Rekonstruksi Pembunuhan Pegawai Dishub

7 Fakta Baru Terungkap dari Rekonstruksi Eks Kasatpol PP Bunuh Najamuddin

Tim detikSulsel - detikSulsel
Sabtu, 21 Mei 2022 07:30 WIB
Eks Kasatpol PP Iqbal Asnan terungkap merencanakan pembunuhan Najamuddin di Balai Kota Makassar (detikSulsel/Darmawanti Adellia Adipradana)
Foto: Eks Kasatpol PP Iqbal Asnan terungkap merencanakan pembunuhan Najamuddin di Balai Kota Makassar (detikSulsel/Darmawanti Adellia Adipradana)
Makassar -

Tuntas sudah rekonstruksi kasus pegawai Dishub Najamuddin Sewang dibunuh atas perintah Kasatpol PP Makassar nonaktif Iqbal Asnan. Sejumlah fakta baru terkuat dari rekonstruksi.

Rekonstruksi berlangsung selama dua hari, yakni pada Kamis (19/5) dan Jumat (20/5). Sementara lokasi rekonstruksi berlangsung di sejumlah tempat sesuai kejadian.

Rekonstruksi awalnya dilakukan di rumah Rachma Dishub Makassar. Rachma adalah sosok yang menjadi pusaran cinta segitiga korban dan tersangka Iqbal hingga berujung pembunuhan.


Rekonstruksi juga berlanjut ke kediaman korban hingga ke rumah-rumah dari sejumlah tersangka. Rekonstruksi juga berlangsung di lokasi penembakan maut dan sejumlah lokasi lainnya.

Dirangkum detikSulsel, Sabtu (21/5/2022), berikut 7 fakta baru yang terungkap dari rekonstruksi.

1. Pembunuhan Bermula dari Rumah Rachma

Rumah Rachma di Perumahan Grand Aroepala Blok H 19, wilayah Kelurahan Tamangapa Raya, Kecamatan Manggala, Kota Makassar rupanya menjadi cikal bakal pembunuhan terjadi. Hal ini terungkap dalam rekonstruksi.

Saat rekonstruksi, tersangka Iqbal Asnan dan bawahannya tersangka Asri terlibat pertemuan. Keduanya sempat terlibat perbincangan.

Polisi menjelaskan, Iqbal Asnan terbakar cemburu karena menemukan Rachma dan korban bersama. Untuk itulah dia sempat memanggil Asri ke rumah Rachma.

"Di situ (rumah Rachma) mulai terbakar api cemburu," kata Kasat Reskrim Polrestabes Makassar AKBP Reonald Truly Sohomuntal Simanjuntak kepada wartawan, Jumat (20/5).

2. Bawahan Eks Kasatpol PP Lempar Santet

Polisi pada konferensi pers penetapan tersangka beberapa waktu lalu menjelaskan bahwa Iqbal mengirim santet kepada korban. Dalam rekonstruksi terkuak fakta baru bahwa Iqbal rupanya mengirim santet tersebut melalui perantara bawahannya yang bernama Muhammad Asri.

Rekonstruksi menunjukkan Asri bersama saksi Sahabuddin berboncengan motor melintas di depan rumah korban. Asri yang dibonceng melempar botol berisi ari minum ke teras rumah korban.

Setelah melewati rumah korban, Asri turun dari motor dan mengambil alih kemudi. Selanjutnya Sahabuddin duduk di belakang dan Asri mulai memutar balik motornya dan kembali melintas di depan rumah korban.

Saat melintas, giliran Sahabuddin yang melemparkan sebutir telur ke arah teras korban. Selanjutnya Asri memacu kendaraan untuk pergi meninggalkan rumah korban.

3. Eks Kasatpol PP Atur Pembunuhan di Balai Kota Makassar

Iqbal Asnan rupanya mengatur pembunuhan korban di Kantor Balai Kota Makassar. Rekonstruksi menunjukkan Iqbal bertemu oknum anggota Brimob Polda Sulsel Sulaiman di ruangan Kasatpol PP alias ruangan Iqbal.

Iqbal menyampaikan kepada Sulaiman bahwa istri sirinya, Rachma kerap diganggu korban. Iqbal mengaku sudah kerap memperingatkan korban tapi tak digubris.

Iqbal kemudian meminta Sulaiman mengeksekusi korban. Sulaiman tak menyanggupi, namun dia menunjuk rekannya di Brimob Polda Sulsel, Chaerul Akmal untuk menjalankan misi membunuh korban.

