Lapak Pedagang Tuak dan Tukang Jahit di Bawah Ampera Palembang Dibongkar

Sumatera Selatan

Lapak Pedagang Tuak dan Tukang Jahit di Bawah Ampera Palembang Dibongkar

Irawan - detikSumbagsel
Senin, 02 Feb 2026 23:40 WIB
Warung tuak di kawasan bawah Jembatan Ampera Palembang dibongkar
Warung tuak di kawasan bawah Jembatan Ampera Palembang dibongkar (Foto: Irawan)
Palembang -

Lapak pedagang tuak dan tukang jahit di bawah Jembatan Ampera, tepatnya di 7 Ulu, Palembang, Sumatera Selatan, dibongkar petugas Satpol PP dan Dishub Palembang, Senin (2/2/2026). Pedagang pun diminta untuk tidak berjualan kembali di lokasi itu.

Pantauan di lokasi sekitar pukul 15.00 WIB, ratusan personel gabungan menyisir area yang selama ini dikeluhkan warga. Saat petugas tiba, para pedagang sudah tidak berada di tempat.

Camat Seberang Ulu I Palembang Mukhtiar Hijrun membenarkan adanya dugaan kebocoran informasi terkait penertiban tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Diduga operasi penertiban ini telah bocor. Saat petugas datang, yang kami temui hanya lapak-lapak pedagang yang ditinggal pemiliknya," katanya kepada wartawan, Senin.

Meski demikian, petugas tetap melakukan pembongkaran terhadap lapak dan gerobak yang dinilai melanggar aturan serta mengganggu ketertiban umum.

Di tengah penertiban, petugas mendapati tiga orang warga tengah menenggak minuman keras jenis tuak di bawah jembatan. Mereka terlihat santai mengonsumsi tuak menggunakan dua teko di ruang publik.

ADVERTISEMENT

"Kami mendapati tiga orang warga yang sedang meminum tuak. Mereka tampak santai, seakan tidak takut pesta tuak di tempat umum," jelasnya.

Petugas menyita barang bukti berupa tuak tersebut. Namun, ketiga warga itu tidak diamankan. Menurut Hijrun, fokus utama kegiatan kali ini adalah pembersihan lapak yang meresahkan masyarakat.

Penertiban dilakukan menindaklanjuti laporan warga terkait keberadaan pedagang pakaian bekas, jasa jahit, hingga penjual tuak yang menggunakan badan jalan. Aktivitas tersebut dinilai memicu kemacetan sekaligus merusak estetika kota.

Sementara itu, salah satu pedagang pakaian bekas, Risma mengaku tidak keberatan dengan rencana penataan tersebut meski telah berjualan lebih dari 10 tahun di lokasi itu.

"Saya berharap masih bisa tetap berdagang di kawasan ini. Kami para pedagang siap untuk ditata," katanya.




(csb/csb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads