Pria di Palembang, Sumatera Selatan, bernama Yuwono (43), dilaporkan hilang sejak 28 Januari 2026. Sebelum hilang, korban sempat menuliskan surat dengan rincian utang mulai dari cicilan KPR hingga utang sayur senilai Rp 6.000. Dia
Berdasarkan foto surat yang detikSumbasel terima, tulisan tangan Yuwono menggambarkan betapa berat tekanan ekonomi yang ia pikul. Ia memulai suratnya dengan permohonan maaf kepada istri dan anak-anaknya.
"Ayah sayang semua, ayah ingin membahagiakan Bunda dan Anak-anak. Tetapi ayah terlampau memaksakan hingga beban di pundak," tulis Yuwono dalam surat tersebut, sebagaimana dilihat detikSumbagsel, Kamis (12/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam surat itu, Yuwono secara jujur menjabarkan sejumlah tanggungan yang membuatnya tidak bisa tidur tenang. Selain menyebutkan kredit rumah (KPR) dan motor, ia merinci beberapa utang piutang kepada individu:
Mas Heri: Rp 550.000
Kak Yopi: Rp 550.000
Bu Mini: Rp 200.000
Sayur Mak Ojik: Rp 6.000 (dengan keterangan sudah lunas)
Bpk Mondi: Sisa jual gas Rp 60.000
Beban ini tampaknya berdampak serius pada kesehatan mentalnya, karena setiap malam tidak bisa tertidur dengan nyenyak.
"Hampir tiap malam tidak bisa tidur menutup mata," tulisnya mengakhiri curhatan tersebut.
Bagian yang paling menyentuh justru berada di bagian bawah surat tersebut. Sang istri, Nelly (43), menemukan coretan tangan anak bungsunya yang berusia 7 tahun (kelas 1 SD) di kertas yang sama.
Dengan tinta tipis, sang anak menuliskan kalimat: "Ayah adek sayang Ayah" lengkap dengan gambar empat orang yang bergandengan tangan, melambangkan keutuhan keluarga mereka.
"Anak kami ada dua, yang kecil usia 7 tahun nanyain ayahnya terus. Pas surat itu saya temukan, dia ternyata nulis di situ," ujar Nelly.
Kondisi serupa dialami anak pertamanya yang berusia 9 tahun (kelas 3 SD). Pihak sekolah melaporkan bahwa bocah tersebut belakangan sering melamun saat jam pelajaran karena memikirkan keberadaan ayahnya.
Hingga saat ini Yuwono belum ditemukan. Pihak keluarga sangat berharap Yuwono dapat segera pulang dan menyelesaikan masalah keluarga ini bersama-sama.
Artikel ini ditulis oleh Ani Safitri peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.
(csb/csb)











































