Warga mengaku kerap mendapat teror dari oknum organisasi kemasyarakatan (ormas) sebelum tawuran di sekitar kompleks Kodam lama, Jalan Ujung Bori, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Perang kelompok pecah saat ormas hendak memasang plang atau papan bicara untuk mengklaim kepemilikan lahan di lokasi sengketa hingga mendapat penolakan dari warga.
"Kami sering dapat teror di sini di kompleks mau subuh mau malam mereka selalu teror mau masuk. Kami curigai memang ulah oknum mafia tanah karena mereka memang mau ambil alih lahan di sini," kata warga setempat, Husni kepada detikSulsel, Rabu (9/9/2026).
Husni mengaku oknum ormas itu diduga sempat datang sehari sebelum tawuran. Mereka kemudian kembali datang ke kompleks Kodam lama yang menjadi lokasi sengketa lahan pada siang hari tadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari kemarin itu ada yang mau datang di kompleks kodam ini, entah beberapa gabungan ormas akhirnya dia datang tadi siang. Dia datang sekitar jam 11 (siang), dia datang menyerang ke kami karena kami ini berjaga di sini," tuturnya.
Menurut Husni, sejumlah orang yang diduga tergabung dari ormas justru melakukan penyerangan lebih dulu menggunakan busur dan petasan. Warga curiga ormas itu merupakan kubu yang mengklaim kepemilikan lahan sengketa di lokasi.
"Ini kami tidak tahu apa unsur mereka menyerang ke kompleks. Tapi kami yakin kaitannya ini dengan mafia tanah yang ambil alih lahan di sini," ucapnya.
"Jadi warga mencurigai bahwa oknum mafia tanah ini membayar sejumlah ormas, preman untuk melakukan ini aksi. Ada ratusan yang datang, itu informasinya gabungan ormas," tambah Husni.
Warga yang berupaya bertahan pun turut melakukan serangan balik dengan maksud memukul mundur ormas. Perang kelompok mereda setelah polisi turun ke lokasi.
"Kondisi saat ini masih ada polisi yang berjaga tapi kita tidak tahu ke depan apakah ada teror lagi, karena ini selama mereka tidak dapat lahan ini dipastikan akan meneror warga di dalam," jelasnya.
Menurut Husni, tawuran tersebut mengakibatkan lima warga terkena busur panah. Satu bayi juga dilaporkan dilarikan ke rumah sakit (RS) karena terdampak gas air mata saat polisi membubarkan tawuran.
"Kalau warga kompleks Kodam ada sekitar 5 yang kena busur, kemudian ada 1 bayi kena gas air mata dan baru saja dilarikan ke (RS) Hermina," ungkap Husni.
Diketahui, tawuran sempat berujung pada penutupan Jalan Ujung Bori pada Rabu (9/9) sekitar pukul 11.00 Wita. Sebuah motor turut dibakar di lokasi hingga polisi menemukan busur panah, petasan dan bom molotov.
Polisi mengungkap tawuran pecah saat ormas datang memasang papan bicara mengklaim kepemilikan lahan bersengketa. Aksi itu memicu penolakan warga setempat.
"Tadi ada ormas yang mau masuk ke dalam, mungkin membantu pemasangan papan bicara. Namun situasi tidak memungkinkan sehingga ada penolakan dari warga," ujar Kapolrestabes Makassar, Kombes Arya Perdana kepada wartawan, Rabu (9/9).
Arya menegaskan, pemasangan papan bicara di lokasi sengketa harus memiliki dasar hukum yang jelas dari pengadilan. Polisi maupun masyarakat tidak dapat melakukan eksekusi secara sepihak.
"Minta bantuan polisi atau Satpol PP, asal dasarnya hukum jelas kita pasti membantu. Yang namanya eksekusi dan sebagainya itu sebenarnya dilaksanakan oleh pengadilan, tidak bisa polisi, tidak bisa masyarakat," terangnya.
