Pengendara mobil bernama Bahtiar Parenrengi mengaku heran ditolak mengisi BBM jenis Pertalite di SPBU Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel), akibat barcode miliknya disebut telah terpakai. Padahal, Bahtiar mengaku belum pernah menggunakan barcode miliknya hari ini.
"Saya menyodorkan barcode dan duit untuk pengisian Rp 150 ribu. Saya kaget, saat petugas SPBU bilang barcode mobil saya dengan nomor polisi DW 1023 AF (Suzuki Karimun) sudah terpakai. Kok bisa?" kata Bahtiar heran kepada detikSulsel, Senin (25/5/2026).
Peristiwa itu terjadi di SPBU Ahmad Yani, Kabupaten Bone, Senin (25/5) sekitar pukul 12.00 Wita. Bahtiar mengatakan saat itu telah meminta petugas SPBU mendeteksi siapa yang memakai barcode miliknya.
"Tapi dia keburu bilang, saya tolong ki untuk isi Rp 100 ribu saja," ucapnya.
Bahtiar lantas mengiyakan tawaran dari petugas SPBU yang dinilai memberi kebijaksanaan pengisian Pertalite tanpa menggunakan barcode. Apalagi saat itu antrean kendaraan untuk mengisi BBM sangat panjang.
"Saya pun mengiyakan karena pertimbangan antrean mobil cukup banyak dan harus buru-buru untuk pergi melayat," ujarnya.
Kendati demikian, Bahtiar tetap berharap pihak SPBU bisa membantu mendeteksi jika betul barcode miliknya dipakai oleh orang lain. Apalagi kejadian ini sudah dialaminya dua kali di SPBU yang sama.
"Siapa tau pihak SPBU bisa membantu, siapa yang telah menggandakan barcode. Jangan-jangan barcode itu dipakai membeli tiap hari untuk pengisian jeriken," ketusnya.
Untuk diketahui, batas pembelian Pertalite menggunakan barcode (QR Code) MyPertamina dibatasi maksimal 50 liter per kendaraan per hari. Aturan ini merupakan bagian dari kebijakan pembatasan BBM bersubsidi agar lebih tepat sasaran.
Simak Video "Video: Sejumlah SPBU Pertamina Tak Lagi Jual Pertalite, Ini Lokasinya"
(ata/hmw)