3 Bentrok Sengketa Lahan di Makassar dalam 2 Hari

3 Bentrok Sengketa Lahan di Makassar dalam 2 Hari

Tim detikSulsel - detikSulsel
Jumat, 11 Sep 2026 08:12 WIB
Truk angkut ekskavator untuk eksekusi lahan di Jalan Dg Tata Makassar dirusak massa.
Foto: Truk angkut ekskavator untuk eksekusi lahan di Jalan Dg Tata Makassar dirusak massa. (dok. istimewa)
Makassar -

Tiga bentrok antarkelompok warga gegara sengketa lahan pecah di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) dalam dua hari. Peristiwa itu mengakibatkan lima orang terkena busur, enam motor dibakar, satu truk dirusak hingga penutupan jalan di lokasi.

Tawuran terjadi di tiga lokasi berbeda yakni di Jalan Ujung Bori, Kecamatan Manggala, Jalan Dg Tata III Kampung Cedde', Kecamatan Tamalate, dan Jalan Leimena, Kecamatan Panakkukang. Mereka tawuran menggunakan busur panah, batu hingga bom molotov.

Dirangkum detikSulsel, Jumat (11/9/2026), berikut tiga bentrok gegara sengketa lahan di Makassar dalam dua hari:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

5 Warga Kena Busur di Jalan Ujung Bori

Dua kelompok warga terlibat tawuran menggunakan busur panah dan batu di Jalan Ujung Bori, Kecamatan Manggala pada Rabu (9/9) sekitar pukul 11.00 Wita. Sebuah motor turut dibakar di lokasi hingga polisi menemukan busur panah, petasan dan bom molotov.

Kapolrestabes Makassar, Kombes Arya Perdana mengatakan tawuran pecah saat ormas datang memasang papan bicara mengklaim kepemilikan lahan bersengketa. Aksi itu memicu penolakan warga setempat.

ADVERTISEMENT

"Tadi ada ormas yang mau masuk ke dalam, mungkin membantu pemasangan papan bicara. Namun situasi tidak memungkinkan sehingga ada penolakan dari warga," ujar Kombes Arya Perdana kepada wartawan, Rabu (9/9).

Penolakan itu kemudian berujung tawuran dan jalanan sempat diblokade massa. Perang kelompok semakin memanas lantaran massa saling serang menggunakan batu hingga bom molotov.

"Jadi memang sempat ada pelemparan panah busur, batu dan sebagainya, bahkan ada kendaraan yang terbakar tadi. Sekarang situasi sudah kondusif," kata Arya.

Arya menegaskan, pemasangan papan bicara di lokasi sengketa harus memiliki dasar hukum yang jelas dari pengadilan. Polisi maupun masyarakat tidak dapat melakukan eksekusi secara sepihak.

"Minta bantuan polisi atau Satpol PP, asal dasarnya hukum jelas kita pasti membantu. Yang namanya eksekusi dan sebagainya itu sebenarnya dilaksanakan oleh pengadilan, tidak bisa polisi, tidak bisa masyarakat," terangnya.

Polisi masih berjaga di TKP tawuran Jalan Ujung Bori Makassar.Polisi masih berjaga di TKP tawuran Jalan Ujung Bori Makassar. (Fadli Ilham/detikSulsel)

Sementara warga bernama Husni mengatakan ada lima warga terkena busur panh. Satu bayi juga dilarikan ke rumah sakit (RS) diduga terkena gas air mata.

"Kalau warga kompleks Kodam ada sekitar 5 yang kena busur, kemudian ada 1 bayi kena gas air mata dan baru saja dilarikan ke (RS) Hermina," ujar Husni kepada detikSulsel di lokasi.

Warga melarikan bayi tersebut menggunakan mobil pikap setelah tawuran mereda. Pikap itu sempat tertahan lantaran perang kelompok yang menggunakan busur panah dan batu.

Tawuran mereda setelah polisi turun membubarkan massa. Kendati begitu, warga mengaku masih khawatir terjadinya penyerangan susulan.

"Kita tidak tahu ke depan apakah ada teror lagi, karena ini selama mereka tidak dapat lahan ini dipastikan akan meneror warga di dalam," imbuhnya.