"Kamu mau saya suruh eksekusi," kata Iqbal Asnan seperti dilihat dalam teks adegan rekonstruksi.

Pembicaraan di ruangan Iqbal Asnan juga sempat berpindah ke sebuah tempat santai di belakang ruangan Kasatpol PP Makassar. Di tempat ini, Iqbal kembali mengatur misi membunuh korba bersama bawahannya Asri.

4. Duit Rp 20 Juta Untuk Operasional Solar Dipakai Iqbal

Iqbal Asnan rupanya juga menggunakan uang operasional solar Satpol PP Makassar Rp 20 juta dalam kasus pembunuhan korban. Iqbal kemudian menyerahkan Rp 20 juta kepada Asri.

Jaksa wanita yang juga ikut memantau rekonstruksi menghampiri Asri. Sang Jaksa bertanya perihal asal-usul Rp 20 juta itu untuk apa sebenarnya.

"Operasional ibu," jawab Asri kepada jaksa dalam rekonstruksi kasus.

Asri lantas kembali dicecar soal operasional apa yang dimaksud oleh tersangka Asri. Tersangka Asri kemudian menjawab uang operasional solar.

"Operasional solar," kata Asri.

Namun seperti terungkap dalam rekonstruksi, uang Rp 20 juta itu ternyata diberikan tersangka Asri kepada tersangka Sulaiman di depan rumah Iqbal Asnan di Jalan Kumala, Makassar atas perintah Iqbal

Asri diketahui memberikan uang Rp 20 juta ke tersangka Sulaiman di depan rumah Iqbal di Jalan Andi Kumala, Makassar. Uang itu pun diserahkan ke sebuah tepi jalan.

Reka adegan rekonstruksi menunjukkan uang Rp 20 juta dibungkus dengan kertas putih. Setelah pemberian uang itu dilakukan, Asri dan Sulaiman kembali ke dalam rumah Iqbal.

5. Upaya Oknum Polisi Hilangkan Barang Bukti

Rekonstruksi juga menunjukkan dua oknum anggota Brimob Polda Sulsel masing-masing mencoba menghilangkan barang bukti pembunuhan. Kedua oknum itu adalah Chaerul Akmal dan Sulaiman.

Chaerul Akmal selaku eksekutor pembunuhan mencoba menghilangkan barang bukti jaket yang dikenakannya saat membunuh korban dengan cara membuangnya ke sebuah tanggul. Jaket kuning itu dibuang ke Tanggul Patompo.

Sementara oknum polisi Sulaiman, terungkap mencoba menghilangkan barang bukti pistol. Pistol ini dibawa Sulaiman ke rumahnya di Pangkep dan ditanam ke tanah.

6. Oknum Polisi Penembak Najamuddin Dijanjikan Rp 200 Juta

Polisi mengatakan Chaerul Akmal selaku oknum Brimob yang menembak mati Najamuddin Sewang dijanjikan Rp 200 juta oleh Iqbal. Namun Iqbal baru membayar Chaerul Akmal Rp 90 juta.

"Dijanjikan Rp 200 juta tapi baru dibayar Rp 90 juta," ujar Kasat Reskrim Polrestabes Makassar AKBP Reonald Truly Sohomuntal Simanjuntak, Jumat (20/5/2022).

Dari upah Rp 90 juta yang dibayarkan di awal, penyidik hanya menyita barang bukti Rp 85 juta. Sementara sisanya sudah digunakan pelaku Chaerul Akmal.

"Rp 90 juta namun yang kami dapatkan sisa Rp 85 juta," kata Rheonald.

7. Oknum Polisi Penembak Najamuddin Dibayar di Markas Brimob

Chaerul Akmal terungkap menemui Sulaiman di Markas Brimob Polda Sulsel usai menembak mati korban. Sebagai tanda tugasnya selesai, Chaerul mengembalikan pistol milik Sulaiman.

Sebaliknya, Sulaiman menyerahkan upah Rp 90 juta kepada Chaerul Akmal yang mana sebelumnya dijanjikan Rp 200 juta. Upah Rp 90 juta rupanya diberikan Sulaiman kepada Chaerul Akmal di belakang Asrama Brimob.

Namun untuk diketahui, polisi tak menggelar rekonstruksi kasus ini Markas Brimob. Polisi menggunakan Polsek Tamalate sebagai lokasi pengganti.



Simak Video "Rekonstruksi Detik-detik Penembakan Petugas Dishub Makassar"
[Gambas:Video 20detik]
(hmw/nvl)