Anggota Ditsamapta Polda Sulawesi Selatan (Sulsel), Bripda Dirja Pratama (19) tewas dianiaya seniornya berinisial Bripda P di Kota Makassar. Bripda Dirja dipukul berulang kali hingga leher dicekik usai dituding tidak loyal karena mengabaikan panggilan dari seniornya.
Penganiayaan itu terjadi di Asrama Ditsamapta Polda Sulsel di Makassar, Minggu (22/2) sekitar pukul 06.30 Wita. Peristiwa itu bermula saat korban sempat dipanggil menghadap oleh seniornya pada malam sebelum hari penganiayaan.
"Jadi malam dipanggil, dua kali malam dipanggil nggak menghadap. Pada pagi hari saat setelah salat subuh dijemput oleh yang bersangkutan," kata Kapolda Sulsel Irjen Djuhandhani Rahardjo Puro kepada wartawan di Mapolda Sulsel, Rabu (26/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Djuhandhani mengatakan, korban pada malam sebelum kejadian tidak tidur dalam barak di tempat biasa. Hal ini berdasarkan pemeriksaan sejumlah saksi di lokasi.
"Dia memang malam itu tidak tidur di tempat yang biasanya di barak. Ternyata dia tidur di luar, sendiri, beserta rekan-rekan lainnya," jelas Djuhandhani.
Setelah dijemput dan menghadap seniornya, Bripda Dirja lantas dianiaya. Korban disebut membuat seniornya tersinggung karena dianggap mengabaikan panggilan berulang kali.
"Motif yang menjadi permasalahan, korban atas nama Bripda Dirja Pratama, tidak respek atau loyal terhadap senior yaitu Bripda P. Karena dipanggil berkali-kali namun tidak tidak diindahkan," paparnya.
"Perbuatan yang dilakukan pelaku, yaitu secara sendiri memukul berkali-kali sambil mencekik korban dan ini sudah bisa dibuktikan dengan hasil visum yang dikeluarkan oleh Biddokkes," tambah Djuhandhani.
Mirisnya, penganiayaan yang dilakukan Bripda P itu disaksikan oleh rekan seangkatan korban. Namun saksi yang berada di lokasi justru tidak melerai atau melaporkan peristiwa tersebut.
"Yang terjadi adalah penganiayaan, bukan pengeroyokan. Karena di situ ada beberapa teman satu angkatan yang melihat bahwa yang bersangkutan melakukan penganiayaan," terangnya.
Bripda Dirja sempat dilarikan ke rumah sakit namun nyawanya tidak tertolong. Djuhandhani menegaskan personelnya berinisial Bripda P sudah ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan.
"Yang bersangkutan dikenakan pasal 468 ayat 2 atau Pasal 466 ayat 3 Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHPidana dengan ancaman maksimal 10 tahun," bebernya.
2 Oknum Polisi Disanksi Kode Etik
Polda Sulsel juga telah memeriksa 8 personelnya sebagai saksi dalam kasus ini untuk pendalaman lebih lanjut. Dari hasil pemeriksaan, ada dua oknum polisi di antaranya yang dianggap melakukan pelanggaran disiplin.
"Ada 2 dua orang yang kita duga atau kita kenakan dalam proses disiplin maupun kode etik. Dimana, kami melihat ada salah seorang atas nama Bripda MF itu membersihkan darah dengan maksud agar tidak diketahui ada kejadian itu," ujarnya.
Selain itu ada oknum polisi berinisial Bripda MA yang juga berada di lokasi. Oknum polisi itu menyaksikan Bripda Dirja dianiaya senior namun memilih bungkam atas kejadian tersebut.
"Salah satu anggota yaitu Bripda MA, yang melihat kejadian itu tapi tidak melaporkan. Sehingga anggota itu kita kenakan dalam proses kode etik ataupun disiplin," tambah Djuhandhani.
Djuhandhani memastikan kasus ini akan diusut hingga tuntas baik pidana dan pelanggaran terhadap kode etik. Dia juga mengimbau personel lainnya untuk tidak melakukan kekerasan dengan dalih pembinaan terhadap junior.
"Upaya Direktorat Ditsamapta juga sudah dilakukan dengan memisahkan antara junior dan senior. Ketika junior masuk, seniornya sudah tidak ada yang tinggal di barak," pungkasnya.











































