5 Atensi Serius Komnas HAM di Balik Pilot-Kopilot Smart Air Ditembak Mati KKB

Papua Selatan

5 Atensi Serius Komnas HAM di Balik Pilot-Kopilot Smart Air Ditembak Mati KKB

Tim detikcom - detikSulsel
Sabtu, 14 Feb 2026 07:21 WIB
Pesawat Smart Air ditembaki saat mendarat di Bandara Korowai Batu, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan. Pilot dan kopilot tewas.
Foto: Pesawat Smart Air ditembaki KKB saat mendarat di Bandara Korowai Batu, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan. (dok. istimewa)
Boven Digoel -

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengecam ulah kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang menembak pesawat Smart Air hingga pilot Egon Irawan dan kopilot Baskoro tewas di Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan. Komnas HAM pun memberikan 5 atensi serius terhadap peristiwa memilukan tersebut.

Diketahui, KKB atau kelompok sipil bersenjata (KSB) menembak pesawat Smart Air dengan nomor registrasi PK-SNR di Bandara Koroway Batu, Distrik Yaniruma, Boven Digoel, Rabu (11/2). Beruntung, 13 penumpang pesawat dilaporkan selamat.

Ketua Komnas HAM Anis Hidayah menegaskan, perbuatan KKB tidak bisa ditolerir karena melanggar hak hidup dan hukum humaniter internasional. Dia mendesak diberikan perhatian serius terhadap peristiwa ini salah satunya meminta aparat menindak para pelaku.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Komnas HAM mendesak dilakukannya penegakan hukum terhadap para pelaku kekerasan dan pembunuhan melalui investigasi yang profesional, transparan dan tuntas," kata Anis Hidayah dalam keterangannya, Jumat (13/2/2026).

Atensi kedua, Komnas HAM meminta pemerintah pusat dan daerah melakukan langkah-langkah perlindungan dan pemulihan bagi korban jiwa maupun luka. Upaya pemulihan kesehatan, psikologis, maupun pemberian kompensasi harus segera dilakukan.

ADVERTISEMENT

"Komnas HAM meminta pemerintah dan aparat keamanan untuk memastikan keamanan warga sipil pasca penyerangan termasuk menjamin perlindungan bagi para petugas pelayanan publik, baik tenaga pendidik, tenaga kesehatan, dan lain-lain," tuturnya.

Keempat, Komnas HAM mendesak KKB atau KSB agar menahan diri dan tidak melakukan kekerasan, serta mengutamakan penyelesaian permasalahan secara damai. Penggunaan cara-cara kekerasan tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun.

"Komnas HAM mengajak semua pihak untuk mengedepankan dialog demi terciptanya kondisi HAM yang kondusif di Papua," imbuh Anis Hidayah.

Guru dan Tenaga Kesehatan Mengungsi

Komnas HAM menilai tindakan KKB bisa berdampak pada lumpuhnya pelayanan dasar, seperti pendidikan dan kesehatan. Hal ini dikarenakan sejumlah guru dan tenaga kesehatan (nakes) dilaporkan mengungsi akibat teror para pelaku.

"Dampak dari peristiwa ini, sejumlah guru dan tenaga kesehatan dilaporkan mengungsi karena khawatir adanya eskalasi lebih lanjut. Kondisi ini dikhawatirkan mengganggu akses layanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan," jelas Anis Hidayah.

Komnas HAM juga menduga pelaku penembakan pesawat Smart Air pernah melancarkan berbagai aksi teror di Papua. Para pelaku diduga pernah menebar ancaman hingga mengakibatkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka batal berkunjung ke Yahukimo, Papua Pegunungan.

"Berdasarkan berbagai informasi yang dimiliki Komnas HAM, diduga kelompok yang sama melakukan berbagai teror dan kekerasan di antaranya penembakan pesawat komersial di Yahukimo pada 14 Januari 2026 yang menggagalkan kunjungan Wakil Presiden," bebernya.

