayam, komoditas telur juga mengalami kenaikan harga. Harga telur yang sebelumnya berada di kisaran Rp 26.000 per kilogram kini naik menjadi sekitar Rp 29.000 per kilogram.

Sementara itu, untuk komoditas cabai keriting sempat mengalami kenaikan pada awal Ramadan, namun saat ini harganya kembali turun. Berbeda dengan cabai rawit dan cabai burung yang masih bertahan di kisaran Rp 60.000 hingga Rp 70.000 per kilogram.

Demi menjaga stabilitas harga bahan pokok, Dinas Perdagangan Kota Palembang melakukan pemantauan harga secara rutin di lima pasar utama yang dijadikan pasar pantau.

"Langkah dinas perdagangan salah satunya monitoring harga setiap hari di lima pasar pantau, yaitu Pasar Lemabang, Pasar Soak Bato, Pasar KM 5, Pasar 16 Ilir, dan Pasar 10 Ulu," katanya.

Kelima pasar tersebut dipilih karena dianggap mewakili kondisi harga di seluruh pasar yang ada di Kota Palembang, mulai dari harga yang relatif murah, menengah hingga yang paling tinggi.

"Kenapa hanya lima pasar? Karena di situ ada pasar yang harganya murah, menengah, dan yang paling mahal. Jadi lima pasar ini menjadi sampel untuk mengetahui pergerakan harga di kota Palembang," jelas Elsa.

Selain monitoring harga, pemerintah juga melakukan pelaporan secara berkala kepada pemerintah pusat melalui Kementerian Perdagangan dan Kementerian Dalam Negeri.

Sebagai langkah antisipasi inflasi selama Ramadan, Dinas Perdagangan juga menggelar pasar murah di 18 kecamatan di Kota Palembang. Program ini bertujuan untuk mendekatkan masyarakat dengan distributor agar dapat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau.

"Pasar murah ini bertujuan mendekatkan distributor yang harga agen kepada masyarakat supaya masyarakat mudah membeli barang dengan harga distributor," pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh Muhammad Alyuda Tri Utama peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.




(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads