Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), melaporkan korban banjir yang mengungsi tersisa 102 orang. Ratusan orang tersebut berasal dari Kecamatan Manggala yang tersebar di 3 titik pengungsian.
Berdasarkan data BPBD Makassar hingga Sabtu (28/2/2026) pukul 21.00 Wita, para pengungsi dari Manggala masih bertahan di tiga masjid yang menjadi lokasi pengungsian. Ketiga lokasi itu, yakni di Masjid Al Muttaqin 11 orang, Masjid Jabal Nur 77 orang dan Masjid Al Anwar 14 jiwa.
"Tiga lokasi pengungsian di Kecamatan Manggala sudah nihil, yakni Posyandu Anyelir, Masjid Al Mukarramah, Masjid Ar Raid," ucap Kepala Pelaksana BPBD Makassar M Fadli Tahar dalam keterangannya, Minggu (1/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara pengungsi banjir di Kecamatan Biringkanaya sudah nihil. Mereka sudah kembali ke rumah masing-masing sejak air sudah surut.
"Sedangkan di Kecamatan Biringkanaya sudah nihil. Tim TRC dan tim asesmen BPBD Makassar selalu siaga untuk melakukan pemantauan wilayah rawan banjir," tambah Fadli.
Diketahui, banjir di Makassar dilaporkan mulai terjadi pada Selasa (24/2). Bencana hidrometeorologi itu melanda Kota Daeng usai hujan deras yang mengguyur dalam dua hari terakhir.
Salah satu pengungsi bernama Audensi sempat mengeluhkan permukimannya menjadi langganan banjir tahunan sejak tinggal di BTN Kodam III mulai 2009 silam. Dia dan keluarganya bolak-balik mengungsi setiap hujan deras memicu banjir tiap tahun.
"Kalau (tinggal) di BTN Kodam itu 2009, tiap tahun sejak 2009 sudah banjir. Iya (selalu banjir) sudah lama. Dulu (pernah) sampai empat kali keluar (mengungsi), tahun 2024," tutur Audensi saat ditemui di lokasi pengungsian, Rabu (25/2).
Pada awal 2026, dia sudah dua kali mengungsi akibat banjir yang dimulai pada Januari lalu. Dia kala itu baru mengatur kembali perabot rumahnya yang sempat diamankan, namun banjir ternyata terjadi lagi pada Februari ini.
"Tahun ini juga kita dobel mengungsi, karena Januari dan ini (Februari terjadi banjir). Padahal sudah dikasih turun barang-barang," imbuh Audensi.
(sar/ata)











