Para pelaku juga dicurigai merupakan kelompok yang sama yang pernah melakukan aksi penembakan dan perusakan di SMP YPK Yakpesmi. Serangan KKB saat itu membuat pekerja bernama Daniel Datti (41) meninggal dunia.

"Serta membunuh seorang warga sipil bernama Daniel Datti yang berprofesi sebagai pekerja bangunan di SMP YPK Yakpesmi, Kabupaten Yahukimo pada 2 Februari 2026," tambah Anis Hidayah.

Sementara itu 9 guru dan nakes yang berasal dari Distrik Koroway, Boven Digoel, dilaporkan telah dievakuasi ke Jayapura, Papua, imbas penembakan pesawat Smart Air. Mereka tiba di Bandar Udara Internasional Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis (12/2) sekitar pukul 16.42 WIT.

"Kedatangan 9 tenaga pengajar dan medis ini merupakan langkah pengamanan diri pasca-aksi kebrutalan kelompok kriminal bersenjata," kata Kapolres Boven Digoel AKBP Wisnu Perdana Putra dalam keterangannya, Jumat (13/2).

Adapun rombongan yang dievakuasi terdiri dari 6 tenaga pengajar, yakni Aan Suek, Risa, Ema, Monik, Yonar, dan Nonik. Sementara 3 tenaga perawat medis, yakni Suster Grace, Rifal, dan Anton.

"Seluruh rangkaian kegiatan kedatangan berjalan dengan lancar, tertib, dan situasi tetap aman kondusif," papar Wisnu.

Hasil Olah TKP Penembakan Pesawat

Aparat kepolisian gabungan telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) penembakan pesawat Smart Air pada Kamis (13/12). Dari hasil pemeriksaan, pesawat ditembak KKB pimpinan Elkius Kobak saat baru mendarat di Bandara Koroway Batu dan hendak melanjutkan perjalanan ke Yahukimo.

"Saat pilot melakukan start engine, sekitar kurang lebih 20 orang pelaku muncul dari arah penginapan bandara dengan membawa senjata api dan melepaskan tembakan dari jarak sekitar 200 meter ke arah pesawat," kata Kepala Operasi Damai Cartenz, Brigjen Faizal Ramadhani, Jumat (13/2).

Para penumpang yang baru turun dari pesawat pun berlari menyelamatkan diri. Sementara pilot dan kopilot turut berlari menuju rumah warga di sekitar bandara, namun keduanya dikejar oleh para pelaku.

"Tidak lama kemudian, korban ditangkap dan dibawa kembali ke area landasan, lalu dilakukan penembakan terhadap oleh para pelaku," terang Faizal.

Hasil olah TKP juga mengungkap kondisi kerusakan pesawat akibat tembakan pelaku. Aparat gabungan menemukan 2 selongsong peluru dan 1 butir amunisi di landasan Bandara Koroway Batu.

"Dari hasil pemeriksaan fisik pesawat, ditemukan sebanyak 13 lubang bekas tembakan pada badan pesawat. Para saksi juga mengaku tidak mengenali para pelaku dan menduga bahwa pelaku bukan merupakan warga setempat," jelasnya.

Faizal menambahkan, sebanyak 33 mengungsi di Kepi, Kabupaten Mappi, dan 6 orang lainnya berada di Distrik Senggo, Kabupaten Mappi. Akses menuju lokasi kejadian hanya dapat ditempuh melalui jalur udara dan jalur sungai menggunakan perahu kecil (katinting).

"Olah TKP ini kami lakukan untuk memastikan setiap bukti, jejak, dan fakta di lapangan dapat terdokumentasi serta terverifikasi secara profesional. Hal ini sangat penting untuk memperjelas konstruksi perkara dan mendukung proses penyelidikan maupun penyidikan secara komprehensif," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Detik-detik Pesawat Smart Air Jatuh di Pantai Nabire"
[Gambas:Video 20detik]
(sar/sar)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads