Kabut asap yang mengepung Kota Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel) akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dari daerah lain mengancam kesehatan warga. Dinas Kesehatan (Dinkes) Parepare mencatat tren peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga 15 persen.
"Asap pasti, pasti ada efek yang kita khawatirkan, terutama sekali terkait dengan penyakit ISPA. Jadi kekhawatiran kita itu kabut asap ini akan menjadi salah satu penyebab ISPA," ujar Plt Kadis Kesehatan Parepare, Muhammad Idris kepada wartawan, Sabtu (10/10/2026).
Meski demikian, Idris mengklaim tingkat kepekatan asap di Parepare sejauh ini masih relatif terkendali. Pihaknya tetap meminta warga tak lengah mengingat potensi dampaknya yang tetap merugikan.
"Tapi kalau menurut pemantauan kami memang masih belum terlalu tinggi, dibandingkan dengan yang terjadi di daerah lain sehingga kemungkinan masih agak ringan untuk tingkat kuat, tapi tetap waspada untuk itu," katanya.
Terkait data penderita, Idris membenarkan adanya tren peningkatan jumlah kasus secara umum. Namun, Dinkes masih menganalisis tren kenaikan itu akibat paparan asap atau faktor perubahan iklim.
"Iya, kecenderungannya memang naik. Kecenderungan kasus ISPA naik, tapi kita juga masih perlu melihat apakah betul karena pengaruh asap ini atau memang karena pengaruh iklim, ya," jelas Idris.
Ia memastikan penanganan dan tindakan medis khusus bakal langsung disiapkan bila hasil indikasi mengarah pada dampak asap. Langkah penanggulangan akan disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan.
"Jadi kalau misalnya memang ternyata nanti indikasinya disebabkan oleh asap, tentu kita akan ada upaya-upaya untuk penanggulangannya," ujarnya.
Idris mengungkapkan lonjakan kasus ISPA berkisar di angka 10 hingga 15 persen. Hal itu membuat total penderita saat ini sudah berada di atas angka 2.000 jiwa.
"Peningkatannya sekitar 10 sampai 15 persen. Iya, jadi sekitar 2.000 lebih ya, 2.000 lebih sekarang ini penderita ISPA," ungkap Idris.
Ia menjelaskan bahwa ribuan penderita tersebut merupakan gabungan data pasien selama beberapa bulan terakhir. Angka tersebut dirangkum dari rekapan faskes sejak awal tahun hingga periode terbaru.
"Itu untuk data bulan terakhir. Nah, data bulan terakhir, jadi itu data akumulasi dari bulan Januari sampai dengan bulan sekarang," tutupnya.
Baca juga: Udara Parepare Tak Sehat gegara Kabut Asap |
Diketahui, kabut asap imbas karhutla dari daerah lain mulai menyelimuti langit Parepare sejak awal Oktober 2026. BMKG mengonfirmasi konsentrasi partikulat (PM2,5) telah masuk dalam kategori tidak sehat.
"Ya, betul pantauan visual hari ini di wilayah Sulawesi Selatan, khususnya Kota Makassar, Kota Parepare dan sekitarnya melaporkan udara dalam keadaan kabur," kata Kepala Meteorologi BMKG Sulsel, Rizky Yudha Pahlawan dalam keterangannya, Jumat (9/10).
Rizky mengungkapkan, tingkat pencemaran udara yang terukur di Parepare sudah melebihi batas aman. Angka konsentrasi partikel udara tersebut tercatat mencapai puluhan mikrogram per meter kubik.
"Berdasarkan pengamatan konsentrasi PM2,5 di Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan di Parepare tercatat sebesar 85,3 mikrogram per meter kubik dan dalam kategori tidak sehat," terangnya.
Simak Video "Video: 64 Pesawat Perkuat Operasi Pemadaman Karhutla"
(hsr/sar)