Polisi Minta Pemkab Maluku Tenggara Rekonsiliasi Konflik di Kei Besar

Maluku

Polisi Minta Pemkab Maluku Tenggara Rekonsiliasi Konflik di Kei Besar

Muhammad Irwan - detikSulsel
Minggu, 13 Nov 2022 19:01 WIB
Bentrokan antarwarga di Maluku Tenggara, Maluku.
Istimewa Bentrokan antarwarga di Maluku Tenggara, Maluku. Foto: Dokumen
Maluku Tenggara -

Polda Maluku memberi atensi khusus terkait konflik antarwarga di Kecamatan Kei Besar, Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku. Pemkab Maluku Tenggara (Malra) diminta untuk mencari akar masalah dua kelompok warga di Desa Bombai dan Ohoi Elat untuk segera diselesaikan.

"Kedua kampung ini sering terlibat bentrok. Padahal upaya damai sudah dilakukan. Ini berarti akar masalah yang selama ini dipersoalkan kedua warga belum dituntaskan," kata Kabid Humas Polda Maluku, Kombes M Roem Ohoirat kepada detikcom, Minggu (13/11/2022).

Roem mengatakan, penyelesaian akar masalah harus dilakukan agar konflik tidak terus berulang. Dia menyebut ada Undang-undang Nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial yang bisa dijadikan acuan.


"Kami mendorong Pemkab Malra agar dapat menjadikan UU No 7 Tahun 2012 sebagai acuan dalam penanganan konflik. Yaitu mulai dari rekonsiliasi, rehabilitasi, dan rekonstruksi. Tentunya dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat," katanya.

Selain itu, Rum mengatakan pihaknya juga akan memberikan tindakan hukum kepada warga yang terlibat bentrok. Kendati demikian, ia tetap meminta akar masalah bisa dituntaskan.

"Tapi intinya kami berharap agar akar permasalahan di kedua kampung itu dapat diselesaikan," harapnya.

Diketahui, sepanjang tahun 2022 bentrok antara warga Bombai dan Ohoi Elat sudah dua kali terjadi, yakni pada 6 Oktober dan 12 November 2022. Saat konflik terjadi, banyak korban luka dan rumah terbakar.

Terakhir, bentrok terjadi antara warga Desa Bombai dan Desa Ohoi Elat pada Sabtu (12/11) dipicu pemasangan larangan adat atau sasi oleh warga Desa Bombai. Kemudian ditentang oleh warga Desa Ohoi Elat karena dianggap melewati batas.

"Sekitar pukul 7 pagi sekelompok warga dari Desa Bombai dan ada desa tetangga ikut memasang sasi. Sasi itu larangan adat di perbatasan," kata Roem dalam keterangannya, Sabtu (12/11).

"Kemudian ini sudah didengar dengan warga Desa Elat sehingga mereka juga mempersiapkan alat tajam," sambungnya.

Roem mengatakan, warga Desa Bombai yang tiba di lokasi pemasangan sasi membawa senjata tajam. Hal tersebut mengakibatkan bentrokan terjadi.

"Warga dari Desa Bombai tadi itu juga datang ke lokasi menggunakan alat tajam. Konvoi mereka," katanya.



Simak Video "Daerah yang Berpotensi Tsunami Usai Gempa M 7,9 Guncang Maluku"
[Gambas:Video 20detik]
(asm/ata)