Tiga bentrok antarkelompok warga gegara sengketa lahan pecah di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) dalam dua hari. Peristiwa itu mengakibatkan lima orang terkena busur, enam motor dibakar, satu truk dirusak hingga penutupan jalan di lokasi.
Tawuran terjadi di tiga lokasi berbeda yakni di Jalan Ujung Bori, Kecamatan Manggala, Jalan Dg Tata III Kampung Cedde', Kecamatan Tamalate, dan Jalan Leimena, Kecamatan Panakkukang. Mereka tawuran menggunakan busur panah, batu hingga bom molotov.
Dirangkum detikSulsel, Jumat (11/9/2026), berikut tiga bentrok gegara sengketa lahan di Makassar dalam dua hari:
5 Warga Kena Busur di Jalan Ujung Bori
Dua kelompok warga terlibat tawuran menggunakan busur panah dan batu di Jalan Ujung Bori, Kecamatan Manggala pada Rabu (9/9) sekitar pukul 11.00 Wita. Sebuah motor turut dibakar di lokasi hingga polisi menemukan busur panah, petasan dan bom molotov.
Kapolrestabes Makassar, Kombes Arya Perdana mengatakan tawuran pecah saat ormas datang memasang papan bicara mengklaim kepemilikan lahan bersengketa. Aksi itu memicu penolakan warga setempat.
"Tadi ada ormas yang mau masuk ke dalam, mungkin membantu pemasangan papan bicara. Namun situasi tidak memungkinkan sehingga ada penolakan dari warga," ujar Kombes Arya Perdana kepada wartawan, Rabu (9/9).
Penolakan itu kemudian berujung tawuran dan jalanan sempat diblokade massa. Perang kelompok semakin memanas lantaran massa saling serang menggunakan batu hingga bom molotov.
"Jadi memang sempat ada pelemparan panah busur, batu dan sebagainya, bahkan ada kendaraan yang terbakar tadi. Sekarang situasi sudah kondusif," kata Arya.
Arya menegaskan, pemasangan papan bicara di lokasi sengketa harus memiliki dasar hukum yang jelas dari pengadilan. Polisi maupun masyarakat tidak dapat melakukan eksekusi secara sepihak.
"Minta bantuan polisi atau Satpol PP, asal dasarnya hukum jelas kita pasti membantu. Yang namanya eksekusi dan sebagainya itu sebenarnya dilaksanakan oleh pengadilan, tidak bisa polisi, tidak bisa masyarakat," terangnya.
Sementara warga bernama Husni mengatakan ada lima warga terkena busur panh. Satu bayi juga dilarikan ke rumah sakit (RS) diduga terkena gas air mata.
"Kalau warga kompleks Kodam ada sekitar 5 yang kena busur, kemudian ada 1 bayi kena gas air mata dan baru saja dilarikan ke (RS) Hermina," ujar Husni kepada detikSulsel di lokasi.
Warga melarikan bayi tersebut menggunakan mobil pikap setelah tawuran mereda. Pikap itu sempat tertahan lantaran perang kelompok yang menggunakan busur panah dan batu.
Tawuran mereda setelah polisi turun membubarkan massa. Kendati begitu, warga mengaku masih khawatir terjadinya penyerangan susulan.
"Kita tidak tahu ke depan apakah ada teror lagi, karena ini selama mereka tidak dapat lahan ini dipastikan akan meneror warga di dalam," imbuhnya.
Simak Video "Video: Di Balik Penolakan Pemakaman Jenazah di Sidoarjo "
(hsr/hsr)