Video memperlihatkan sejumlah orang mengaku berasal dari Palembang, Sumatera Selatan, terlantar di Kamboja viral di media sosial. Mereka diduga menjadi korban penipuan berkedok tawaran pekerjaan di luar negeri.
Dalam video yang dilihat detikSumbagsel, beberapa pria itu tampak menyampaikan permohonan bantuan secara langsung kepada Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, dan Wali Kota Palembang Ratu Dewa.
Mereka berharap dapat segera dipulangkan ke Indonesia setelah mengaku mengalami kesulitan selama berada di luar negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para korban juga mengaku berangkat karena tergiur janji pekerjaan dengan gaji besar. Namun setibanya di negara tujuan, kondisi yang mereka alami disebut tidak sesuai dengan kesepakatan awal hingga akhirnya meminta pertolongan melalui media sosial untuk dipulangkan.
Menanggapi beredarnya video tersebut, Wali Kota Palembang Ratu Dewa mengatakan pihaknya segera mengambil langkah koordinasi dengan instansi terkait guna memastikan kebenaran informasi tersebut.
Menurut Dewa, Pemerintah Kota Palembang tidak ingin berspekulasi sebelum mendapatkan data yang valid terkait identitas maupun keberadaan warga yang ada di dalam video.
"Segera kami koordinasikan dengan dinas ketenagakerjaan Provinsi Sumsel untuk memastikan terlebih dahulu," katanya kepada detikSumbagsel, Rabu (18/2/2026).
Dewa menjelaskan, koordinasi dilakukan bersama Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Sumatera Selatan sebagai pihak yang memiliki kewenangan dalam penanganan tenaga kerja, khususnya yang berkaitan dengan penempatan pekerja migran.
Dewa juga menegaskan, pemerintah daerah akan berupaya maksimal apabila para korban benar merupakan warga Palembang dan membutuhkan bantuan pemulangan.
"Kita berusaha sebaik mungkin untuk warga kita. Kita menunggu kabar dari dinas provinsi, jika ada perkembangan terbaru akan segera kita sampaikan," ungkapnya.
Dewa mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati terhadap tawaran kerja ke luar negeri yang tidak melalui jalur resmi. Warga diminta memastikan legalitas perusahaan penyalur tenaga kerja serta kelengkapan dokumen sebelum memutuskan berangkat.
"Kasus dugaan penipuan kerja luar negeri sendiri kerap terjadi, terutama melalui perekrutan informal di media sosial. Saya berharap masyarakat segera melapor apabila menemukan indikasi praktik serupa agar dapat ditangani lebih cepat dan mencegah jatuhnya korban," ujarnya.
(csb/csb)











































