Kasus wanita bernama Elsanti Ibrahim alias Eca (21) yang mayatnya ditemukan tinggal kerangka di Kabupaten Boalemo, Gorontalo, masih menyisakan misteri. Jenazah yang diduga merupakan korban pembunuhan itu sempat dilaporkan hilang oleh keluarganya.
Perkara ini bermula dari penemuan mayat korban di kebun tebu Desa Bongo Tua, Kecamatan Paguyaman, Jumat (25/9/2026). Korban pertama kali ditemukan petani yang hendak memanen tebu.
"Kebetulan ada masyarakat atau petani tebu melakukan penebangan di perkebunan tebu, dan mereka menemukan pertama," kata Dirkrimum Polda Gorontalo Kombes Teddy Rachesna kepada detikcom, Sabtu (26/9).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Polisi awalnya belum mengetahui identitas jenazah tersebut. Polisi lalu melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengevakuasi kerangka manusia itu ke Rumah Sakit Bhayangkara (RS) Gorontalo.
"Tim melakukan pemeriksaan awal di lokasi dengan mendokumentasikan kondisi TKP, mengidentifikasi temuan serta mengumpulkan informasi dan barang bukti yang berkaitan dengan penemuan kerangka," bebernya.
Polisi yang melakukan pemeriksaan lantas menduga jenazah sisa kerangka merupakan Elsa alias Eca. Wanita tersebut sempat dilaporkan hilang tiga bulan lalu.
"Sehubungan ada laporan orang hilang tanggal 20 Juni 2026 atas nama Elsa Ibrahim alias Eca," ucap Teddy kepada wartawan, Minggu (27/9).
Hal itu diperkuat berdasarkan kecocokan dari hasil pemeriksaan dan identifikasi barang-barang milik korban. Sejumlah barang bukti itu diamankan dari 14 titik dalam radius 50 meter tempat kejadian perkara (TKP).
"14 titik berbeda bukan hanya kerangka ditemukan ada juga handphone, gelang tidak jauh dari lokasi di saluran irigasi dan didapat temuan, yaitu berupa handphone jenis merek Oppo seri A18 warna blue," tuturnya.
Teddy merincikan gelang berwarna keemasan itu dilengkapi dengan manik-manik. Polisi juga melakukan konfirmasi ke keluarga korban berdasarkan temuan barang tersebut.
"Ada juga gelang yang diklaim oleh iparnya Eca atas nama Lian, warna keemasan. Plus kita temukan potongan daster atau baju yang diduga digunakan terakhir oleh saudari Eca sebelum hilang," bebernya.
Teddy melanjutkan, potongan daster tersebut bermotif polkadot dan warna putih. Polisi juga telah berkoordinasi dengan keluarga korban terkait barang tersebut termasuk temuan handphone milik korban.
"Kami melaksanakan pengecekan atau konfirmasi melalui keluarga dari Eca berdasarkan dari keluarga maupun dari handphone yang ditemukan di Irigasi perkebunan tebu lokasi TKP," tambahnya.
Dia melanjutkan, aparat kepolisian sedianya telah melakukan pencarian sejak Eca sejak dilaporkan hilang. Teddy mengungkap ada dugaan polisi di balik kasus kematian wanita tinggal kerangka ini.
"Kami dari Polda Gorontalo, Polres Bolaemo terus melaksanakan upaya-upaya pencarian pada saat awal-awal hilang. Ada dua dugaan kami, yang pertama saudara Eca kabur dari rumah," terang Teddy.
Dugaan kedua adalah Eca diduga merupakan korban pembunuhan. Kendati begitu, pihaknya masih akan memeriksa saksi dan mengumpulkan bukti untuk mengungkap terduga pelaku.
"Kami sudah menerbitkan laporan polisi dugaan pembunuhan dengan dasar temuan kerangka ini di perkebunan tebu dan akan membuka tabir maupun penyelidikan untuk menemukan pelaku," jelasnya.
Polisi Masih Butuh Tes DNA
Polda Gorontalo saat konferensi pers terkait penemuan mayat wanita sisa kerangka di Boalemo. (dok. istimewa) |
Sementara itu, Kabid Dokkes Polda Gorontalo, AKBP dr. Dhiwangkoro Aji Kadarmo mengungkap, jenazah merupakan kerangka manusia yang tidak lengkap atau utuh. Kondisi jenazah sudah mengalami pembusukan.
"Untuk medis secara umum ini kami lakukan berdasarkan keilmuan forensik ini kami dapatkan bahwa kerangka manusia ini adalah berjenis kelamin perempuan," kata Dhiwangkoro kepada wartawan, Sabtu (26/7).
Dhiwangkoro menjelaskan, pemeriksaan terhadap kerangka menggunakan metode identifikasi sidik jari, catatan gigi dan DNA. Proses identifikasi juga dilakukan melalui temuan properti atau barang milik korban.
"Namun demikian di dalam kerangka yang kita temukan ini ada beberapa yang kita tidak lakukan, yaitu sidik jari, karena memang kita tidak menemukan adanya jari pada rangka manusia tersebut," tuturnya.
Kendati begitu, pihaknya masih membutuhkan tes DNA untuk mengidentifikasi jenazah. Pemeriksaan gigi geligi pada korban juga belum didapatkan karena membutuhkan data pembanding dari keluarga korban.
"Jadi ada dua sampel yang kita ambil, dari kerangka dan atau pembanding keluarganya. Insyaallah malam ini keluarganya akan datang untuk pengambilan sampel pembanding," jelas Dhiwangkoro.
Dhiwangkoro menegaskan, hasil tes DNA akan memastikan identitas korban. Hasil pemeriksaan akan keluar paling lambat sebulan.
"Proses hasil DNA itu mungkin kurang lebih sekitar 3 sampai 4 minggu. Hasilnya dari situ kita akan mendapatkan identitas yang pasti, insyaallah tidak terbantahkan dari situ hasil akan kita rilis," pungkasnya.
Simak Video "Video: Isak Tangis Keluarga Sambut Jenazah Reno yang Terbakar di Kwitang"
[Gambas:Video 20detik] (sar/sar)

