Perburuan terhadap Komandan Organisasi Papua Merdeka (OPM), Manfret Fatem berakhir usai ditembak mati pasukan TNI gabungan di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya. Manfret Fatem merupakan buronan kasus penembakan yang mengakibatkan dua TNI Angkatan Laut (AL) gugur pada Maret 2026 lalu.
Manfret Fatem menjabat sebagai Danops OPM Kodap IV/Sorong Raya. Manfret Fatem bersama kelompoknya teridentifikasi kerap terlibat dalam sejumlah aksi kekerasan di wilayah Papua Barat Daya dan sekitarnya yang menyasar warga sipil hingga aparat keamanan.
"Sejumlah kejadian tersebut menyebabkan korban jiwa dan luka-luka, serta turut memengaruhi rasa aman masyarakat, pelayanan publik, dan aktivitas pembangunan di beberapa wilayah," ujar Pangkoops TNI Habema Brigjen TNI Riyanto dalam keterangannya, Jumat (9/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu teror mencolok Manfret Fatem adalah terlibat penembakan maut terhadap dua prajurit TNI AL di Kampung Sori, Distrik Aifat Selatan, Minggu (22/3) lalu. Satu anggota marinir juga dilaporkan mengalami luka dalam insiden tersebut.
"Salah satu peristiwa yang dilaporkan terjadi di Kampung Sori, Kabupaten Maybrat, yang mengakibatkan dua personel Marinir meninggal dunia dan dua pucuk senjata api milik TNI dibawa oleh kelompok tersebut," ungkap Riyanto.
Satgas TNI gabungan belakangan mengidentifikasi keberadaan Manfret Fatem di kawasan hutan sebelah utara Kampung Kamat, Distrik Aifat Timur, Jumat (9/10). Prajurit TNI pun turun ke lokasi hingga terlibat kontak tembak dengan pelaku.
"Kontak tembak terjadi saat personel gabungan melaksanakan kegiatan pengamanan wilayah. Dalam peristiwa tersebut, tiga orang dari kelompok bersenjata OPM dilaporkan meninggal dunia di lokasi kejadian," ujar Riyanto.
Saat itu Manfret Fatem bersama bersama dua anak buahnya. Keduanya adalah Yesias Fatem dan Antonius Assem alias Anton Fatem yang disebut-sebut masih tergabung dalam struktur OPM Kodap IV/Sorong Raya.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan awal di lapangan, satu orang dari tiga korban telah teridentifikasi sebagai Manfret Fatem yang menjabat sebagai Danops OPM Kodap IV/Sorong Raya," ungkap Riyanto.
Riyanto menuturkan, dua orang lainnya masih dalam proses identifikasi dan pendalaman lebih lanjut oleh aparat. Kendati begitu, keduanya diduga kuat merupakan anak buah Manfret Fatem.
"Keduanya diduga terkait dengan struktur kelompok OPM Kodap IV/Sorong Raya, yaitu Yesias Fatem yang disebut menjabat sebagai Danyon Mosata Kodap IV/Soraya dan Antonius Assem alias Anton Fatem yang disebut menjabat sebagai Danyon Ayosami Kodap IV/Sorong Raya," paparnya.
Riyanto memastikan tidak terdapat korban dari pihak personel TNI dalam kontak tembak tersebut. Personel gabungan pun mengamankan tempat persembunyian pelaku di lokasi hingga menemukan sejumlah barang milik OPM pimpinan Manfret Fatem.
"Satu pucuk senjata api jenis AK 101, munisi kaliber 5,56 mm sebanyak 30 butir, munisi kaliber 9 mm, dua unit telepon seluler, atribut kelompok OPM, bendera Bintang Kejora, satu dokumen OPM, serta sejumlah perlengkapan pendukung lainnya," jelasnya.
Riyanto menegaskan, tindakan penegakan hukum ini dilakukan secara selektif, terukur, profesional. Pihaknya tetap mengutamakan keselamatan masyarakat termasuk personel yang bertugas di lapangan.
"Perkembangan lebih lanjut mengenai hasil operasi, identitas dua korban lainnya, serta situasi keamanan wilayah akan disampaikan setelah seluruh proses verifikasi dan pendalaman selesai dilaksanakan," jelasnya.
2 Jasad Anak Buah Manfret Fatem Hanyut
TNI menyita sejumlah barang bukti usai menembak mati Komandan OPM Manfret Fatem di Maybrat. (dok. Istimewa) |
Sementara itu, Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III, Letjen TNI Lucky Avianto menyebut Manfret Fatem tewas di tempat usai ditembak. Sementara dua anak buahnya, Anton Fatem dan Yesias sempat berupaya kabur.
"Anton Fatem dan Yesias Fatem yang mencoba melarikan diri ke Sungai Kamundan, Kabupaten Maybrat, juga tewas dalam pertempuran sengit melawan pasukan Satgas TNI," ungkap Lucky dalam keterangannya.
TNI yang melakukan penyisiran menemukan jasad Manfret Fatem bersama senapan mesin AK-101 beserta puluhan peluru tajam dan selembar bendera bintang kejora. Sementara dua jasad anak buah Manfret Fatem masih dalam pencarian.
"Jasad dua loyalis Manfret Fatem yang tenggelam ke dalam sungai saat ini masih terus dicari oleh pasukan Satgas TNI, dan di sekitar sungai kita temukan sepucuk senapan Caracal kaliber 5,56 mm serta beberapa barang pribadi milik Anton Fatem dan Yesias Fatem," paparnya.
Menurut Lucky, penindakan terhadap Manfret Fatem mengindikasikan adanya keretakan hubungan internal kelompok separatis tersebut. Manfret Fatem diduga telah ditinggalkan oleh para anggotanya yang lain.
"Diduga kuat Manfret Fatem beserta dua bawahannya telah ditinggalkan oleh para anggotanya sendiri yang kecewa atas sikap kepemimpinannya yang egois dan selalu mengorbankan anak buah demi menyelamatkan diri sendiri," jelas Lucky.
Simak Video "Video Detik-detik Evakuasi Pilot AMA di Yahukimo yang Tewas Ditembak KKB"
[Gambas:Video 20detik] (sar/sar)

