Orang Bugis-Makassar dalam menggunakan bahasa Indonesia memiliki dialek tersendiri. Yakni penempatan M, N, NG yang terkadang tidak sesuai.
Sebagai contoh, kata-kata yang biasanya mengalami perubahan akhiran antara lain ikan menjadi ikang, sayang menjadi sayan, dan baskom menjadi baskon. Namun, perubahan akhiran dari ketiga huruf tersebut, akhiran "NG" lebih dominan digunakan oleh orang Bugis-Makassar seperti pada ucapan "makan ikan" akan berubah menjadi "makang ikang".
Penempatan M, N, dan NG yang tidak tepat ini disebut dengan istilah okkots. Meski tidak sesuai, hal ini justru menjadi salah satu ciri khas orang Bugis-Makassar.
Lantas, mengapa orang Bugis-Makassar susah menempatkan akhiran M, N, dan NG dengan tepat?
Dosen Sastra Daerah Bugis-Makassar dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr. Firman Saleh menjelaskan orang Bugis-Makassar memang cenderung susah membedakan akhiran M, N, dan NG. Tepatnya akhiran dengan bunyi sengau.
"Jadi orang Bugis-Makassar memang tidak bisa membedakan M, N, dan NG. Nah itu dalam ilmu Bahasa disebut bunyi sengau," jelas Firman kepada detikSulsel, Selasa (30/8/2022).
Firman menjelaskan cara berbicara orang Bugis-Makassar ini dipengaruhi oleh bahasa daerah. Sehingga menjadi khas dari orang Bugis-Makassar ketika menggunakan bahasa Indonesia akan mengalami okkots atau perubahan akhiran yang berbunyi sengau.
"Yah itu pengaruh bahasa daerah dan itu menjadi ciri khas akhirnya. Orang Bugis-Makassar itu menggunakan akhiran hampir semua nya NG," tambah Firman.
Firman mengatakan kecenderungan orang Bugis-Makassar lebih banyak menggunakan akhiran NG karena pada bahasa daerah Bugis dan Makassar tidak memiliki akhiran N dan M. Namun, terdapat beberapa kosa kata bahasa daerah Bugis-Makassar yang menggunakan akhiran NG.
Kosa kata dalam bahasa Bugis yang berakhiran NG seperti Madodong yang artinya lemas atau lemas, kemudian Masolang yang berarti rusak. Bahasa Makassar juga memiliki sejumlah kata yang berakhiran NG salah satunya Tallang yang berarti tenggelam.
Tetapi baik bahasa Bugis maupun Makassar tidak memiliki akhiran N dan M. Sehingga saat bahasa Indonesia masuk dengan sejumlah kosa kata yang memiliki akhiran M dan N, membuat warga Bugis-Makassar bingung.
"Dalam bahasa Bugis dan Makassar itu tidak ada akhiran N dan M. Jadi saat menggunakan bahasa Indonesia mereka bingung dan terpengaruh dengan bahasa lokal. Seperti mengucapkan minum jadi minung, makan dia bilang makang. Karena memang dia tidak ada akhiran N dan M dalam bahasa daerahnya," jelas Firman.
Selanjutnya okkots tidak hanya pada pengucapan tapi juga tulisan...
(alk/nvl)