Ratusan warga mengungsi akibat banjir yang menerjang rumah di BTN Kodam III, Kecamatan Biringkanaya, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), usai diguyur hujan selama 2 hari. Seorang warga menceritakan saat banjir masuk ke dalam rumah hingga membuatnya terpaksa mengungsi.
Hujan deras awalnya menerjang Makassar termasuk BTN Kodam III pada Senin (23/2/2026) malam. Intensitas curah hujan ternyata tidak berhenti sampai keesokan harinya pada Selasa (24/2).
"Awalnya itu hujan itu yang tidak berhenti dari Senin malam hujan terus sampai pagi. Selasa itu sampe na malam nda berhenti lagi (hujan)," kata warga bernama Audensi kepada detikSulsel, Rabu (25/2).
Audensi mengaku rumahnya di BTN Kodam III berada di bagian agak depan. Dia dan sekeluarga sudah was-was ketika hujan tidak kunjung reda.
"Kami kan tinggal agak depan sini, jadi kami mengikut ji saja. Kalau seumpamanya sudah bersatu air di jalanan, kami sudah siap-siap mengungsi," jelasnya.
Hujan yang terus turun akhirnya memicu banjir pada Selasa (24/2) sore. Audensi memutuskan mengungsi bersama keluarganya setelah mengamankan barang-barang di rumah
"Selasa sore itu air mulai naik di situ, sudah bersatu di jalanan, naik terus mi itu air. Saya mengungsi kemarin sudah buka (puasa)," tuturnya.
Audensi dan sekeluarga mengungsi di SD Paccerakkang Makassar. Dia mengungsi saat air belum terlalu tinggi merendam rumahnya.
"Air sudah masuk rumah, sebetis di jalan, sekarang sudah di atas paha. Kalau kita mau bertahan di rumah, susah WC, susah air bersih, apalagi ada anak-anak," ucapnya.
Dia mengaku total enam kepala keluarganya (KK) mengungsi di SD Paccerakkang. Audensi sempat diarahkan mengungsi ke sebuah masjid tetapi lokasi tersebut juga sudah penuh pengungsi lainnya.
"Kami ada enam KK, ini saudara semua, ada juga tetangga. Di rumah ada tiga (orang), ini adik saya di luar dengan kakak. Kami berhadapan ji rumahnya, satu lorong ji," tutur Audensi.
"Kemarin kami diarahkan ke masjid BTN Kodam 3, Masjid Nurul Ikhlas. Tapi kata Ibu RT sudah penuh, jadi kami minta di SD saja karena anak-anak banyak, kalau di masjid nanti orang salat atau puasa terganggu," tambahnya.
Audensi mengatakan keluarganya akan kembali ke rumah jika situasi sudah normal. Dia belum berani kembali ke rumah jika hujan masih mengguyur Makassar.
"Lebih baik keluar memang daripada tiba-tiba air naik, kita siap siap saja toh, wanti-wanti jangan sampai air naik, ternyata memang naik sampai sebetis, ke belakang itu lebih parah," jelasnya.
Dia mengakui BTN Kodam III sudah kerap menjadi langganan banjir. Sejumlah perabotan rumah tangga dan fasilitas elektronik sudah kerap mengalami kerusakan akibat banjir tahunan.
"Kalau masalah rusak-rusak sering mi kasihan. Mesin cuci, kursi, lemari tidak bisa mi dipakai. Plastik-plastik mami bisa dipakai, kalau yang kayu begitu dimakan air, cepat rusak," ujar Audensi.
Audensi berharap pemerintah bisa memberikan solusi mengatasi banjir tahunan di BTN Kodam III Makassar yang lokasinya berdekatan dengan sungai. Dia mengatensi soal perbaikan saluran air atau drainase di lokasi.
"Inikan jalanan semakin tinggi tapi got tidak ada. Jadi air tidak tahu mau lari ke mana, pastinya ke tempat yang rendah. Apalagi kami dekat dengan sungai di belakang yang sering meluap jadi pastinya kami dapat," jelasnya.
Simak Video "Mencoba Pakaian Adat dan Menikmati Keindahan Busana Tradisional Makassar"
(sar/ata)