Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel) mencatat tingginya kasus penyakit menular khususnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga Agustus 2026. ISPA kini tembus 2.475 kasus imbas musim kemarau.
"Data menunjukkan 2.847 kasus penyakit menular tercatat dalam periode Minggu ke-28 hingga Minggu ke-31 Tahun 2026. Dari jumlah tersebut, 2.457 kasus merupakan Infeksi Saluran Pernapasan Akut," kata Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Parepare, Muhammad Idris, Senin (17/8/2026).
Idris mengatakan dari semua penyakit menular di 8 puskesmas, 86% merupakan kasus ISPA. Dia menyebut grafik kasus ISPA terus menanjak signifikan dalam beberapa pekan terakhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Angka itu berarti sekitar 86 persen dari seluruh kasus penyakit menular yang tercatat dalam laporan Puskesmas se-Kota Parepare selama empat minggu tersebut," bebernya.
"Yang menjadi perhatian, kasus ISPA justru menunjukkan peningkatan dalam dua pekan terakhir. Setelah tercatat 567 kasus pada minggu ke-28 dan 561 kasus pada minggu ke-29, jumlahnya melonjak menjadi 663 kasus pada minggu ke-30 dan kembali meningkat menjadi 666 kasus pada minggu ke-31," paparnya.
Berdasarkan laporan dari delapan Puskesmas setempat, penderita ISPA ditemukan tersebar di seluruh wilayah Parepare. Puskesmas Madising Na Mario mencatatkan angka temuan tertinggi dibandingkan wilayah lainnya.
"Dari delapan Puskesmas yang tercatat dalam laporan, kasus ISPA tertinggi selama empat minggu ditemukan di Puskesmas Madising Na Mario sebanyak 420 kasus," beber Idris.
Selain ISPA, Dinkes Parepare juga mendeteksi riwayat penyakit berbasis lingkungan lainnya. Penyakit tersebut meliputi diare akut serta demam tifoid atau tipes.
"Selain ISPA, laporan dari Dinkes mencatat 295 kasus diare akut dan 95 kasus demam tifoid," ungkap Idris.
Kedua jenis penyakit menular ini paling banyak terdeteksi di satu faskes yang sama. Wilayah kerja Puskesmas Cempae mendominasi temuan kasus diare dan tifoid tersebut.
"Kasus diare tertinggi terdapat di Puskesmas Cempae dengan 72 kasus, sedangkan tifoid tertinggi juga tercatat di Puskesmas Cempae sebanyak 42 kasus," imbuhnya.
Dampak Kemarau dan Polusi Udara
Peningkatan tren penyakit menular ini terjadi bersamaan dengan musim kemarau panjang yang melanda wilayah Parepare. Udara yang kering disinyalir memperlemah pertahanan saluran pernapasan warga.
"Kondisi cuaca kering dapat menjadi salah satu faktor lingkungan yang perlu diperhatikan. Udara yang kering dapat memengaruhi lapisan pelindung saluran pernapasan, sedangkan debu dan polusi udara dapat mengiritasi saluran pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan," terang Idris.
Meski demikian, pihak Dinkes menegaskan fenomena ini tidak bisa langsung disimpulkan begitu saja. Pembuktian hubungan sebab-akibat masih membutuhkan kajian serta analisis data yang komprehensif.
"Namun demikian, data Dinkes Parepare tersebut belum dapat membuktikan bahwa kemarau secara langsung menyebabkan tingginya kasus ISPA. Diperlukan analisis lebih lanjut dengan membandingkan data kasus ISPA dengan kondisi cuaca, kelembapan, kualitas udara, paparan debu maupun kejadian kebakaran di wilayah Parepare," tegasnya.
Untuk membendung laju penularan, warga diimbau menjalankan langkah proteksi diri secara mandiri. Kesadaran menjaga kebersihan menjadi kunci utama menekan iritasi pernapasan akibat polusi.
"Penggunaan masker ketika berada di lingkungan berdebu atau kualitas udara buruk, memperbanyak konsumsi air, menjaga kebersihan tangan, menghindari asap rokok dan pembakaran sampah terbuka, serta mengurangi aktivitas luar ruangan ketika udara tidak sehat menjadi langkah pencegahan yang dianjurkan," imbau Idris.
Pemerintah daerah berharap mitigasi kesehatan ini dapat berjalan beriringan dengan penanganan dampak kekeringan. Kesehatan masyarakat harus tetap menjadi prioritas utama selama musim kemarau.
"Sebab, ketika kemarau semakin panjang dan kasus ISPA justru meningkat, kesehatan masyarakat perlu ditempatkan sebagai bagian penting dari mitigasi dampak kekeringan di Kota Parepare," pungkasnya.
Berikut rincian sebaran 2.457 kasus ISPA berdasarkan wilayah kerja Puskesmas se-Kota Parepare:
- Puskesmas Madising Na Mario: 420 kasus
- Puskesmas Lumpue: 418 kasus
- Puskesmas Lappadde: 391 kasus
- Puskesmas Cempae: 377 kasus
- Puskesmas Lakessi: 352 kasus
- Puskesmas Lompoe: 261 kasus
- Puskesmas Lemoe: 128 kasus
- Puskesmas Lauleng Bukit Harapan: 110 kasus.
