Sumatera Selatan menjadi salah satu daerah rawan demam berdarah dengue (DBD). Jumlah kejadian sepanjang 2025 mencapai 4.437 kasus dengan 22 kematian.
"Sumsel termasuk salah satu daerah yang rawan DBD. Di Palembang saja, jumlah kasusnya 900-an pada tahun lalu," ujar Gubernur Sumsel Herman Deru saat Peluncuran Pemantauan Aktif Pencegahan Dengue dengan Vaksin pada Anak SD di Palembang, Rabu (18/2/2026).
Menurutnya, vaksinasi sangat diperlukan untuk menjaga daya tahan tubuh terhadap dengue. Sehingga, pemberian 5 ribu vaksin untuk Sumsel diharapkan dapat menekan kasusnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita dapat 5 ribu vaksin, yang sudah berjalan 4 ribu. Kita juga berharap, vaksin ini ada penyesuaian harga, karena saat ini masih mahal, di kisaran Rp 1 juta (dua kali vaksin)," Katanya.
Menurutnya, dengan keterbatasan anggaran pada tahun ini, APBD tak mampu meng-cover biaya pembelian vaksin dengan harga yang mencapai Rp 1 juta.
"Karena ini terlalu mewah, apalagi ini diinformasikan di awal tahun sehingga kita tak bisa menganggarkan. Tapi, kita akan mendorong perusahaan untuk melakukan CSR dengan membeli vaksin, sehingga anak-anak kita terbebas dari DBD. Kalaupun terjangkit tidak akan parah," katanya.
"Dengue bukan sekadar isu musiman, melainkan tantangan kesehatan yang harus kita hadapi secara berkelanjutan dan terencana. Pemprov Sumsel memiliki komitmen kuat untuk memperkuat upaya pencegahan dengue, sejalan dengan target nasional dan global menuju nol kematian akibat dengue pada 2030," sambungnya.
Sementara itu, Penanggung Jawab Kegiatan Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Nasional Sri Rezeki Hadinegoro mengatakan pemantauan aktif ini bertujuan memperkuat upaya perlindungan terhadap dengue melalui pendekatan menyeluruh dan berbasis pemantauan kesehatan jangka panjang.
Kegiatan vaksinasi dan pemantauan yang diresmikan ini merupakan bagian dari Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue multinegara yang juga dilaksanakan di Thailand dan Malaysia. Di Indonesia, program pemantauan aktif ini berlangsung di tiga kota, yakni Jakarta, Palembang, dan Banjarmasin, dalam periode tiga tahun.
"Melalui pemantauan yang terstruktur, kami berharap dapat memperoleh gambaran lebih komprehensif mengenai kesehatan anak-anak di wilayah dengan beban dengue yang tinggi, sekaligus memperkuat upaya pencegahan dengue ke depan secara berkelanjutan," ujarnya.
Di luar pemantauan aktif ini, vaksinasi dengue juga telah diberikan kepada anak SD di Balikpapan, Samarinda, Kutai Kartanegara, Probolinggo dan Minahasa Utara, atas inisiatif Pemda setempat. Vaksinasi ini merupakan salah satu inovasi di bidang kesehatan yang aman dan efektif mencegah penyakit infeksi berbahaya yang dapat menyebabkan kematian.
"Hasil dari pemantauan aktif ini sangat dinantikan sebagai dasar pemberian vaksinasi dengue dalam program nasional untuk menyongsong 'zero dengue death' di tahun 2030, atau paling tidak kita dapat menurunkan 50% kematian dan 25% angka kejadian dengue," tukasnya.
(dai/dai)











