Truk Dirusak di Jalan Dg Tata

Bentrok tolak eksekusi lahan juga terjadi di Jalan Dg Tata III Kampung Cedde', Kecamatan Tamalate, Kamis (10/9). Warga dari kampung Cedde menutup akses jalan lalu lintas dari arah Jalan Tun Abdul Razak dan arah masuk dari Malengkeri.

Salah satu warga Kampung Cedde', Sinar mengatakan mereka menolak dieksekusi karena tempat yang ditinggali merupakan tanah negara. Sedangkan pihak yang datang mengeksekusi dari pihak perseorangan.

"Kami kan menolak di sini untuk dieksekusi. Di sini kan sudah nyata tanah negara, yang mereka sebut disini tanah adat padahal bukan, ini tanah negara," ucap Sinar kepada detikSulsel di lokasi.

Sinar menyebut pihak penggugat ini salah sasaran atas objek lahan yang dieksekusi. Pihaknya sudah memperlihatkan surat tapi upaya ingin eksekusi terus dilakukan.

"Jadi kami menolak eksekusi tapi pihak pengadilan tetap mau melaksanakan eksekusi. Padahal kami sudah memperlihatkan surat yang dia pakai menggugat itu bukan lokasi di sini, tapi di sana Jalan Daeng Ngade. Tapi dia ngotot," ujarnya.

Sebelum bentrok terjadi, ia mengatakan sempat melakukan mediasi tapi tidak menemukan solusi. Pihak penggugat pun kata dia, tetap ingin mengeksekusi.

"Tadi kejadian sekitar setengah 9 sampai jam 10. Waktu mereka datang kami bicara baik-baik dulu tapi mereka tidak terima mau langsung eksekusi," jelasnya.

Sementara Lurah Parang Tambung Muh Zulkifli Ghozali mengatakan, upaya eksekusi sebenarnya sudah ada surat dari Pengadilan. Namun, saat hendak eksekusi mendapat penolakan dari warga setempat.

"Untuk eksekusi ini tadi sesuai jadwal itu jam 8 pagi dan antara pihak yang tergugat dan menggugat dan ini terjadi warga yang menolak eksekusi," ucapnya.

Penggugat yang datang mengeksekusi membawa tronton dan satu unit ekskavator kemudian didampingi polisi mendapat perlawanan dari warga. Truk pengangkut ekskavator yang akan dipakai mengeksekusi lahan turut dirusak massa.

"Akhirnya dari pihak penggugat dan tergugat dan pihak bantuan dari kepolisian juga terjadi lah bentrok. Alat berat ini seperti kelihatan di sini ada mobil tronton 1 dan ekskavator 1. Ada kaca mobil tronton yang pecah," bebernya.

4 Motor Dibakar di Jalan Leimena

Bentrok antarkelompok juga terjadi di Jalan Leimena, Kecamatan Panakkukang, pada Kamis (10/9) sore. Sebanyak 4 kendaraan motor dibakar dalam bentrokan tersebut.

"Masalah lokasi sepertinya. Kemungkinan dipicu gara-gara persoalan tanah," ucap Camat Panakkukang Syahril kepada detikSulsel, Kamis (10/9).

Syahril tidak mengetahui pasti dua kelompok yang terlibat tawuran. Namun dia menduga bentrokan pecah karena sengketa lahan di lokasi tersebut.

"Saya tidak tidak tahu kelompok mana tadi yang saling serang tapi kemungkinan dipicu gara-gara lahan. Tanah yang di Jalan Leimena tapi kurang tahu titiknya," katanya.

Dia menyebut berdasarkan laporan yang diterima ada 4 motor yang hangus terbakar. Kendati begitu, dirinya tidak mengetahui dari kelompok mana yang motornya terbakar.

"Ada motor 4 dibakar, saya tidak dapat informasinya siapa yang punya motor. Nda ada korban, kayaknya amanji. Hanya kendaraan yang terbakar," ucapnya.

Syahril menambahkan tak ada benda tajam yang ditemukan di lokasi bentrokan. Namun banyak batu yang berhamburan di jalanan.

"Tadi saya tanya pak Lurah tidak ada busur, hanya batu saja yang di jalan," pungkasnya.

Dalam video beredar, terlihat sepeda motor yang dibakar massa di tengah jalan. Tak ada kendaraan yang berani melintas saat bentrokan berlangsung.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video: Di Balik Penolakan Pemakaman Jenazah di Sidoarjo "
[Gambas:Video 20detik] (hsr/hsr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads