Makassar Terancam Krisis Air Bersih

Makassar Terancam Krisis Air Bersih

Tim detikSulsel - detikSulsel
Kamis, 16 Jul 2026 06:30 WIB
Wali Kota Makassar Munafri Appi Arifuddin meninjau aliran air PDAM di dapur rumah warga.
Foto: Wali Kota Makassar Munafri 'Appi' Arifuddin meninjau aliran air PDAM di dapur rumah warga. (dok. istimewa)
Makassar -

Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), terancam mengalami krisis air bersih akibat bencana kekeringan pada musim kemarau. Sebanyak 12.717 rumah dari enam kecamatan dilaporkan mulai terdampak kekeringan.

Hal itu berdasarkan hasil kaji cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Makassar sejak 1 Juni-9 Juli 2026. Adapun enam kecamatan terdampak, yakni Ujung Tanah, Tallo, Biringkanaya, Tamalanrea, Panakkukang dan Manggala.

Kecamatan paling terdampak berada di Biringkanaya dengan jumlah 14.787 jiwa dan 4.084 rumah merasakan dampak kekeringan. Selanjutnya disusul di Tallo dengan 13.762 jiwa dan 2.862 rumah terdampak bencana kekeringan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Tamalanrea ada 9.947 jiwa dan 2.922 rumah, Manggala 7.610 jiwa dan 1.959 rumah, Ujung Tanah ada 2.921 jiwa dan 645 rumah. Terakhir, ada 1.324 jiwa dan 245 rumah di Panakkukang terdampak kekeringan.

Dirangkum detikSulsel hingga Kamis (16/7/2026), berikut fakta-fakta kekeringan di Makassar yang berpotensi memicu krisis air bersih:

ADVERTISEMENT

50.342 Jiwa Terdampak Bencana Kekeringan

Laporan BPBD Makassar mencatat total 50.343 jiwa atau 14.564 kepala keluarga (KK) dari enam kecamatan kekeringan. Rinciannya, 24.192 laki-laki dan 26.150 perempuan.

"Berdasarkan hasil asesmen BPBD Kota Makassar, terdapat sekitar 53 ribu jiwa yang berpotensi terdampak bencana kekeringan," kata Kepala Pelaksana BPBD Makassar Muhammad Fadli Tahar kepada wartawan, Sabtu (11/7).

Fadli menyebut sebanyak 50% di antaranya terdampak langsung kekeringan. Mereka adalah masyarakat yang selama ini bergantung dari sumber air tanah atau bukan dari jaringan PDAM.

"Sekitar 50% masyarakat telah terdampak secara langsung, terutama warga yang selama ini mengandalkan air tanah sebagai satu-satunya sumber air bersih," paparnya.

Cadangan Air Potensi Cuma Bertahan 30 Hari

Fadli menuturkan, wilayah yang memperoleh pasokan air dari jaringan PDAM masih berada dalam kondisi relatif aman. Kendati begitu, situasi ini tetap perlu diwaspadai seiring sumber air baku berkurang akibat kekeringan.

"Berdasarkan perkembangan cuaca dan kondisi sumber air baku, cadangan air PDAM diperkirakan akan terus mengalami penurunan," ucap Fadli.

Jika kekeringan terus berlanjut, maka cadangan air yang dikelola hanya bisa bertahan. Kendati begitu, kondisi tersebut masih sebatas asumsi dengan melihat situasi di lapangan.

"Apabila kondisi cuaca kering seperti saat ini terus berlanjut, maka cadangan air PDAM diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar 30 hari ke depan," tambahnya.

Puncak Kekeringan Diprediksi September-Oktober

BPBD Makassar memperkirakan kekeringan memasuki masa puncaknya pada September hingga Oktober 2026. Hal ini juga merujuk dari informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

"Puncaknya itu bulan 9 (September) hingga 10 (Oktober)," ungkap Fadli.

Fadli melanjutkan, distribusi air bersih kepada warga sudah intens dilakukan. Penyaluran bantuan air diprioritaskan pada wilayah yang belum terakomodir jaringan PDAM.

"Langkah-langkah antisipatif dan kesiapsiagaan terus disiapkan untuk menghindari meluasnya dampak kekeringan terhadap masyarakat," paparnya.

Makassar Masih Andalkan Air Permukaan

Kepala BPBD Sulsel Amson Padolo mengungkap, Makassar rentan dilanda bencana kekeringan lantaran masih mengandalkan air permukaan seperti sungai atau waduk, sebagai sumber air baku PDAM. Jika air permukaan menipis, otomatis pasokan air yang dikelola PDAM untuk didistribusikan ke warga ikut berkurang.

"Kalau daerah lain kan masih banyak sumber air, jadi tingkat kebutuhan air bersih masih terpenuhi. Ini yang paling rawan Kota Makassar karena memang PDAM itu sumber air bakunya hanya air permukaan," kata Amson kepada detikSulsel, Selasa (14/7).

Amson pun mendorong Makassar menghadirkan sumber air baku alternatif, seperti pengadaan sumur bor. Upaya ini bisa menjadi solusi jangka panjang ketika musim kemarau yang memicu bencana kekeringan.

"Itu (sumur bor) kan sudah pernah kita lakukan beberapa tahun lalu, yang kita kelola dengan Kodam, memang itu kan sangat penting untuk saat ini," ungkap Amson.

Ancaman Kebakaran-Kesehatan Saat Kekeringan

Wali Kota Makassar Munafri 'Appi' Arifuddin mengatakan, musim kemarau yang memicu kekeringan tidak hanya berpotensi mengakibatkan krisis air bersih. Dia juga memperingatkan adanya ancaman kebakaran.

"Biasanya di musim kemarau ini bukan hanya kekeringan, tapi kebakaran juga banyak, kekeringan akan ketersediaan air juga mulai menurun," kata Appi usai apel kesiapsiagaan bencana di Anjungan MNEK, Center Point of Indonesia (CPI), Makassar, Selasa (14/7).

Masyarakat pun rentan mengalami gangguan kesehatan. Dia kembali mengingatkan agar masyarakat harus menjaga diri sembari pemerintah melakukan mitigasi dampak bencana kekeringan.

"Kemungkinan besar ini banyak penyakit-penyakit menular yang bisa terjadi dan ini menjadi tanggung jawab kita semua untuk memastikan bisa memitigasi ini lebih awal," tambahnya.

Status Kedaruratan Kekeringan Masih Dikaji

Appi mengatakan penetapan status kedaruratan bencana kekeringan masih dikaji. Kendati begitu, Appi mengimbau seluruh stakeholder terkait tetap bekerja sama dalam melakukan penanganan demi mengurangi risiko dampak bencana.

"Lagi dikaji oleh teman-teman BPBD bersama dengan semua pihak yang yang yang terlibat di dalamnya untuk memastikan apakah kita menaikkan ini ke dalam status siaga bencana. Nah kalau hasil kajiannya harus naik, ya kita harus mempersiapkan segala sesuatunya," terangnya.

Appi memastikan distribusi air bersih kepada warga terdampak dilakukan secara berkala. Pemkot Makassar juga mendorong pembangunan sumur bor sebagai solusi untuk mengatasi kekeringan tiap tahun.

"Kita harus menghitung benar debitnya untuk tim distribusinya, yang kedua pengadaan tandon-tandon banyak untuk didistribusi ke wilayah kecamatan, yang ketiga memastikan pembangunan sumur-sumur bor dalam untuk mengantisipasi keadaan air yang kering," jelasnya.

PDAM Makassar Kerahkan 14 Truk Tangki Air

Plt Direktur Utama PDAM Makassar Andi Syahrum menyiagakan 14 truk tangki air untuk menangani bencana kekeringan. PDAM mengklaim kebutuhan air di tengah masyarakat masih dapat diatasi,

"Kalau memang ada kekeringan ekstrem, kita sudah siapkan 14 mobil tangki yang akan melayani ke warga untuk mengisi tandon-tandon yang disiapkan BPBD," kata Andi Syahrum kepada detikSulsel, Rabu (15/7).

Distribusi air pun akan dilakukan di enam kecamatan terdampak kekeringan. Meski terdapat titik-titik krisis air bukan dari pelanggan PDAM, tapi Andi Syahrum memastikan tetap memberikan pelayanan.

"Kalau untuk sementara ini kita layani pelanggan yang tidak mengalir airnya. Kalau untuk permintaan dari warga kita akan melihat dimana titiknya kita akan tetap bantu juga," pungkasnya.

Halaman 4 dari 3
(sar/sar)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads